9

6.6K 485 17
                                    

Happy Reading semuaaa~

...

👶👶👶

"Siap untuk sekolah?"

"Siaaappp." jawab Attalariick dengan nada riang, kekehan kecil yang keluar dari mulut si kecil membuat daddy dan para saudara yang lainnya terharu, karena semenjak perubahan Attalariick, adik mereka itu jarang bicara dan jarang tersenyum.

"Adek jangan memaksakan diri yah." Attalariick mengangguk saja mendengarnya, oh ya, sekarang ia akan di antar oleh daddynya. Sebenarnya para abangnya tak setuju tapi Alger tetap teguh dengan ucapannya.

Attalariick duduk di pangkuan daddynya yang sedang duduk di kursi penumpang, karena memang ada supir khusus yang menyetir.

"Daddy." panggil Attalariick pelan untuk yang pertama kalinya, meski ada rasa gugup saat mengucapkan kata asing itu.

"Iya? Kenapa sayang?" jawab Alger senang, karena akhirnya anaknya itu memanggilnya dengan suara lembutnya.

"Atta udah besar."

"Iya adek udah besar, tapi adek tetep bayinya daddy." jawab Alger seraya mengelus surai Attalariick.

"Kenapa Atta di panggil adek? Kan adeknya Al bukan Atta." protes si kecil dengan nada lucunya, tapi tetap saja suara Attalariick itu kecil.

"Kamu juga adek, kamu kan punya abang."

Attalariick diam, benar juga sih, tapi yang jadi masalahnya, Albert pun yang merupakan bungsu di keluarganya memanggilnya dengan sebutan adek, secara logika kan ia abangnya, bukan Albert.

"Gapapa, tapi adek suka kan?"

"Iyahh." jawabnya lirih.

Benar, tak bisa di pungkiri ia menyukai panggilan tersebut, ia suka ketika ia mendapat banyak cinta dan kasih sayang dari mereka.

Satu pertanyaan yang bersarang di otak kecilanya, kenapa jiwa Attalariick yang asli pergi? Padahal dia sudah mendapatkan banyak cinta dan kasih sayang.

👶👶👶

"Gak mau tidur lagi?" tanya Dean.

Attalariick menggeleng saja sebagai jawabannya, meskipun ia mengantuk tapi tidur di jam pelajaran itu tidak boleh, begitulah aturan sekolahnya dulu.

"Beneran?" tanya Dean memastikan.

"Iyaaa." jawab Attalariick yakin.

Lalu setelahnya mereka fokus pada guru yang sedang menjelaskan pelajaran di depan, tapi mata Attalariick tertutup-tutup beberapa kali, dan itupun tak lutut dari pandangan Dean.

"Tidur aja yah." ujar Dean sekali lagi.

Attalariick menggeleng, ia tetap tidak akan tidur samapai jam istirahat, ia juga bingung, dirinya pernah tidur di kelas tapi kenapa guru tidak ada yang menegur, padahal itu perbuatan salah karena tak mendengar penjelasan guru.

Setelah sekian lama, akhirnya bel istirahat berbunyi juga, ia segera menyimpan buku pelajarannya kedalam tas, lalu tak lupa ia mengeluarkan susu dan bekalnya yang berupa sandwich.

Sekarang ia tinggal menunggu kedatangan kakak kembarnya yang akan menjemputnya ke kelasnya untuk pergi ke kantin bersama.

"Adeeekk."

Arsel melambaikan tangannya tinggi-tinggi ke arah Attalariick, mereka berdua masuk ke dalam kelas sang adik untuk menjemputnya.

"Sini mana bekalnya biar abang bawain." ujar Arsel.

"Kok susunya masih ada?" heran Arsel saat Attalariick menyerahkan kotak bekal dan botol susunya.

"Dia gak mau tidur." jawab Dean yang langsung melirik Attalariick dengan pandangan tajam.

Si empu menunduk takut, apa salahnya coba? Ia kan sudah melakukan hal benar, tapi kenapa seolah-olah ia yang salah? Di tatap tajam oleh kedua kakaknya mampu membuat Attalariick berkaca-kaca.

"Udah, adek kalian mau nangis." Dean mengusap bahu Attalariick.

Ansel dan Arsel menghembuskan nafas pelan, "it's okay Attalariick, gapapa." seru Ansel dengan lembut.

"Adek ayo ke kantin." ajak Arsel, Attalariick berdiri tapi masih menundukkan kepalanya, dengan mudah, Ansel menggendong Attalariick begitu saja, karena ia tahu Attalariick pasti akan menangis.

Ah, adiknya yang cengeng sangat menggemaskan.

👶👶👶

Mereka sudah sampai di kantin dan berjalan ke arah para temannya berada, setelah sampai, Attalariick di duduk kan antara Ansel dan Arsel, sebenarnya mereka berdua menawarkan dirinya untuk di pangku, tapi ia tak mau.

"Ar, gue ada kenalan baru, anak kelas 10." seru Davin yang di tanggapi antusias oleh Arsel.

"Eh cewek lo yang bejibun mau di kemanain?" heran yang tak habis pikir dengan jalan pikiran temannya itu.

"Ya gue jadiin serep buat siaga."

"Di pikir ban serep." celetuk Reyhan.

"Iri bilang aja, jomblo." ejek Arsel dengan wajah tengilnya yang membuat Reyhan memasang wajah masam.

"Lah gua mah ganteng." Reyhan menyugar rambutnya ke belakang, dengan gaya gantengnya.

"Idiiiihhh." cibur Davin jijik dengan ekspresi Reyhan.

Suasana ramai, tapi tak mengganggu seorang Attalariick yang memakan sandwich nya dengan terkantuk-kantuk, mulutnya penuh sampai-sampai kedua pipinya mengembung, tapi tak di kunyah, melainkan mengantuk, sedang kedua tangannya masih memegang sandwich.

"Ngantuk berat ya cil." celetukan dari deo membuat atensi mereka teralihkan pada sosok manusia kecil di antara mereka.

Attalariick kembali tersadar, lalu ia kembali mengunyah, tapi tak sempat menelan, ia sudah kembali mengantuk lagi, membuat siapa saja yang melihat akan memekik gemas, sama seperti mereka yang melihatnya sekarang.

"Avv gemesnya aw aw." Davin mengigit bibir bawahnya dengan tangannya yang sudah meremas pundak Reyhan.

"Gak bisa, gak bisa, gue gak tahan." gereget deo.

Arsel mati-matian agar tidak menerjang sang adik, tangannya mengambil alih sandwich dari tangan adiknya.

"Hey, kunyah dulu sayang, baru boleh tidur." suara Ansel mampu menyadarkan Attalariick dari kantuknya, dengan segera is mengunyah sandwich di mulutnya lalu menelannya, setelahnya ia merasa tubuhnya terangkat.

Ansel mendudukkan Attalariick pada pangkuannya dengan sang adik yang menghadap ke arahnya, ia sandarkan kepala sang adik pada dadanya, lalu menyumbat mulut si kecil dengan dot.

👶👶👶

Aku udah janji double up yah

Aduh gimana brayyy?

Seru gak?

Sorry deh kalo typo yah.

Suka gak sih kalian sama ceritanya? Kalo suka jawab yah😆

Di tunggu vote sama komennya ya guys

Papai😘

ADEEEEKKTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang