Mobil Naruto memasuki areal rumah sakit. Shion diturunkan dari mobil untuk dinaikkan ke belakar. Kepala bayi masih nyantol di jalan lahirnya. Naruto juga menuruni mobil dan ikut mendorong belakar Shion. Tampak tetesan darah di dada dan lengan baju Naruto. Shion tak sadarkan diri dan membuat kesibukan di area UGD dan akhirnya Shion dimasukan dalam ruangan. Naruto tertahan di lorong karena dokter tak mengijinkannya masuk.
"Lalkukan apa saja untuk menyelamatkan istri saya, dokter. Aku mohon."
Dokter mengangguk. Dokter masuk dan Naruto menunggu di luar. Bersimpuh
Dan menangis tersedu.
Sementara itu, Hinata menangis sendirian di taman belakang gedung berlangsungnya pesta. Hideo mecwrinya, dan menemukannya duduk di bangku dekat air mancur.
"Ibu," panggilnya.
Hinata menoleh lalu berusaha menghapus air.matanya dan tersenyum. "Hideo... Bagaimana ? Sudah bertemu profesormu?"
"Sudah, Bu."
"Ah, syukurlah. Maafkan Ibu. Ibu membuatmu malu pasti."
"Ibu," Hideo berjongkok di depan Hinata dan menggenggam tangannya. "Jangan bicara seperti itu. Ibu adalah orang tuaku satu-,satunya. Hideo sayang Ibu."
Hinata menangis sesenggukan. Hideo lalu duduk di sampungnya. Memeluknya.
"Maafkan Ibu. Ibu selama ini terlalu gegabah dalam hidup ibu. Membuatmu terusir dari ayahmu, dari negeri kita. Semua karena satu kesalahan ibu. Sebuah kesalahan ysng menjauhkan kita dari lingkungan terhormat dan terlunta-lunta sebagai imigran"
"Ibu, sudahlah. Kita sudah melewati semua itu. Kita sudah punya Fijiglass. Sebentar lagi aku skan lulus. Jadi dokter dan membuat ibu bangga."
Hinata mrngelus pipi Hideo,"Kau memang anak ysng baik, Nak."
"Sudahlah, Bu. Bagaimana kalau kita pulang saja. Bukankah masalah katering sudah diurus oleh orang kepercayaan Ibu?"
"Ya, kau benar. Itu sudah terurus. "
"Kalau begitu, Hapus air mata dan ayo pulang."
Hinata terseyum geli,"Baiklah."
Hideo berdiri lalu mengulurkan tangannya. Hinata menyambut tangan itu dan berdiri. Keduanya berjalan menuju pesta untuk keluar dari gedung.
Sampai di tengah ruangan. Rupanya dansa telah dimulai. Hideo langsung menarik tangan Ibunya ke lantai dansa. Hinata terkejut karena dia ada di tengah dansa dan Hideo mulai menari dan memberi aba-aba agar ibunya ikut menari. Hinata jadi melakukan gerakan seperti yang lain, berbaris dengan para wanita, menatap para pria yang tak lain adalah Hideo. Barisan pria dan barisan wanita bertemu di tengah lalu mereka berjalan masing-masing dalam lingkaran berpaasangan.
"Kau seharusnya menarik lengan seorang gadis, alih alih ibumu ini, Hideo."
"Sama saja. Ibu adalah wanita tercantik yang pertama kali kulihat."
Hinata tertawa. Mereka tetap berdansa. Hideo memutar tubuh Hinata. Hinata tampak menikmati hingga kesedihannya menghilang. Lalu di gerakan memutar berikutnya, Hideo seperti agak mengangkat tubuh Hinata. Hinata menjerit bahagia. Mereka bergerak hingga keluar dari lantai dansa menuju arah pintu keluar. Hinata tertawa dan berkata,"Cukup... cukup....kau membuat ibu pusing."
Hideo terkekeh. "Maaf, Bu. Ibu bahagia kan sekarang."
"Ya, tentu. Bahagia tapi juga pusing karena kau putar-putar terus. Oh, kau harus menuntunku menuju mobil kita."
"Oke, oke. BU. Hideo tuntun Ibu."
"Oke,"
Hideo merangkul lengan Hinata. Mereka menuju ke area parkir.
