Naruto turun dari mobil setelah bilang pada sopir untuk menjemputnya satu jam lagi. Dia memandangi restoran di depannya. Restoran tempat mantan istrinya mencari uang untuk menghidupi diri sendiri dan anak-anaknya. Tanda bahwa wanita itu semakin mandiri.
Sangat kontras dengan kondisi Hinata sembilan belas tahun yang lalu. Saat itu, Hinata pertama kali menginjakkan kaki di London. Hinata bahkan masih menggunakan kimono. Bahasa Inggris pun masih belum lancar. Hideo dan Boruto masih kecil dan dia fokus merawat kedua anaknya. Tidak memperhatikan penampilan dan menjadi bahan olokan dari almarhum nenek Naruto.
Dan lihatlah wanita itu sekarang. Naruto bisa melihatnya duduk di dekat jendela. Dia mengawasi rutinitas kinerja di restonya sambil menata menu dan keuangan resto. Mungkin saja Hinata memilih tempat itu karena dia anggap strategis untuk mengawasi. Namun tempat itu benar-benar tepat karena Naruto bisa tahu bahwa Hinata ada di restoran sebelum Naruto memasuki tempat itu.
Perlahan Naruto memasuki restoran. Pelayan langsung menyambutnya dengan menerima mantelnya untuk disimpan dan pelayan lain menghantarkan ke kursi kosong yang nyaman. Namun dengan gerakan tangannya, Naruto memberi isyarat bahwa dia menginginkan tempat lain.
Pria itu malah berbelok ke arah Hinata. Berdiri di depannya dan wanita itu masih sibuk dengan pekerjaannya. Hinata yang melihat ujung sepatunya akhirnya mendongak.
"Apakah restoran ini memang tidak memiliki ruangan untuk pemilik?"
"Uzumaki-san, oh... Shion?" Kepala Hinata malah bergerak mencari keberadaan Shion. "Anda tidak bersama Shion?"
"Shion belum datang?"
Hinata menggeleng.
"Aku kemari karena kami berjanji makan siang di sini. Seharusnya kemaren tapi karena Sara datang, kami urung ke sini. Aku tidak bisa bolos sehingga ke sini dari toko. Katanya Shion akan berangkat dari rumah. Jadi dia belum datang?"
Hinata menggeleng. "Mungkin memang belum sampai. Tunggulah dulu sambil memesan menu sehingga makanan sudah siap ketika Shion datang."
"Baiklah,"
"Oh, ya. Shion biasanya memilih duduk di sofa itu."
Hinata menunjuk sofa di depannya. "Silahkan duduk di situ."
"Baik, ehm.. pelayan, saya pesan tempat yang itu."
Pelayan mengangguk dan segera menyiapkan meja.
"Hinata, sebenarnya ada yang ingin kubicarakan."
"Ya?"
"Boleh aku duduk?" Naruto menunjuk kursi di depan meja Hinata.
"Silahkan."
Naruto pun duduk. Dia menatap Hinata lalu bertanya,"Kau bersikap formal denganku sekarang."
"Formal? Maksudnya?"
"Kau memanggilku Uzumaki-san."
"Lalu saya harus memanggil anda apa?"
Naruto gusar. Hinata memang dari dulu bersikap menghormatinya. Bahkan dia tidak pernah mendengar Hinata memanggil namanya. Dulu, Hinata memanggilnya "anata" namun bukankah tidak mungkin panggilan itu keluar dari mulut Hinata untuk saat ini?
"Ehm, maksudnya... tidak perlu seformal itu. Oh iya... tentang kejadian di pantai. Aku minta maaf. Aku hanya kuatir. Hari sudah sore tapi Shion tidak di rumah. Sopor berkata kalau dia ke resto dan pemiliknya membawanya pergi. Aku segera menjemput ke pantai. Dia hampir keguguran dan itu membuatku selalu mencemaskannya."
"Saya mengerti."
"Oh ya... Kensi ada di rumahku sekarang. Dia bertemu Hideo dan bersedia pulang karena bujukan Hideo. Aku juga ingin berterima kasih tentang ini."
