Sera merapikan blazer cokelat yang ia kenakan. Hari ini ia sudah resmi resign dari kedai kopi milik Rafael. Shayne memintanya untuk berhenti bekerja dan fokus pada persiapan pernikahan mereka yang tinggal beberapa Minggu lagi.
Hari ini, ia akan pergi bersama Shayne. Sera meraih tas dan ponselnya. Melangkah keluar dan mengunci pintu kamarnya. Mungkin ia akan pulang lebih sore hari ini.
"Ra lo yakin?" Sabrena menghentikan langkah Sera di ujung tangga.
Sera menatap Sabrena dan tersenyum tipis. "Gue udah bertekad buat nggak peduli lagi sama dia. Gue mau fokus sama Shayne."
"Iya gue tahu Ra. Tapi lo liat sendiri keadaannya, kan? Dia kayak gitu karna lo. Oke gue emang benci sama dia karna dia ninggalin lo dulu. Tapi, lo nggak ngerasa bersalah liat dia... koma?" Sabrena kembali bertanya.
Sera memejamkan matanya dan melepaskan napas berat. Ia bingung dengan sifat Sabrena sekarang. Padahal sebelumnya, Sabrena yang paling semangat agar ia melupakan Nathan dan menerima Shayne. Lalu, kenapa sekarang Sabrena yang memaksanya untuk kembali menemui Nathan?
"Maksud lo apaan sih Sab? Dari awal lo yang minta gue buat lupain Nathan dan Nerima Shayne. Gue udah ikutin mau lo kan? Gue udah lupain Nathan dan Nerima Shayne. Terus kenapa sekarang lo malah maksa gue buat nemuin Nathan? Dia koma juga karena kemauannya sendiri. Dia yang nyakitin dirinya sendiri." Sera kembali melangkahkan kakinya. Tidak memperdulikan Sabrena yang menatapnya dengan wajah sedih.
Sera beberapa kali memejamkan mata dan menarik napas menahan sesak di dadanya. Semalam, Sabrena menunjukkan foto Nathan yang baru saja di kirim Anne. Dan di foto itu, Anne bilang Nathan baru saja mengalami kecelakaan dan di rawat di ICU. Itu bukan salah Sera, kan? Nathan sendiri yang melukai dirinya sendiri. Sera tidak pernah meminta Nathan untuk melakukan hal nekad itu.
"Nathan selalu ngerespon setiap ada yang nyebutin nama lo, Ra!" Sabrena kembali berucap dengan tegas. Ia berharap Sera mau mengerti.
Sera menggeleng samar. Sama sekali tidak menghentikan langkahnya dan tetap meninggalkan Sabrena. "Nanti kuncinya taruh di pot. Gue pergi dulu." Ucap Sera sebelum akhirnya keluar dari pintu rumahnya.
Kini Sera sudah membulatkan tekadnya untuk tidak lagi peduli semua hal tentang Nathan. Meskipun sejujurnya masih ada sedikit rasa khawatir untuk Nathan.
***
Anne menempelkan ponselnya pada telinga. Menerima telepon dari Sabrena. Anne tersenyum miris mendengar penuturan Sabrena tentang sikap tidak peduli Sera pada keadaan Nathan sekarang.
"Dia bener-bener nggak mau datang, Sab? Nathan butuh dia." Anne bertanya seraya mengusap wajahnya yang terasa kusut.
'Gue udah coba, Anne. Tapi, Sera bener-bener nggak peduli. Sera bilang semua itu kemauan Nathan.'
Anne melepaskan napas berat. Menepis lagi air matanya yang tidak berhenti sejak tadi. Anne benar-benar ingin Sera datang kesini untuk Nathan. Nathan benar-benar membutuhkan Sera. Setiap ada yang menyebut nama Sera, Nathan selalu merespon sejak semalam. Entah, itu hanya menggerakkan sedikit jemarinya.
"Tolong, Sab Tolong bujuk Sera lagi. Nathan bener-bener butuh dia."
'Gue bakal usahain.'
Anne mengangguk dan tersenyum tipis. "Makasih." Anne memutuskan sambungan teleponnya dengan Sabrena.
Anne kembali beranjak. Melangkah menghampiri pintu ICU dan hanya bisa diam melihat Nathan dari luar. Sekarang, Anne tahu kalau Nathan benar-benar mencintai Sera dengan tulus. Buktinya, Nathan berani menyakiti dirinya sendiri hanya untuk menunjukkan pada Sera bahwa Nathan benar-benar mencintai Sera.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bruiden Die Falen
FanfictionShort Story Just Fanfiction! Ditinggalkan kekasih hati di saat hari pernikahannya membuat Sera Nadira harus menerima kenyataan pahit menanggung malu dan sakit hati yang begitu mendalam. Kekasihnya pergi begitu saja tanpa meninggalkan sepatah katapu...
