"Gimana, Ann? Apa sudah ada perkembangan?" Melinda yang baru saja datang dan meletakkan sekeranjang buah segar di atas meja bertanya seraya mengusap puncak kepala Anne.
Anne tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. "Belum, Ma. Masih sama kayak biasanya."
Melinda menghela napas. Dan menarik kursi lainnya. Terduduk di samping Anne dan menggenggam tangannya. Melinda menatap Anne dengan tatapan iba. Dan sesekali tatapannya beralih pada Gio yang sedang tertidur lelap di atas sofa marun di dekat jendela.
"Tolong maafin Nathan ya?" Lirih Melinda
"Maaf buat apa, Ma?" Anne bertanya dengan senyum yang sedikit lebih lebar. Mencoba menyembunyikan perasaannya dari hadapan Melinda.
Melinda kembali tersenyum tipis. "Karna sampai saat ini, Nathan masih mencintai Sera dan Nathan seperti ini juga karena Sera. Mama juga nggak nyangka kalau Nathan akan senekad ini." Lirih Melinda lagi.
Anne kembali tersenyum dan membalas genggaman tangan Melinda. Sejujurnya sekarang ia sudah tidak memperdulikan semua itu. Yang Anne pikirkan hanya kesembuhan Nathan. Ia yakin, jika Tuhan mentakdirkan Nathan sebagai jodohnya. Mau sekuat apapun Nathan menolaknya dan lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya pada Sera. Nathan tetap akan menjadi miliknya.
"Mama nggak usah minta maaf. Cinta itu kan nggak bisa di paksa. Kalau Nathan memang jodoh sama Sera, aku udah ikhlas Ma. Yang penting, Nathan tetap ngutamain Gio." Anne mengucapkannya dengan tulus.
Melinda menarik Anne ke dalam pelukannya. Memeluk Anne seerat mungkin. Melinda tidak tahu kalau ternyata Anne bisa seikhlas ini. Padahal, Nathan sudah cukup jelas menyakitinya dengan masih mencintai perempuan lain disaat mereka memutuskan untuk segera menikah. Jika, wanita lain mungkin tidak akan pernah seikhlas dan sekuat Anne.
"Mama janji, setelah ini Nathan akan selalu utamain Gio." Ucap Melinda dengan yakin.
"Makasih, Ma." Ann tersenyum saat Melinda mengusap lembut pelipisnya.
Anne kembali melirik kearah Nathan dan kembali menggenggam tangan Nathan dengan erat. Anne memang mencintai Nathan. Bahkan, sangat, sangat, sangat mencintai Nathan. Tapi, jika takdir berkata tidak. Maka, sebisa mungkin ia akan mundur. Anne sadar, apapun yang di lakukan dengan terpaksa pasti tidak akan berakhir bahagia.
***
Shayne duduk di hadapan Rafael di kedai kopi milik Rafael. Kedai kopi tempat Sera bekerja dulu. Shayne sengaja datang ke sini hanya menyerahkan undangan pernikahannya dengan Sera.
"Secepat ini kalian nikah? Nggak nyangka gue." Ucap Rafael yang diakhiri dengan tawa kecil.
"Lebih cepat lebih baik, kan? Ini juga Sera yang minta buat dipercepat." Balas Shayne.
Shayne meraih cangkir kopinya dan menyesap kopinya sedikit demi sedikit. Ia benar-benar merasa bahagia menjelang hari pernikahannya. Impiannya benar-benar terwujud. Memiliki Sera dan menjadikannya Nyonya di rumah yang sudah ia persiapkan.
"Soal mantannya Sera. Lo udah tahu?" Tanya Rafael.
"Mantannya Sera? Yang namanya Nathan itu? Yang ninggalin Sera di hari pernikahan mereka?" Shayne balik bertanya.
Rafael mengangguk membenarkan apa yang Shayne ucapkan. Rafael membenarkan posisi duduknya dan menatap Shayne dengan santai.
"Gue denger dia kecelakaan. Dan sekarang dia koma. Gue juga tahu ini dari Sabrena yang kemarin kesini." Ucap Rafael.
Shayne menaikkan kedua alisnya. "Terus hubungannya sama gue dan Sera apa? Kan dia cuma mantan."
Rafael terdiam. Melihat respon Shayne sepertinya tidak cukup baik jika ia menceritakan apa yang Sabrena ceritakan padanya. Rafael menaikkan kedua alisnya dan mengangguk pelan seraya otaknya terus berfikir bagaimana caranya memberitahu Shayne.
"Nggak ada hubungannya kan? Kalau dia meninggal juga udah nggak ada urusannya sama Sera lagi kan? Sera pasti juga udah nggak peduli kok sama dia." Ucap Shayne lagi.
Rafael melepaskan napas beratnya dan menganggukkan kepalanya. Sepertinya, ia tidak harus memberitahu Shayne tentang kondisi Nathan yang sesungguhnya. Shayne seperti menunjukkan padanya kalau ia tidak menyukai Nathan. Dan Rafael memutuskan untuk tidak mengungkitnya.
"Thanks buat undangannya. Gue pasti datang." Rafael mencoba mengalihkan topik pembicaraan secara cepat.
Shayne tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. "Gue tunggu."
Rafael membalas senyuman Shayne dan kemudian memperhatikan undangan berwarna cokelat dengan relief cantik yang menghiasi kertas berukir nama Shayne Malvino dan Sera Nadira. Rafael tidak tahu kenapa ia seperti merasa tidak suka dengan pernikahan mantan pegawainya itu dengan Shayne. Terlebih setelah mendengar cerita dari Sabrena tentang mantan Sera yang sekarang koma.
***
Sera memutuskan untuk mengusir Sabrena pulang. Mengunci pintu kamarnya dan hanya termenung di balkon kamar. Sesekali matanya terpejam dan membiarkan air matanya turun begitu saja.
Sera merasa Nathan sangat keterlaluan. Nathan membuatnya kembali ragu dengan pernikahan ini. Padahal sebelumnya ia sudah yakin untuk melangkah bersama Shayne. Dan tindakan fatal yang Nathan lakukan membuatnya seakan lumpuh begitu saja. Berdiri pada garis keraguan antara tetap melangkah atau berhenti dan kembali pada masa lalu.
"Kenapa kamu nggak pernah berhenti nyakitin aku? Kenapa kamu buat aku ragu sama pernikahan aku? Sebenarnya, apa mau kamu?" Lirih Sera.
Tangannya terangkat untuk menepis air matanya yang kembali jatuh. Sera meraih ponselnya. Membuka galeri video yang masih penuh dengan videonya bersama Nathan. Sera tidak tahu seberapa besar cintanya pada Nathan. Sampai, ia begitu sulit melepaskan diri dari Nathan.
'Hai cantik!'
'Apaan sih?!
'Sama pacar kenapa judes, sih? Nanti aku cium loh!'
'Rese!'
'Sera Nadira sayang Nathan Emanuel!'
'Najis kamu ih! Geli tahu!'
'Tapi, bener kan kamu sayang aku?'
'Nggak!'
Sera tersenyum tipis. Rasanya semua kenangan manis itu berlalu begitu saja. Sera masih ingat jelas saat Nathan mengambil gambar video itu. Tepat saat ia baru saja keluar dari kelas.
"Kenapa ya? Kamu nggak bisa sebaik Shayne? Nggak bisa sepengertian Shayne? Nggak bisa setia kayak Shayne? Dan kenapa aku lebih sayang sama kamu di banding Shayne yang jelas-jelas baik? aku bukan perempuan brengsek yang ngerebut laki-laki dari perempuan yang udah ngelahirin anaknya." Lirih Sera.
Sera memejamkan matanya. la mulai bingung. Apakah ia harus menemui Nathan besok atau setelah hari pernikahannya dengan Shayne? Sera benar-benar tidak tahu harus berbuat seperti apa. Kenapa cinta bisa semenyakitkan ini? Kenapa ia harus mengalami hal sulit seperti ini?
Dan kenapa Nathan begitu nekad menyakiti dirinya sendiri sampai seperti sekarang hanya demi membuktikan cinta padanya? Tanpa melukai dirinya sendiri, Sera sudah pasti percaya dengan cinta itu.
"Aku mohon terima kenyataan, Nath. Kita nggak akan mungkin bisa sama-sama lagi." Desis Sera.
Bersambung.....
KAMU SEDANG MEMBACA
Bruiden Die Falen
FanfictionShort Story Just Fanfiction! Ditinggalkan kekasih hati di saat hari pernikahannya membuat Sera Nadira harus menerima kenyataan pahit menanggung malu dan sakit hati yang begitu mendalam. Kekasihnya pergi begitu saja tanpa meninggalkan sepatah katapu...
