Sera duduk termenung di atas ranjangnya. Obrolannya dengan Anne beberapa hari lalu masih terus memenuhi otaknya. Tentang kondisi Nathan saat ini, tentang bagaiman perasaan laki-laki itu padanya. Jujur saja, apa yang disampaikan Anne membuat luka lama yang berusaha Sera lupakan selama ini kembali terbuka.
Shayne yang baru saja keluar dari kamar mandi mengernyit melihat Sera. Sudah beberapa hari ini, ia sering mendapati istrinya melamun. Entah apa sebenarnya yang istrinya pikirkan.
"Sayang." Panggilan Shayne membuyarkan lamunan Sera.
"Ahh yaa, kenapa sayang?" Jawab Sera sedikit tergagap. Ia sedikit terkejut.
"Kamu yang kenapa. Ada apa sayang, kamu lagi mikirin apa sebenarnya." Ucap Shayne seraya duduk disebelah Sera, satu tangannya mengelus lembut punggung istrinya itu.
"Shayne, ada sesuatu yang cukup mengganggu pikiran ku." Jawab Sera sambil menatap mata Shayne.
"Ada apa sayang? Ayo cerita."
"Akuu.. aku ketemu dia lagi Shayne."
"Dia? Dia siapa?"
"Anne.. Anne dan Gio."
"Heyy sayang, tenang. Ada apa sebenarnya, dimana kamu ketemu mereka?." Shayne kembali mengusap punggung Sera begitu melihat istrinya yang mulai berkaca-kaca. Ia tentu tahu tentang segala ingatan masa lalu yang selama ini berusaha Sera lupakan.
"Kemarin mereka kesini Shayne. Gio ternyata salah satu teman Shabira di sekolah. Dan kemarin Shabira bawa mereka kesini."
"Anne... Dia dia bilang Nathan sekarang juga tinggal disini Shayne. Dia juga bilang Nathan lagi sakit. Kenapa Shayne... Kenapa mereka harus balik lagi." Ucap Sera yang kini sudah mulai menangis.
"Sayang... Hey sayang lihat aku." Shayne menangkup kedua pipi Sera. Menghapus setitik air matanya yang mulai keluar.
"Semua akan baik-baik saja sayang. Mereka nggak akan nyakitin kamu lagi. Ada aku disini, ada Shabira juga. Kamu harus percaya sama aku, okey." Shayne menatap Sera lembut. Berusaha meyakinkan istrinya itu. Sera kemudian menceritakan apa yang kemarin Anne katakan kepada Shayne.
"Aku nggak mau ketemu dia lagi Shayne." Ucap Sera memohon.
"Sayang, gapapa. Gapapa kalau kamu mau ketemu dia lagi. Seenggaknya untuk memperbaiki hubungan kalian. Kamu nggak mau kan terus seperti ini."
"Shayne aku nggak mau kamu sakit."
"Aku gapapa sayang, temui dia. Aku izinin kamu ketemu sama dia."
Sera kembali menatap mata Shayne. Memeluk laki-laki itu, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Shayne. Ia sungguh merasa sangat bersyukur telah memiliki Shayne dalam hidupnya. Laki-laki yang memiliki hati begitu lapang, yang mau menerima Sera dan masa lalunya. Shayne adalah lelaki yang sangat tulus, dia begitu menyayangi Sera begitu besar.
***
Sera mengeratkan syal yang ia kenakan hari ini. Hari yang cukup dingin dengan hujan deras yang mengguyur kota sejak tadi pagi. Sera tersenyum tipis. Ada rasa berdebar saat ini. Saat ia berada di dalam taksi untuk bertemu dengan seseorang.
Sera tidak perlu mengkhawatirkan Shayne. Karna, suaminya itu sudah memberikan izin untuknya pergi hari ini. Sera menatap layar ponselnya. Membuka galeri ponselnya dan melihat beberapa koleksi foto Nathan yang masih tersisa dari memory card-nya.
Taksi itu berhenti di depan sebuah rumah besar. Sera segera membayar biaya taksinya dan turun. Sera kembali memasang senyum manisnya saat Anne menyambut kedatangannya. Anne tidak tinggal disini. Hanya saja, Anne punya tugas untuk selalu memperhatikan kondisi sang pemilik rumah yang hari ini tak sehat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bruiden Die Falen
Fiksi PenggemarShort Story Just Fanfiction! Ditinggalkan kekasih hati di saat hari pernikahannya membuat Sera Nadira harus menerima kenyataan pahit menanggung malu dan sakit hati yang begitu mendalam. Kekasihnya pergi begitu saja tanpa meninggalkan sepatah katapu...
