Brothership YoonJin
.
⚠Adegan kejahatan dan kekerasan tidak untuk ditiru.⚠
.
Cerita ini sepenuhnya fiktif. Semua nama, karakter, tempat, dan kejadian yang digambarkan merupakan hasil dari imajinasi penulis. Saya meminjam nama serta visual (wajah) an...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat membaca.
.
.
.
Setelah beberapa menit berkendara, mobil Seokjin akhirnya berhenti di depan sebuah gang kecil, tempat Yoongi tinggal. Tadi, setelah selesai makan bubur, Yoongi bersikeras untuk pulang meski Seokjin telah menyuruhnya menginap.
Yoongi merasa tidak enak jika harus tinggal lebih lama di rumah Seokjin yang begitu mewah. Ia merasa dirinya tidak pantas berada di tempat semewah itu.
Bahkan, ia menahan rasa penasarannya untuk melihat-lihat furnitur dan isi kamar Seokjin, yang sangat elegan dan berkelas, karena ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di rumah semewah itu.
Akhirnya, Seokjin mengalah, mengizinkan Yoongi pulang, meskipun dengan syarat ia akan mengantarnya sampai depan tempat tinggalnya.
Tentu saja, Yoongi awalnya menolak, karena niatnya untuk pulang justru agar tidak merepotkan Seokjin. Tapi Seokjin tidak menerima penolakan itu dan benar-benar mengantarnya pulang.
Sekarang, mereka masih duduk di dalam mobil, keheningan menyelimuti mobil itu.
"Ehm, sudah sampai, hyung," cicit Yoongi, memecah kesunyian.
Sejak tadi, Seokjin diam tanpa sepatah kata.
"Kau tinggal di mana?" tanya Seokjin akhirnya.
"Di sana," jawab Yoongi sambil menunjuk flat kecil di ujung jalan.