Brothership YoonJin
.
⚠Adegan kejahatan dan kekerasan tidak untuk ditiru.⚠
.
Cerita ini sepenuhnya fiktif. Semua nama, karakter, tempat, dan kejadian yang digambarkan merupakan hasil dari imajinasi penulis. Saya meminjam nama serta visual (wajah) an...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat membaca.
.
.
.
Jantung Seokjin masih berdegup dengan sangat kencang setelah Yoongi tiba-tiba berteriak memanggilnya dan memeluknya untuk melindunginya dari lemparan batu yang dilemparkan oleh Nam Soo.
Dengan napas yang masih memburu, Seokjin memeluk adiknya erat. Ia mencoba menenangkan dirinya, dengan mengatur napasnya.
"Yoongi..." panggilnya lirih, dengan suara bergetar.
"Yoongi kenapa..."
"Kenapa Yoongi melakukan itu?" lanjutnya.
"Yoongi tahu tidak itu sangat bahaya? Kalau Yoongi sampai kena batunya, gimana? Kalau Yoongi kenapa-kenapa bagaimana?" tanya Seokjin mengomel dengan nada penuh kekhawatiran.
Beruntung, lemparan batu itu tidak mengenai Yoongi ataupun Seokjin. Salah satu bodyguard berhasil menangkis tangan Nam Soo sebelum batu itu dilempar, hingga batu tersebut jatuh ke tanah. Kini, Nam Soo kembali dalam jeratan dua bodyguard yang menahannya dengan lebih kuat.
Seokjin perlahan melepaskan pelukannya, memberikan sedikit jarak agar bisa melihat wajah adiknya. Ia memegang bahu Yoongi yang tangannya masih erat mencengkeram lengannya.
"H-Hyung tidak apa-apa?" lirih Yoongi balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Seokjin.
Seokjin tersenyum lembut, berusaha menenangkan adiknya. "Hmm, Hyung tidak apa-apa. Hyung baik-baik saja," jawabnya.
Yoongi menghela napas lega, mengangguk pelan, lalu melepaskan cengkeramannya dari lengan sang hyung. Namun, tatapan matanya berubah dingin saat ia menatap Nam Soo dan Nam Kyung yang berada di hadapannya.
Dengan langkah tegas, Yoongi maju mendekati Nam Soo. Seokjin dengan sigap mengikuti adiknya dari belakang.
"Apa Bibi benar-benar tidak punya hati? Kenapa kalian begitu mudah menyakiti orang lain?" tanya Yoongi, dengan suara penuh ketegasan.
Nam Soo mendengus sinis. "Ya, aku memang tidak punya hati. Kalau itu bisa membuatku mendapatkan apa yang kuinginkan, kenapa harus peduli?" balasnya tanpa rasa bersalah.
Yoongi tersenyum miring, menatap mereka penuh amarah. "Memang, kalian hanya tahu cara menyakiti orang lain. Tapi lihat sekarang, kalian tidak punya tempat untuk lari. Ini adalah akhir dari kalian."
Ia menoleh kepada bodyguard. "Paman, tolong bawa mereka ke kantor polisi sekarang." Pintanya dengan suara tegas.
"Baik, Tuan," jawab bodyguard sambil segera menyeret kedua wanita itu.
"Yak, Yoongi! Apa begini caramu membalas budi pada kami yang sudah menampungmu?" teriak Nam Soo dengan nada penuh amarah.
"Dasar anak kurang ajar!" pekik Nam Kyung, berusaha memberontak meski tidak berhasil.