Bab 39

816 68 21
                                        

Selamat membaca

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selamat membaca.

.

.

.

Terik matahari membangunkan Yoongi yang tertidur di bawah pohon rindang. Ia membuka matanya perlahan menatap sekitar kemudian memejamkan matanya kembali.

"Bukan mimpi," gumam Yoongi saat menyadari dirinya masih berada di tempat yang sama.

Yoongi menghela nafas panjang. Ia menatap langit biru yang terlihat dari celah-celah dedaunan, namun keindahannya terasa hampa.

Hyung…” bisiknya lirih, dengan suara yang hampir tenggelam oleh desiran angin.

Ia meremas tanah di sekitarnya, seolah-olah dengan itu ia bisa menyampaikan sedikit rasa sakit yang mendesak di dadanya.

Setiap kenangan tentang Seokjin diputar ulang di kepalanya seperti film lama, menampilkan tawa hangat, pelukan penuh kasih, dan suara lembut sang hyung yang selalu membuatnya merasa aman.

Yoongi mencoba memejamkan matanya kembali, berharap bisa melarikan diri dari rasa perih ini, tapi bayangan Seokjin justru semakin jelas. Kenyataan bahwa ia telah kehilangan sosok sang hyung yang sangat ia sayangi, begitu menghancurkan hatinya.

Hyung benar-benar tidak ada di sini.”

Air matanya akhirnya kembali mengalir, membasahi pipinya. Entah sudah sebanyak apa ia mengeluarkan air matanya.

Dengan sisa tenaganya, Yoongi kembali melanjutkan perjalanannya tanpa arah, masih memegang harapan ia bisa menemukan Jin hyungnya.

Sampai sore hari, langkahnya membawanya menuju taman, tempat Seokjin pertama kali mengungkapkan bahwa Yoongi adalah adiknya.

Ia duduk di kursi yang sama dengan saat itu. Memandangi orang-orang yang berlalu lalang dengan pandangan kosong.

Lelah, haus, lapar, itulah yang dirasakan tubuhnya. Namun, semua itu terasa tidak berarti, karena hatinya jauh lebih sakit.

Banyak pasang mata yang memandangnya dengan tatapan tidak suka, mungkin mereka melihat penampilannya yang sangat berantakan dan kotor, sementara orang-orang di sana berpenampilan rapi dan segar, menikmati sore hari.

Melihat tatapan itu, Yoongi merasa tidak enak hati. Ia lantas berpindah tempat, memilih duduk di bawah salah satu pohon di taman itu, karena ia merasa tidak pantas menduduki kursi itu.

Ia kembali mengamati orang-orang yang berlalu lalang. Bahkan saat dirinya sudah berpindah tempat di bawah pohon, tatapan orang-orang itu tetap sama.

Jika saja Hyungnya ada di sini, pasti Seokjin akan memarahi mereka semua yang menatapnya seperti itu.

Yoongi terkekeh, ia benar-benar melihat Seokjin hyungnya yang sedang memarahi mereka.

"Kenapa kalian berdiri dan menatap adikku seperti itu, eoh? Pergi kalian, jangan pernah mengganggu adikku, atau kalian akan tahu akibatnya!" omel Seokjin.

Threads of Affection | ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang