Brothership YoonJin
.
⚠Adegan kejahatan dan kekerasan tidak untuk ditiru.⚠
.
Cerita ini sepenuhnya fiktif. Semua nama, karakter, tempat, dan kejadian yang digambarkan merupakan hasil dari imajinasi penulis. Saya meminjam nama serta visual (wajah) an...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat membaca.
.
.
.
Seokjin meregangkan otot-ototnya sambil melirik jam dinding. Sudah larut malam. Waktunya ia untuk pulang. Akhir-akhir ini, Seokjin masih sering berada di kantornya hingga larut karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
Setelah mengemasi barang-barangnya, ia segera bergegas pulang.
Sesampainya di rumah, Seokjin langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Selesai mandi, ia berjalan menuju kamar adiknya, Yoongi. Ia membuka pintu kamar dengan perlahan, takut membangunkan Yoongi yang sedang tidur. Seokjin tersenyum tipis saat melihat adiknya terlelap dengan tenang.
Sebenarnya, ia ingin masuk dan menemani adiknya sebentar. Jujur, ia sangat merindukan Yoongi karena akhir-akhir ini mereka jarang menghabiskan waktu bersama. Namun, Seokjin menutup pintu kembali dengan perlahan. Ia tidak ingin membangunkan Yoongi hanya karena rasa rindunya.
Kemudian, Seokjin menuruni tangga menuju dapur untuk mengambil air minum. Saat sampai di dapur, ia mendapati Mamanya, Aera, yang juga sedang mengambil minum.
"Mama," panggil Seokjin dengan senyum kecil sambil menghampiri mamanya.
"Eoh, sudah pulang?" tanya Aera sambil menoleh pada putranya.
Seokjin mengangguk dan langsung memeluk Aera dari samping. "Eum."
Aera terkekeh kecil. "Sudah makan?"
Seokjin melepas pelukannya. "Sudah, tadi makan di kantor."
"Mama kenapa belum tidur?" tanya Seokjin lagi sambil mengambil air minum ke dalam gelas.
"Mama sudah tidur tadi, tapi kebangun karena haus," jawab Aera.
Seokjin hanya mengangguk paham, lalu duduk di salah satu kursi. Aera ikut duduk di hadapannya.
"Bagaimana di kantor? Apa pekerjaanmu masih banyak?" tanya Aera sambil menatap putranya.
Seokjin menghela napas panjang dan tampak lesu. "Iya, Ma. Masih banyak. Aku capek... kangen Yoongi," ucapnya dengan nada sendu.
Aera tertawa kecil mendengar keluhan anaknya. "Capek kerja atau capek karena kangen adeknya?"
"Kangen adeknya," jawab Seokjin dengan wajah cemberut.
Aera tertawa lepas melihat ekspresi Seokjin yang seperti anak kecil.
"Mama, ih, kok diketawain?" protes Seokjin.
Aera berusaha menahan tawanya. "Ya sudah, kenapa tidak di ajak saja Yoongi buat nemenin kamu di kantor?"
Seokjin memanyunkan bibirnya. "Mana mau dia, Ma. Sudah pernah aku ajak, tapi dia tidak mau. Susah sekarang. Kalau diajak, selalu saja banyak alasannya. Katanya mau ngerjain tugas lah, ada janji sama Taehyung, Jimin, dan Jungkook lah. Selalu saja ada alasannya. Tidak seperti dulu waktu awal-awal Yoongi kembali. Dia selalu nurut kalau aku ajak ke mana pun," adu Seokjin panjang lebar.