BAB 3√

6.2K 383 3
                                    

“Maaf / Maaf," ucap Darren dan Kenzie bersamaan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Maaf / Maaf," ucap Darren dan Kenzie bersamaan.

Mereka duduk di balkon kamar Kenzi sembari menatap Ny. Roos yang tertidur setelah Darren memeluk dan memberi aroma penenang.

Di luar masih hujan, Kenzie menghidangkan teh melati dan Darren masih mengingat rasa ini dengan jelas. Tapi urung bertanya, karena ada hal lebih penting yang harus mereka bahas.

Darren sudah mendengar sekilas perjalanan hidup Kenzie dari penjelasan juga permintaan tidak masuk akal sang ibu.

"Rasa sup buatanmu memang sangat mirip dengan buatan Ayahku, wajar jika Ibu jadi terisak seperti itu."

Tom Chuet. Sup sederhana dan jernih yang dibuat dengan sayuran, seperti kol Cina, wortel, dan buncis. Bahan dasar sup biasanya direbus dalam kaldu sayur bersama bumbu, seledri, daun bawang, bawang putih, dan kecap.

Tom chuet memiliki rasa ringan yang membuat sup ini sangat berbeda dari masakan khas Thailand yang lain.

"Maafkan saya, Tuan." Kepala itu terus saja menunduk.

"Hey, ini bukan kesalahan, mengapa harus meminta maaf?"

Kenzie bergeming. Tangannya saling meremas di bawah meja hingga kulit mulus sang Koki ikut memerah.

Meski seorang Koki dengan masakan terbaik dan harga termahal, Kenzie tidak cukup memiliki kepercayaan diri yang
tinggi apalagi untuk menatap Alpha dominan di depannya.

"Ibuku memang seorang yang emosional. Sejak Ayah meninggal, Ibu semakin mudah menangis apalagi jika hal itu
mengingatkannya pada Ayah."

Kenzie masih diam menunduk, bersikap sebagai pendengar yang baik.

"Mengenai permintaan Ibuku ...-" Darren terlihat ragu.

"Mmm ..., jangan terlalu dipikirkan,
ya? aku akan mencoba memberi pengertian meski pasti akan sulit."

"Apa Anda keberatan, Tuan?"

"Ibuku tidak pernah salah menilai orang. Jadi, aku akan berusaha menuruti apa pun permintaannya. Tapi aku tidak
akan memaksamu."

"Saya bersedia, Tuan." Kenzie menjawab tanpa berpikir panjang. Sejujurnya dia memiliki detakan tak biasa sejak pertama kali melihat Alpha di depannya ini.

Darren yang tercengang tak sempat menjawab.

"Saya bersedia asal saya bisa terbebas dari penderitaan saya di sini dan kembali ke Thailand. Akhir-akhir ini, pemilik restaurant tempat saya bekerja juga mulai bersikap tidak sopan. Dia terang-terangan meminta saya menemani saat siklus Rut-nya datang, dan selalu mencoba menyentuh saya
ketika saya sedang bekerja. Saya tidak ingin dijadikan pemuas nafsu, Tuan." Kepala itu tertuduk semakin dalam
dengan remasan tangan terus mengencang.

Cerita Kenzie membuat Darren geram. Dia sangat membenci kejahatan seksual.
Meskipun di Universe ini, merupakan hal yang wajar berhubungan seks dengan siapa saja dan di mana saja.
Setidaknya, jangan melakukan pemaksaan, bukan?

My Ex-Omega [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang