Buah Hati

542 1 0
                                        


Malam ini aku ikut pengajian bersama dengan istriku, Dyana. Ini pertama kalinya aku masuk ke majelis taklim dengan penampilan seperti ini. Dulu waktu masih sekolah, aku biasanya ikut di gerombolan bapak-bapak, tak jarang tetanggaku juga ku ajak bersama.

Namun kini semua berubah, tetanggaku yang dulu tidak ada yang mengenaliku sama sekali. Bahkan sempat kaget karena tidak menyangka keluargaku yang tergolong miskin memiliki saudara yang cantik, bahkan beberapa kali aku dicomblangkan dengan anak mereka. Dyana bahkan sering banget menceritakan kalau aku ini sering dilirik oleh pemuda kampung. Sayangnya aku yang kuper, sehingga tetanggaku sendiri tidak mengenalku, bahkan bertanya bagaimana keadaannya. Tetanggaku hanya tau ketika aku nekat menikahi orang yang sudah diusir keluarganya. Tapi itu tak jadi soal, karena jarak rumah dengan tetangga lumayan jauh sehingga Dyana tidak akan terlalu sakit hati.

"Assalamualaikum ibu-ibu", sapa Dyana pada ibu-ibu yang sudah duduk di barisan.

Aku hanya bisa tersenyum saat ibu-ibu yang lain menatapku.

"Tuh liat sepupunya Wawan....", bisik dan jawilan pada ibu sebelahnya. Acara pengajian belum dimulai, karena memang biasanya acara dimulai setelah isya.

"Udah... udah.... gapapa kok", ucap Dyana saat adzan Isya berkumandang. Ibu-ibu yang lain bergegas ke tempat wudhu, aku diajak Dyana keluar dan mempersiapkan untuk sholat Isya berjamaah. Aku mengikuti Dyana dari belakang, aku takut akan menyenggol ibu-ibu yang lain. Di kampungku sangat jarang remaja mengikuti pengajian, hanya orang-orang tertentu yang mau ikut.

Di tempat wudhu, aku menunggu satu per satu ibu-ibu yang selesai menyucikan diri. Aku mulai melepas kerudungku, beruntung memang aku sudah memiliki rambut panjang dan tindik yang baru terpasang kemarin sehingga tidak menimbulkan kecurigaan pada yang lain.

"Mbak ini keponakannya Pak Yono kan?", tanya tetanggaku yang memang cukup dekat dengan keluarga.

"E.... iyaa bu dhe", ucapku saat mau wudhu.

'Duh.... Ayune... Ga nyangka aja sih, Pak Yono punya ponakan yang cantik kayak mbak", ibu itu langsung menepok pundakku, dan aku hanya bisa tersenyum tipis.

"Cepet nduk, udah komat", aku langsung bergegas wudhu dan langsung memakai jilbabku dan masuk ke shaf yang berada di lantai dua. Kebetulan aku mendapatkan shaf yang depannya tidak ada barisan. Aku langsung memakai mukena dan bersebelahan dengan istriku, dan ibunya tadi.

Ini pertama kalinya jamaah isya bersama istri di masjid dekat rumah, dan ini juga bersebelahan dengannya..

Cerita selengkapnya hanya di https://karyakarsa.com/cheesebuns555/jilbabku-part-18-21 atau link eksternal di sebelah tombol komentar

JilbabkuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang