PART 8

640 85 4
                                    

Saat Bagas sampai di rumah Mey, beruntung Harvi masih membuka matanya, walaupun sudah nampak pasrah dengan napas yang seadanya. Bibirnya terlihat mulai membiru dengan kulit yang begitu dingin. Tanpa mengindahkan keberadaan Mey, Bagas meraup tubuh Harvi, membawa keponakannya itu keluar dari kamar, melangkah cepat menuju mobilnya yang terparkir depan rumah.

Kesigapan Bagas yang Harvi suka: omnya itu membawa peralatan yang Harvi butuhkan tanpa ada yang meminta dan menyuruh. Mengecek saturasi oksigen dan denyut nadi lalu memasangkan masker oksigen kepada Harvi setelah mengatur laju oksigennya, semua dilakukan dengan cepat dan tepat.

Mey masuk ke dalam mobil dengan gaya tertutup: mengenakan masker, hoodie, dan kacamata gelap.

Tidak ada waktu untuk bicara sekarang, Bagas langsung melajukan mobil.

Jarak rumah Mey menuju rumah sakit hanya 15 menit.

Dari IGD, Harvi dipindah ke ICU, bukan karena kondisi yang gawat, hanya butuh pemantauan ketat saja, paling hanya satu malam di ICU, besoknya sudah bisa pindah ke ruang rawat inap.

Rumah sakit yang biasa dikunjungi Harvi ini adalah rumah sakit swasta dengan biaya perawatan yang terkenal cukup mahal, sebanding dengan pelayanan dan fasilitas yang diberikan. Tidak banyak orang yang berobat. Rumah sakit itu lah yang menjadi patokan Bagas dulu saat memilih rumah Mey yang ditempati sekarang, lokasi rumah yang dekat dengan rumah sakit yang cocok untuk Mey, rumah sakit yang tidak banyak orang dan lebih privasi.

Di tempat mereka sekarang menunggu saja hanya terdapat beberapa orang, yang tampak sibuk sendiri-sendiri, duduk di lingkaran sofa yang berbeda-beda. Tidak ada yang menaruh perhatian pada Mey, perempuan dengan gaya tertutup.

"Keluar dari rumah sakit nanti, Harvi pulang ke rumah gue aja. Kalo dia sekolah, paginya gue anterin dia ke sekolah, baliknya dia bisa pulang ke rumah lo, sorenya gue jemput, biar tidur di rumah gue."

Mey dan Bagas duduk di sofa yang sama, bersebelahan tapi berjarak.

Sejak tadi pandangan Mey hanya tertuju kosong pada lantai.

Bagas menghela napas cukup keras. Tidak bisa lagi menahan kekesalan di hatinya.

"Mey, jarak rumah lo ke rumah sakit ini cuma 15 menit, dan lo biarin Harvi nunggu gue jalan dari rumah gue ke rumah lo yang makan waktu 20 menit, belum lagi ditambah perjalanan ke rumah sakit. Lo buta, ya, Mey? Gak liat bibir anak lo udah biru kek gitu? Beruntung Harvi masih napas. Dia gak seberapa berat, Mey, buat lo papah. Buat apa lo nyimpen mobil di rumah kalo gak berguna. Lo belom bisa, Mey, tinggal berdua sama Harvi. Lo gak bisa ngurus dia. Harvi juga kayaknya segan sama lo, gak mau banyak ngerepotin, harusnya lo yang peka. Gak akan sih, Mey, gue izinin sewaktu-waktu lo bawa Harvi buat tinggal berdua, selama lo masih belom bisa urus dia."

Mey menundukan kepala lebih dalam. Dia bungkam, menerima semua omelan adiknya. Mey mengakui kebodohannya yang akan berakibat fatal jika saja Bagas tadi terlambat datang.

-
-

Semalaman Mey tidur di mobil, sementara Bagas di ruang tunggu keluarga pasien.

Siang harinya, Harvi dipindahkan ke ruang rawat inap.

Dia dalam kondisi baik-baik saja, hanya masih mengenakan alat bantu napas, berupa nasal kanul.

Harvi melirik tajam Bagas, begitu melihat mata ibunya sembab, dan baru saja Mey tiba-tiba meminta maaf padanya.

"Om ngomelin Mey?"

Harvi bukan cenayang, hanya saja dia sudah hapal sekali dengan tabiat Bagas yang emosinya suka meledak-ledak kayak mercon cabe, dan mulutnya lebih-lebih dari seorang perempuan kalau sudah mengomel, pedas ngalahin seblak jeletet level mematikan.

BoTuDiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang