9. Tokoh Baru?

190 64 113
                                        

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

اللهُمَّ صَلَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيْدِنَا مُحَمَّدٍ

Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala Ali Sayyidina Muhammad.

Hanya suasana hening yang meliputi ruang tamu, sepertinya udara di dalam ruangan menjadi lebih pengap setelah Berliana mengutarakan kejujurannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hanya suasana hening yang meliputi ruang tamu, sepertinya udara di dalam ruangan menjadi lebih pengap setelah Berliana mengutarakan kejujurannya. Abi Hasan dan Umi Sanah saling pandang, ekspresi mereka sulit diartikan, antara terkejut, penasaran, dan berusaha menerima alasan anaknya. Sementara itu, Ali menatap Berliana dengan sorot mata yang sulit ditebak. Raut wajah orang tua Ali juga hanya menunjukkan kepasrahan di sana.

Ali menghela napas panjang, mencoba untuk berbicara. "Kalau memang itu keputusanmu, Berliana, saya tidak akan memaksa. Saya hanya ingin kamu bahagia, meskipun bukan dengan saya."

Abi Hasan menepuk bahu Ali. "Nak, jodoh itu sudah diatur Allah. Kalau sekarang belum waktunya, mungkin nanti Allah akan memberikan yang terbaik untukmu. Sabar, ya?"

Ali mengangguk pelan, lalu berdiri. "Terima kasih, Om. Tante. Saya rasa, saya dan keluarga pamit dulu. Maaf kalau kedatangan kami malah membuat situasinya menjadi lebih rumit."

Abi Hasan dan Umi Sanah mempersilakan mereka pergi, meski jelas terlihat rasa bersalah di wajah mereka. Sementara itu, Berliana tetap diam di tempatnya, hanya bisa menunduk.

Ketika Ali dan keluarganya keluar rumah, suasana kembali sunyi. Berliana tidak tahu harus berbuat apa, tetapi langkah kakinya hanya diam, tidak bergerak. Uminya mendekati, memegang pundak Berliana dengan lembut.

"Yana, apa yang kamu katakan tadi... itu benar? Kamu mencintai seseorang selama tiga tahun?" tanya Umi Sanah dengan nada lembut, khawatir itu akan membuat Berliana masih merasa bersalah.

Berliana mengangguk perlahan. "Iya, Mi."

"Boleh Umi tahu siapa orangnya, Nak?"

"Maaf, Umi. Sepertinya bukan sekarang waktunya. Orang tersebut tidak pernah memberikan tanda kalau dia merasakan hal yang sama. Yana rasa, dia tidak ingin Yana menyukainya," jawab Berliana dengan nada lirih.

Umi Sanah mengerti dengan menganggukkan kepalanya dan berusaha memberikan ruang untuk Berliana menyendiri, itu adalah hal yang harus, menurutnya.

Sejauh yang terlihat, Umi Sanah dan Abi Hasan sudah masuk ke kamarnya, Berliana masih duduk menatap pintu kamar yang baru saja tertutup. Akhirnya dia benar-benar sendiri sekarang.

ABIYANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang