10. Senyum

215 77 154
                                        

سْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

اللهُمَّ صَلَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيْدِنَا مُحَمَّدٍ

Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala Ali Sayyidina Muhammad.

Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala Ali Sayyidina Muhammad

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."

Abi telah sampai di rumah, setelah mengucapkan salam, Abi masuk. Tetapi apa yang dia lihat? Rumahnya sepi sekali, padahal terakhir kali, orang ramai, suasana menyenangkan, walaupun tidak baginya. Abi memutuskan untuk naik ke lantai dua, di kamar Tsani, tanpa berpikir panjang, Abi berniat untuk membereskan barang-barangnya untuk keperluan kepulangan besok.

"Bang? Kapan pulang?" tanya Abi kepada Tsani.

Tsani melihat pergelangan tangannya, lalu menjawab, "Sekitar 30 menit yang lalu."

Abi memicingkan mata, memiringkan kepala, bahkan maju lebih dekat untuk memastikan. Abang iparnya ini sedang melihat apa? Pergelangan tangannya bahkan tidak ada jam tangan.

"Lagi ngelawak, Bang?"

Tsani berusaha menahan malu. "Ya gitu, deh. Gak lucu, ya?"

Menurut Abi, lawakan tadi benar-benar tidak ada lucu-lucunya, tetapi mendengar pertanyaan itu, dia malah tertawa. Melihat Abi yang tertawa, Tsani bersorak riang, sambil mengepalkan tangannya, "Yes! Berarti lucu!"

Abi mengedarkan pandangannya, di bawah tadi, dia tidak melihat ada orang satu pun, termasuk kakaknya, "Kak Ayya mana, Bang?" Abi bertanya.

"Di kamar Yana," jawabnya singkat.

"Oh, pantas,"

"Pantas apa?"

"Pantas kayak orang stres, rupanya kesepian."

Tanpa merasa bersalah, Abi melangkah menuju lemari untuk mengambil pakaian yang akan disusun, namun sebelum dia sempat melanjutkan, Tsani tiba-tiba memegang dadanya, "Aduh... sakit, nih..."

"Maaf, Bang. Abi bercanda,"

Giliran Tsani yang tertawa, "Abang juga bercanda."

"Oke, Bang, sekarang Abi mau mulai kemas-kemas, nih. Abi harus siap-siap buat pulang besok."

Tsani yang melihat Abi melipat pakaian dengan cara yang agak ceroboh, langsung merasa perlu untuk mengajarkan cara yang lebih baik. Tsani menggelengkan kepalanya, "Kamu ini, Abi. Kalau mau lipat baju, jangan gitu."

ABIYANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang