Hubungan Ara dan Dominic seperti permainan tarik-ulur yang tak ada habisnya, penuh simpul rumit yang tak pernah bisa terurai. Ara berusaha sekuat tenaga menjauh dari Dominic, ingin lepas dari bayang-bayang gelap masa lalunya. Tapi Dominic selalu punya cara untuk menariknya kembali. Pesona pria dewasa itu terlalu memikat, terlalu dalam untuk dihindari. Setiap langkah Ara menuju kebebasan selalu terhenti di jalan buntu, seolah Dominic adalah dinding tak kasat mata yang mengurungnya, belenggu yang menahannya erat.
Semua memuncak sejak insiden beberapa hari lalu. Bukannya pergi setelah Ara mengusirnya, Dominic malah mengambil langkah tak terduga. Dengan santai, ia membawa beberapa pakaian dan barang pribadinya ke apartemen Ara, tanpa basa-basi seolah tempat itu kini juga miliknya. Lebih mengejutkan lagi, Dominic memutuskan untuk tinggal di kamar yang sama dengannya.
Ara tak tinggal diam. Ia mencoba menolak kehadiran Dominic dengan segala cara. Berkali-kali ia meminta Dominic pergi, bahkan dengan nada keras yang jarang ia gunakan. Tapi Dominic tidak bergeming. Dengan sikap dingin penuh kendali, ia mengabaikan semua upaya Ara, seolah apartemen itu memang haknya. Pada akhirnya, Ara tak punya pilihan selain pasrah, sekali lagi terperangkap dalam kendali Dominic yang semakin menyesakkan.
"Kenapa kau masih di sini, hah? Apa aku harus mengulang perkataanku agar kau paham?" suara Ara meninggi, mencerminkan rasa jengahnya terhadap Dominic yang bersikeras tidak pergi dari apartemennya.
Dominic hanya melirik sekilas, lalu kembali sibuk dengan ponselnya. Sikap acuh tak acuh pria itu seakan memancing emosi Ara lebih dalam.
"Dominic!" tekan Ara, mencoba menarik perhatiannya.
Dominic akhirnya menurunkan ponselnya perlahan, wajahnya dihiasi senyum jahil yang membuat Ara mendesah frustrasi.
"Apa kau memanggilku, sweety?" tanyanya santai, seolah tak ada beban.
Ara terdiam, menelan ludah saat senyum menawan itu menghiasi wajah Dominic. Meski sikapnya membuat Ara kesal setengah mati, pesona pria itu masih saja mampu mencuri perhatiannya.
Sial! Batin Ara berucap.
Ara sedikit salah tingkah. Ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, berusaha menghindari tatapan Dominic yang masih dihiasi senyum jahil itu. Namun, detak jantungnya yang berdegup cepat justru mengkhianati sikap tenangnya.
Sementara Dominic melihat sikap gugup Ara yang tampak begitu menggemaskan di matanya. Lantas, ia pun berdiri dari sofa tempat ia duduki, berjalan ke arah Ara yang berdiri beberapa meter darinya.
Derap langkah sepatu Dominic semakin membuat Ara gugup, degup jantungnya kian berpacu cepat, tubuhnya bergetar, tak dapat ia kendalikan. Niat hati ingin mengusirnya dari kehidupan Ara justru membuatnya semakin terjatuh, terperosok ke dalam jerat ayah tirinya semakin dalam, seperti labirin yang tak bisa ia temukan jalan keluarnya. Bahkan berbagai upaya Ara mengusir secara halus tak mampu membuatnya pergi, malah sebaliknya pria berstatus sebaik ayah tirinya selalu menarik Ara ke dalam lubang hitam bergairah, penuh dengan hasrat dunia yang tak bisa Ara tolak.
"Ara, aku tahu. Kau tidak benar-benar mengusirku, right? Dari sikap dan keteganganmu aku semakin yakin kalau kau menginginkan aku tetap berada di sini," ucap Dominc, yang kini berdiri di belakang Ara, kepalanya di majukan tepat ke pundaknya. Meniup cuping telinga Ara hingga membuat bulu halusnya meremang.
Dominic tersenyum mendapat sikap Ara bereaksi hanya karena tiupan dari bibirnya ke kulit putih nan mulus Ara. "Let me in your world, Ara. Imma show you somethin' you ain't ever seen before."
"Apa maksudmu, Dom?" tanya Ara, tidak paham dengan ucapan Dominic. Tanpa menghadap Dominic.
"Kau akan mengerti seiring waktu berjalan, Ara. Jika aku menjelaskannya saat ini aku yakin kau tidak akan paham," balasnya, tubuh Ara di balikan oleh Dominic menghadapnya. Hingga matanya bertemu dengan mata coklat almond milik Dominic.
KAMU SEDANG MEMBACA
The seductive step daddy
Romance⚠️Mature content⚠️ Area 18+ 21+ Bijak dalam memilih bacaan Follow dulu sebelum baca... Anak kecil dilarang baca!!! Aurora Park, memang mendambakan seorang pria yang tidak pernah ia rasakan sejak kecil. Tumbuh bersama seorang Mommy yang selalu berg...
