PAGE 18

597 223 5
                                    

Wajah yang cerah itu tampak bersahaja, bersinar, dan berkilau indah dari terpaan kemilau sinar mentari yang terik. Ia mengulurkan tangannya, tersenyum hangat, dan menatap begitu lekat. Sungguh, siluet wajahnya terlihat begitu mengagumkan.

"Ayo Hinata!, mungkin tanaman obat yang dikatakan Sakura chan itu tidak ada disini!. Atau, kau masih ingin beristirahat?" ulur tangan kecoklatan itu pada gadis nan mendongak menatap wajah tampannya berbinar-binar.

Hening, hingga sang pria mengernyit heran. Ia merasa terabaikan dan kemudian tersenyum jenaka setelahnya.

"Hinata?, kenapa kau melihatku seperti itu dattebayo?, apakah aku setampan itu hm?. Hihi" celatuk pria bergaris tiga di pipi mencengir jahil, membuyarkan lamunan indah Hinata menjadi gelagapan dan spontan memalingkan pandangan seraya tersenyum kecil.

Hanya ada kebisuan dengan kondisi wajah sang gadis yang bersemu malu, tak lupa kedua jari telunjuknya kini sibuk beradu yang diperhatikan oleh si pirang.

Naruto, dia tidak tahu pasti apa maksud dari tingkah Hinata tersebut, dan ia tidak menyangka jika ternyata hal seperti itu mampu membuat hatinya menghangat dan merasakan perasaan senang yang tidak bisa dijelaskan.

"Yoossh!, tentu saja dattebayo!" menunjuk ke wajahnya sendiri, Naruto tersenyum semakin lebar menyentakkan Hinata yang tampak terperanjat kaget. "Wajahku ini berasal dari kaa-chanku yang cantik dattebayo!" aku Naruto percaya diri seperti biasanya.

Terdengar suara dengusan yang teramat pelan. Hinata terkekeh ringan lalu tersenyum, senyuman yang terlihat secerah matahari di mata biru si pirang. Sangat manis, sehingga Naruto yang tadinya sibuk berbicara menjadi terdiam memperhatikan wajah cantik gadis di hadapannya tersebut.

Lalu tak lama kemudian senyuman manis dari bibir gadis bermahkotakan indigo pun ikut menghilang dan berubah menjadi tertegun kaku. Wajah anggunnya membara seperti hendak meledak bak kembang api yang bermekaran di langit malam.

Bagaimana tidak, saat ini posisi sang pria Uzumaki sangatlah meresahkan si gadis pemalu, tubuh atletisnya kini tengah berjongkok guna menyamakan pandangannya dengan mata cantik khas Hyuuga yang duduk bersimpuh di tanah.

Secara perlahan Naruto terus mendekatkan wajah maskulinnya ke arah wajah Hinata yang semakin lama semakin begitu dekat, sehingga pada jarak 10 cm ia berhenti memajukan kepalanya dan tak henti-hentinya menatap keseluruhan lekukan wajah nan nyaris sempurna layaknya milik Hinata. Mulai dari menilik kedua mata, hidung bangirnya sesaat, hingga bibir, dan kembali lagi ke mata. Apakah Naruto tahu dari arti kode tatapan itu?, apakah dia sedang menggunakan triagle method?

"Apa yang harus kulakukan?, apa yang akan dilakukan Naruto kun?, apakah dia akan...?" Berisik isi kepala Hinata yang merah padam dan berakhir membulatkan mata pucatnya. Hinata meneguk ludahnya kasar, lidahnya terasa begitu kelu bahkan dahinya kini mulai sedikit berembun membasahi poninya yang rata.

Namun tidak lama kemudian secercah keberanian pun terbesit di hati sang gadis, ia berpikir jika hari ini adalah waktunya. Pada hari itu dan di detik itu Hinata bertekat, ia tidak akan merusak momen yang akan terjadi lagi atau pun mengecewakan. Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak pingsan dan menekan kegugupannya semaksimal mungkin.

Perlahan kelopak mata seputih susu itu terkatup, Hinata menutup matanya.

Naruto membesarkan kedua sapphire sebiru lautan miliknya. Ia terperangah tampak memikirkan sesuatu.

Rasanya sangat hangat dan mendebarkan. Hinata bisa merasakan betapa hangatnya kedua belah tangan Naruto yang besar menangkup dan menempel di pipi ranumnya. Hinata tidak peduli seberapa merah dan masaknya wajahnya saat ini, karena ia merasa sudah sangat siap.

LOVE STORY ON KONOHATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang