15

955 83 4
                                        

Gava saat ini sedang serius mendengarkan dan memperhatikan guru yang sedang mengajar didepan kelas, terlebih guru tersebut sedang menjelaskan pelajaran tentang bilangan biner yang merupakan kunci dari jawaban atas tulisan yang ada di buku catatan miliknya Kava.

"Ternyata susah juga ya, tapi seru." Gumamnya pelan sambil terus mencatat bagian yang menurutnya sangat penting untuk nantinya dia pelajari.

"Bel sudah berbunyi, jadi Ibu sudahi pelajaran untuk hari ini, jangan lupa dirumah nanti dipelajari, karena minggu depan Ibu akan mengadakan kuis." Ucap sang guru yang membuat semua murid langsung mendesah lelah karena mereka terlalu pusing mempelajari pelajaran ini, tapi tidak dengan Gava yang diam-diam tersenyum karena dia sangat menyukainya.

"Kava,"

"Iya Bu." Sahut Gava dengan cepat karena terkejut saat namanya Kava tiba-tiba dipanggil oleh guru.

"Ikut Ibu sebentar, ada yang ingin Ibu sampaikan ke kamu."

Gava hanya mengangguk, membereskan buku pelajarannya barulah dia mengambil tongkat dan keluar mengikuti langkah sang guru dari belakang.

"Silahkan duduk." Gava segera duduk saat keduanya sampai diruangan yang bertuliskan bimbingan konseling.

"Kamu tau alasannya Ibu menyuruh kamu datang kesini?" Gava hanya menggeleng sebagai tanggapan.

"Begini Kava, kamu kan sudah tidak masuk sekolah kurang lebih dua minggu, dan bahkan kamu tidak masuk tanpa adanya keterangan. Sekolah punya peraturan dan kamu sudah melanggar itu, jadi saya selaku wali kelas memberi kamu surat peringatan, tolong berikan ini kepada orangtua kamu untuk menghadap langsung ke saya."

Gava dengan ragu mengambil amplop putih yang diberikan oleh gurunya, "Karena ini bukan sekali atau duakali kamu melakukannya, setiap saya bertanya apa alasannya kamu tidak masuk kamu tidak pernah menjawabnya, jadi saya minta untuk bertemu langsung dengan orangtua kamu biar nanti mereka yang menegur kamu."

"Kalo mereka gak mau dateng gimana Bu?"

"Saya yang akan mendatanginya langsung ke rumah kamu."

Gava terdiam, tidak tau harus meresponnya seperti apa.

"Saya usahain mereka kesini, kalo begitu saya pamit." Tanpa menunggu respon sang guru Gava langsung berlalu keluar dan melangkahkan kakinya menuju halaman belakang, dia tidak ingin kembali ke kelas karena sejenak ingin menenangkan pikirannya.

Saat sudah sampai dia terkejut karena ternyata didalam sana terdapat teman-temannya Kava yang berkumpul sedang bermain kartu dan juga menyesap rokok, pantas saja sedari pagi dia tidak melihat kehadiran mereka, nyatanya mereka semua bolos dan berkumpul disini.

Keenamnya juga tidak kalah terkejut, apalagi mereka tidak pernah melihat kehadirannya Kava akhir-akhir ini, dan sekalinya muncul malah melihat keadaan temannya itu yang kini menggunakan tongkat dan juga keningnya yang terdapat plaster luka.

"Va, kemana aja lo selama ini? terus tuh kaki sama kening lo kenapa?" Gava mengabaikan pertanyaannya Fery, dia lebih memilih melangkah menuju sofa dan langsung merebahkan kasar tubuhnya.

Keenamnya saling tatap dalam diam, mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi kepada Anak itu.

"Ini apaan Va?" Dani bersuara sambil mengambil amplop yang berada ditangannya Gava.

"Surat panggilan orangtua."

"Lo bikin masalah apa sampe orangtua lo harus dipanggil?"

"Gara-gara gue gak masuk sekolah tanpa keterangan." Lalu Gava merubah posisinya menjadi duduk dan menatap bergantian keenam temannya.

PressureTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang