Chapter 14

278 46 3
                                    

"Kau sudah bangun?"

Ucapan itupun lantas segera menarik atensi dari [Name] yang semula tengah menonton Zen makan untuk beralih menoleh ke belakang masih dengan posisi jongkoknya.

Dan matanya yang tertutup oleh kain pun bersitatap dengan Moo Myung yang telah terbangun dari pingsannya, namun hanya sekilas karena pemuda itu segera mengalihkan pandangannya kala suara Ahn Ji Gon terdengar.

Ditatapnya sosok Ahn Ji Gon di depan yang berpakaian putih khas seorang tabib.

"Jangan khawatir, ini adalah rumahku." Ucap Ahn Ji Gon seraya mendekati Moo Myung yang terdiam menatapnya.

[Name] sendiri pun memilih untuk hanya memperhatikan mereka dari tempatnya yang tidak terlalu jauh dari kedua orang tersebut, bersama dengan Zen yang telah selesai makan dan kini tengah merebahkan tubuhnya di tanah sambil menarik [Name] dengan ekornya untuk membuat gadis itu menyandar pada tubuh besarnya yang penuh bulu tebal itu.

"Kau telah tertidur selama─" Jeda Ahn Ji Gon mencoba tuk mengingat berapa hari Moo Myung tertidur selama dirawat olehnya. "─lima hari."

"Dimana Mak Moon?" Tanya Moo Myung mengabaikan ucapan Ahn Ji Gon yang membuat si pria dewasa pun terdiam untuk sesaat.

"Sun Woo..." Lirih Ahn Ji Gon. "Aku menguburkannya." Lanjutnya yang langsung menghancurkan hati Moo Myung saat tahu bahwa sang teman ternyata benar-benar telah tiada.

"Kau seharusnya menyelamatkan dia..." Ujar Moo Myung dengan suaranya yang gemetar. "Kau adalah seorang tabib, kau harusnya menyelamatkannya..."

"Mengapa kau tidak melakukan apa-apa?" Moo Myung mendekat dan langsung mencengkram pakaian yang Ahn Ji Gon kenakan.

"Jika kau tidak meninggalkan Mak Moon, dia pasti tidak akan bersamaku dan tidak akan mati."

"..." Ahn Ji Gon masih diam menatapnya.

"Kenapa kau tidak melakukan apa-apa? Kenapa kau tidak melindunginya?! KENAPA KAU MEMBUNUHNYA?! WAE?!"

"Ini bukan kesalahanmu." Balas Ahn Ji Gon sambil memegang lengan pemuda di depannya yang tampak begitu sedih dan merasa bersalah atas kepergian Mak Moon.

"Dia sangat merindukanmu... Dia sangat ingin bertemu denganmu..." Kata Moo Myung yang membuat [Name] yang sedari tadi memperhatikan pun lantas segera mengalihkan pandangan, tak kuasa untuk melihat pemandangan menyedihkan itu lagi.

Rasanya ia ingin kembali menangis.

"Aku mencari... Aku terus mencarinya, aku mencarinya berulang-ulang." Ucap Ahn Ji Gon dengan matanya yang memerah dan suaranya yang turut gemetar dan serak. "Ini semua salahku, aku tidak ingin anakku yang dicambuk."

"Ini karena aku menjadi ayah yang tidak kompeten..."

"Dan tak berdaya."

'Shit...' [Name] meremat erat hanbok yang dia gunakan untuk menahan tangisnya yang nyaris pecah disana.

'Saat menyaksikannya secara langsung, ini terasa lebih jauh menyakitkan.'

_o0o_

Malam telah semakin larut namun sesosok gadis tampak berdiri di sebuah halaman yang terletak di belakang rumah dari seorang pria yang telah di anggapnya sebagai paman juga ayah untuknya.

[Name], gadis itu tak bisa tidur karena itu ia pun memutuskan untuk pergi ke halaman belakang rumah seraya membawa pedangnya bersamanya.

Dan seekor Harimau putih pun turut mengikutinya untuk menjaga gadis itu dari marabahaya malam yang mungkin saja akan mengincar sang tuan yang keluar seorang diri.

Hwarang X ReaderTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang