Chapter 16

164 38 4
                                    

"Apa maksudmu? Putri dari Shin Saegyeong... Sekarang ada disini?!" Raja Taeman benar-benar tak bisa mengendalikan dirinya, saat mendengar putri dari sahabatnya yang sudah lama dia cari keberadaannya. Kini katanya berada di Istana-nya?

"Sekarang beliau sedang menunggu anda diluar, apakah baginda ingin─

"Bawa dia kehadapanku, sekarang juga." Potong Raja Taeman yang tampak begitu lega kala tahu bahwa putri sahabatnya ternyata masih hidup, seperti yang selama ini dia yakini.

"Baik Yang Mulia."

Setelah beberapa saat Doojun pun telah kembali dengan membawa [Name] bersamanya, tak lupa tujuh orang yang mengikuti gadis itu turut masuk bersamanya. Mau bagaimana pun ini adalah wilayah kerajaan dimana bahaya bisa mengintai kapan saja, sebagai penerus berikutnya tentu keamanan [Name] adalah yang paling utama bagi mereka.

Meski dulunya kerajaan dan klan menjalin hubungan selama beberapa tahun lamanya, namun usai runtuhnya Klan kini ada kerenggangan dalam kerjasama mereka dulu setelah tak lagi bertemu selama beberapa tahun.

Dan keputusan untuk melanjutkan kembali hubungan antar mereka pun berada di tangan [Name].

Entah gadis itu akan menyambung kembali ikatan yang telah terputus usai para pendiri Klan sebelumnya meninggal, ataukah memilih untuk tidak melanjutkan hubungan tersebut.

"Tinggalkan kami." Perintah Raja Taeman usai terdiam beberapa saat ketika [Name] telah berdiri dihadapannya.

Doojun pun segera menginstruksikan orang-orang di dalam sana untuk meninggalkan kedua orang yang tengah melakukan reuni setelah beberapa tahun lamanya.

"Nona─

"Tak apa, pergilah." Sela [Name] kala Kyungsoo hendak tetap berada disana. "Tapi─?!" Belum sempat pria muda ini akan melakukan protes, salah seorang wanita -anggota Klan- pun langsung menyeretnya pergi untuk meninggalkan [Name] serta Raja yang ingin berbincang hanya berdua saja.

Setelah pihak Raja dan pihak [Name] pergi meninggalkan keduanya di dalam sana, sang Baginda Raja pun langsung turun dari singgasananya untuk menghampiri [Name] yang lekas menundukkan kepalanya.

"Salam Yang Mulia." Sapanya penuh hormat, meski gadis ini memang orang yang cukup pecicilan. Tapi bukan berarti dia tak tahu tatakrama seorang bangsawan, walau jiwanya berasal dunia modern.

"Anakku," Panggil Raja Taeman dengan lembut, seraya meraih tubuh sang gadis untuk dipeluknya dengan hangat.

[Name] kontan tertegun, sudah lama tak merasakan dekapan sehangat itu semenjak kematian orang tuanya di kehidupannya yang pertama.

"Maafkan aku..." Lirih Raja Taeman penuh sesal membuat [Name] lantas segera menguraikan pelukan. "Maaf untuk apa... Paman?" Mengikuti kebiasaan dari sang pemilik tubuh sebelumnya yang waktu kecil pernah diminta Raja Taeman untuk memanggilnya dengan sebutan paman ketika mereka hanya berdua, dia pun memutuskan untuk melakukan hal yang serupa juga.

Raja Taeman pun tersenyum kala mendengar panggilan itu dari sang gadis yang kini sudah telah tumbuh menjadi perempuan yang begitu cantik walau matanya masih saja tertutup seperti dulu.

"Maafkan paman karena tidak bisa melindungi orang tuamu, bahkan paman tak bisa menjagamu dengan benar meski paman adalah seorang Raja."

[Name] menggeleng. "Bukan salah anda paman, ini semua sudah menjadi takdir. Tak ada yang perlu disesali, karena orang tua saya mati dalam keadaan membela kebenaran. Sebab itu bagi saya mereka adalah sosok pahlawan yang begitu hebat." Ujarnya sambil tersenyum teduh, binar dimatanya menunjukkan kesungguhan dalam apa yang baru saja ia ucapkan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 11 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Hwarang X ReaderTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang