kembali pulang

66 7 1
                                        

Disinilah Juna berada

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Disinilah Juna berada

Sendirian sebatang kara

Tak habis pikir ucapan sang kakak beberapa waktu silam

Ia harus minggat dadi pondoknya yang bahkan belum genap 3 tahun lamanya?

Keputusan yang sukar,jujur saja,ia harus memilih keluarganya yang bersisa lima atau masa depannya?

Lelah sudah jiwa dan raga nya,berjalan tak tau arah

Tak hendak ke asrama,tapi malam sperti ini hendak kemana dirinya ia bawa

Tak ada diary kesayangan tempatnya berkeluh kesah,lantas kemana dirinya sekarang akan berceloteh?

"Juna?"suara panggilan itu mampu menolehkan kepala kosong tak berpikiran,atau bahkan terlalu banyak pikiran

"Ah...ustadz Adam? Belum tidur tadz?"sapa Juna menghampiri kursi ditengah hamparan rumput ladang
kecil yang dirawat pihak pondok

Ada se sosok ustadz Adam disana

"Gimana tadi di jenguk kakak?legaan?"tanya sang ustadz

"Yaa...setidaknya dibilang sama kakak kalo emang Juna ngga salah,ngga perlu malu untuk kedepannya,masalah itu privasi keluarga atau apa isinya itu tanggung jawab masing masing orang yang menjaga amanah"jawab Juna antusias
mengingat ulang nasihat lembut Harun dengan belaian tangan kakaknya yang tak kalah lembut dari sekedar ucapannya

"Alhamdulillah lah...gimana keluarga?aman kan?"ustadz Adam tak kalah lega mendengar penuturan sang kakak sekaligus penanggung jawab keluarga untuk saat ini sementara

"Nahh...itu dia..."kekeh Juna kecil diakhir,miris diingatnya

Tak ada lagi pembicaraan setelahnya,membiarkan hembusan angin membisik dingin sepasang telinga dua insan itu sontak membuat kedua manik milik Juna berair seketika

Sadar tengah menahan tangisan,ustadz Adam memilih untuk tak menggubris alasan kenapa santri nya menangis,beliau paham betul sosok manusia kuat disampingnya perlu menenangkan dirinya mandiri sejenak

Sungguh beruntung Tuhan masih menyisakan sosok sosok pahlawan tak kasat mata disaat saat hamba hamba taat nya tengah dalam ke-sukar-an

"Udah nangis nya?"

"Ahh...ustadz sadar ya? Haha..."tawa Juna hambar

"Kamu terlalu rapi menyembunyikan luka nya nak..."tak lagi kuasa dengan raut sendu milik Juna,raut yang menampilkan kekesalan,kelelahan sekaligus rasa kecewa terhadap dunia

"Haha...ustadz bisa aja"lagi lagi hanya tawa hambar yang muncul sesuai benak Juna

Tak tau harus merespon dengan apa lagi

"Terlalu berat ya beban santri nya ustadz yang satu ini? Sampe sampe nangis nya hening banget tanpa suara,ada masalah tadi sama kakak? Juna mau cerita ngga?"tawar ustadz Adam bersiap selarut apapun dirinya akan tidur nanti mendengarkan celotehan isi kepala santri nya

Atas Nama Keluarga ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang