Happy Reading
Dean Devandra
Reno lagi-lagi menembak kaki Repto hingga tubuhnya tersungkur ke belakang dan hal hasil leher Dean ikut terkena goresan pisau, hanya goresan tidak terlalu dalam, namun itu tetap saja terasa perih.
"Dean, kamu ga pa-pa kan?" tanya Darren panik dengan menyeret tubuhnya mendekat pada Dean, Dean menatap Darren begitu pun sebaliknya sebelum akhirnya Darren memeluk Dean dengan tangisan yang tidak bisa ia tahan. Sedangkan Raksa hanya itu hanya terdiam tidak mampu mengeluarkan suara karena tubuhnya terasa lemas.
Reno menatap Repto yang berteriak kesakitan. "Bawa dia pak!" suruh Reno pasa polisi yang sudah sedaritadi berada di belakangnya. Polisnya itu mengangguk dan mulai mendekat pada Adam, Samsul yang sudah tidak sadarkan diri atau mungkin sudah mati, Reno tidak peduli itu.
"Lepas! saya tidak mau di penjara, dia yang salah! dia yang seharunya di tahan di penjara!" berontak Repto pada polisi yang menahannya.
"Membusuk lah kamu di penjara,......kak," ucap Reno ini kali terakhir Reno akan memanggil Repto dengan embel-embel 'kakak'.
"Sialan lo Reno! sialan!" teriak Repto yang mulai dibawa oleh polisi itu.
Reno tersenyum menatap putar-putra setidaknya mereka masih selamat ia bersyukur karena dirinya tepat waktu. "Darren, Raksa, Arsha, Dean.." panggil Reno dengan mendekat pada keempat putra dengan mendaratkan beberapa kecupan di masing-masing kepala sang putra.
"Ayah, Dean masih ga ngerti kenapa Bunda bisa tiada," ucap Dean. Raksa mulai sedikit membenarkan posisinya, meski akan sulit menjelaskannya, namun ia akan berusaha.
"Biar abang yang cerita," kata Raksa yang membuat semua pasang mata menatapnya.
"Abang masih ingat sama kejadian hari itu? dimana hari terakhirkita hidup bersama Bunda? dan saat itu abang pulang ke rumah dengan keadaan sepi dan hanya ada Arsha dirumah dengan keadaan demam," ucap Raksa yang diangguki oleh Darren
"Abang sempet hubungin bunda dan nanya dimana keberadaan bunda hari itu, dan apa yang bunda saat itu bilang bang? Abang masih ingat bukan dengan apa yang dikatakan oleh bunda."
Darren mengangguk. "Bunda bilang lagi jemput Dean."
"Abang percaya? Abang percaya Bunda lagi jemput Dean pada saat itu?"
"Dean sudah kelas 3 smp saat itu, dan Bunda ga pernah jemput Dean maupun Arsha karena mereka sudah biasa naik angkutan umum, tapi kenapa waktu itu Bunda bilang mau jemput Dean dihari menjelang ulang tahun abang?" Darren hanya menggeleng menanggapi semua ucapan Raksa
"Nyatanya Bunda ga mau jemput Dean saat itu melainkan mau mesen kue buat suprise abang."
"Gimana lo bisa tau Raksa?" tanya Darren
"Gue ketemu Bunda di depan rumah sepulang sekolah hari itu."
Flashback
"Bunda mau kemana rapi gini?" tanya Raksa yang melihat sang Bunda sudah rapi
"Bunda mau keluar bentar" jawab Wina
"Sendiri? Raksa anter yang Bun"
"Ga usah kamu diem di rumah, bilang kalau bunda mau jemput Dean kalau ada yang nanya."
"Dean? Dia kan udah biasa bun naik angkutan umum."
"Bunda tau makanya kamu bilang mau jemput dean karena bunda mau beliin kue buat suprise'in Darren."
"Ayah tau?"
"Ga ada yang tau cuma kamu yang tau, tolong bantu Bunda ya?"
"Ya sudah bun hati-hati."
Saat ini Wina sudah berada si depan kue dan bersiap untuk pulang, kuenya tidak langsung ia bawa melainkan akan dibawakan ke rumah oleh kurir, lalu kenapa tidak pesan online saja? karena ia ingin memberikan request secara detail pada pemilik toko kue tersebut.
Wina awalnya akan memesan taxi, namun ia merasa ia ingin menikmati suasa dengan berjalan kaki. Di sepanjang jalan ia tidak ada kendala namun saat melihat penjual gulali di seberang jalan membuatnya ingat bahwa Raksa menyukai permen gulali jadi ia berniat untuk membeli.
"Baguss, ini kesempatan ku!" smrik istri Repto, Mira.
Wina sudah ancang-ancang menyebarang dan tentu saja Mira yang ada di dalam mobil itu sudah menancapkan gas mobilnya. Banyak teriakan yang memperingati Wina, namun Wina tidak mendengar sedikitpun suara-suara itu, hingga tabrakan itu terjadi.
Banyak orang yang mendekat pada Wina, namun tak ada yang bisa menahan Mira hingga terjadi tabrak lari itu, dan tidak ada yang tahu siapa itu, kecuali rekaman cctv dari atas bangun yang merekam kejadian itu, hanya kejadiannya.
Flashback end.
Dean terdiam mendengar hal itu, kenapa semua sudah terbongkar sekarang? kenapa Raksa tidak menceritakan semuanya sedari dulu? kenapa Ayah juga pergi? Dean menangis tanpa suara. Raksa dengan cepat meraih tangan Dean yang sedikit terdapat noda darah.
"Dean maafin abang, abang salah seharusnya abang cerita semua ini sedari awal, maaf tapi setiap kali abang mau cerita abang selalu kebayang wajah Bunda hari itu," ucap Raksa dengan tangisan, Dean menatap Raksa dengan senyuman, namun air matanya tidak berhenti turun membasahi pipinya.
"Lalu, abang rela lihat Dean setiap hari menanggung kebencian dari kalian, dan bahkan abang yang tahu betul kejadiannya malah ikut membenci Dean? dimana letak hati nurani abang?" tangis Dean, Raksa semakin menangis mendengar tangisan dari Dean.
"Jadi akar dari semua ini gue?" lirih Darren
Vote!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Dean Devandra (End)
Teen FictionTentang mereka yang membenci karena sedang terselimuti akan kebencian yang disebabkan oleh salah paham. "Bunda ga ada itu karena lo, dan Ayah pergi itu karena lo juga!" Rayyan Arshaka. "Gue benci ketika harus anggap lo sebagai adik gue sekaligus bag...
