Happy Reading all
Dean Devandra
Ucapan Darren tadi masih belum berhasil membuat Arsha turun hingga Raksa kembali berucap. "Bang.... Udah," ucap Raksa dengan memegang tangan Darren agar tenang, namun sepertinya semua itu hanya sia-sia saja, karena Darren masih saja terlihat marah.
"Abang mau gue pergi dari rumah ini?" Tanya Arsha dari arah tangga. "Abang mau usir gue dari rumah ini karena gue minta hal itu?" Tanya Arsha sekali lagi namun yang diam sekarang adalah Darren.
"Hanya hal itu bang?" Ucap Arsha penuh penekanan. "Cih! Ga salah omongan gue tadi kalau gue lebih milih abang yang tiada ketimbang Bunda!" Tukas Arsha.
"Arsha!" Tegas Raksa memanggil nama Arsha ia tidak suka dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh sang adik.
"Kenapa? Ada yang salah? Gue bener kan, bang?" Kata Arsha dengan sedikit mundur. Dan kali ini sudah benar-benar bisa menatap wajah dari keduanya meski dari arah tangga.
"Abang ga suka kamu kaya gitu, Arsha," ucap Darren.
"Ga suka apa? Ga suka kalau gue minta sesuatu dari abang? Atau selama ini emang abang ga ikhlas ngurus gue?"
"Jujur aja kali bang, ga usah di sembunyi-sembunyi'in kaya gini," kata Arsha melanjutkan. Darren hanya diam rasanya ia ingin sekali memukul sang adik.
"Kamu pikir abang ga tau kamu sering bolos, Arsha? Abang tau bahkan kamu bolos bukan sekali dua kali!" Teriak Darren dengan marah.
"Shit! Cuma itu?" Ucap Arsha dengan kekehan.
"Apa yang baru saja kamu bilang? Cuma itu?!"
"Ya memang ada salah? Itu hanya bolos bang tidak sampai membunuh orang lain." Ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Arsha berhasil membuat Raksa membulatkan matanya sempurna.
"M maksud kamu apa Arsha?" Tanya Raksa dengan gugup.
"Iya kan bang? Ga sampai membunuh orang seperti Dean membunuh Bunda, jadi untuk apa harus di usir?" Ucap Arsha tanpa memperdulikan wajah tegang Raksa.
Raksa yang mendengar itu bernafas lega dalam diam. "Apapun itu kamu tetap salah!" Tukas Darren.
"Kalau gitu abang tetep mau usir Arsha? Oke! Gue kabulin, bang!" Tukas Arsha yang langsung melanjutkan jalannya menuju lantai atas untuk mengambil barangnya.
"Bang! Abang apa-apaan sih! Arsha cuma bolos ga usah sampai di usir kaya gini!" Sarkas Raksa dengan kesal.
"Kamu tau kan Sa? Abang cape kerja buat biayain dia sekolah, tapi apa balasannya? Dia bolos Sa, dia bolos!"
"Kamu tau? pihak sekolah sudah sering hubungi abang soal ini, tapi abang ngapain? Abang marah? Engga Sa, abang diem berharap Arsha tidak melakukan hal seperti ini lagi, tapi nyatanya apa? Dia terus melakukan hal ini berulang kali," Ucap Darren pelan namun terdengar tegas.
"Tapi ini salah bang, Bunda pasti ga suka liat hal ini," ucap Raksa lirih.
"Abang lebih ga suka liat adik-adik abang berantakan!" Tukas Darren dan pergi menyusul Arsha.
Sedangkan Dean sudah siap memberikan kue pada Darren, lilinnya juga sudah menyala sedaritadi. Kini waktunya ia turun untuk menemui Darren yang menurutnya sudah pulang. Namun baru saja ia membuka pintu ia sudah melihat Darren menaiki anak tangga.
"Itu bang Darren," ucap Dean senang dan mulai berdiri di tangga paling atas. Darren yang melihat Dean berdiri tepat di depannya sekarang membuatnya bingung, belum lagi melihat Dean membawa kue.
"Abang, selamat ulang tahun, selamat nambah umur. Uhh Dean ga nyangka abang sudah berumur 25, Dean seneng banget. Terimakasih atas kerja kerasnya ngurus Dean bukan Dean aja tapi kita. Bang Raksa, Arsha dan Dean," kata Dean dengan senyuman.
"Bunda pasti bangga liat abang sekarang, dengan itu Dean kasih abang kue, ayo bang tiup lilinnya," kata Dean lagi dengan menyodorkan kue itu. Darren menatap Dean dan kue itu secara berganti dengan tatapan datar.
"Berisik!"
Srettt
Sorry for typo
See you next chapter, all
Janlup votee!!
Thank you, papayy
KAMU SEDANG MEMBACA
Dean Devandra (End)
Teen FictionTentang mereka yang membenci karena sedang terselimuti akan kebencian yang disebabkan oleh salah paham. "Bunda ga ada itu karena lo, dan Ayah pergi itu karena lo juga!" Rayyan Arshaka. "Gue benci ketika harus anggap lo sebagai adik gue sekaligus bag...
