Happy Reading
Dean Devandra
"Jadi akar dari semua ini adalah gue," lirih Darren yang membuat Dean menoleh menatap Darren. "Harusnya gue yang mendapatkan kebencian, bukan gue yang membenci," tangis Darren.
"Tapi semua itu sudah terlambat, nyatanya Dean yang telah menanggung semua itu, bahkan Ayah juga pergi ninggalin Dean dengan seribu kebencian. Tidak ada tempat untung pulang, tidak ada pelukan, tidak ada kasih sayang, hanya ada kebencian," tangis Dean menatap Reno.
Reno menggeleng kuat, dan menangkup wajah Dean. "Maafkan Ayah, Dean. Ayah hanya ingin mencari bukti, maaf karena Ayah meninggalkan Dean disini, maaf,” ucap Reno ikut menangis dengan memeluk Dean.
"Apa mencari bukti dengan hilang kabar seperti ini, Ayah? apa mencari bukti semua ini dengan meninggalkan ke salah pahaman yang terjadi, Ayah?" lirih Dean menatap Reno. Darren menangis mendengar ucapan Dean, ia menyesal benar-benar menyesal saat ini.
"Maafkan Ayah Dean, maafkan kami semua. Maaf karena Ayah terlambat."
"Dean, abang yang paling bersalah disini, abang yang seharusnya dibenci," kata Raksa.
"Kami semua salah Dean, termasuk gue. Gue manusia egois itu, maaf. Gue bener-bener minta maaf seribu kali sama lo," ucap Arsha, sedangkan Darren ia hanya mampu menangis saat ini, begitupun dengan Dean ia hanya mampu diam tidak mengeluarkan suara kembali rasanya masih sesak.
Rumah sakit.
Saat ini mereka sedang berada di rumah sakit, setelah mendapat luka-luka yang lumayan parah tadi, Reno memutuskan untuk membawa keempat putranya ke rumah sakit. Meski tadi mendapatkan penolakan kerass dari Dean, Reno tetap memaksanya. Saat ini anak itu sedang tertidur di bankarnya, Reno menatap wajah Dean lekat-lekat, perasaan bersalah terus–menerus menghantuinya.
"Maafkan Ayah, Dean," ucap Reno mengelus pipi Dean.
"Ayah," panggil Darren dari arah belakang tubuhnya. Reno segara menoleh kebelakang dimana bankar Darren berada. "Ayah apa Darren sejahat itu?" ucap Darren, Reno segera mendekat pada putra sulungnya itu.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu Darren?"
"Ayah, Dean ga salah, tapi Darren membenci, Darren selalu memukulnya, Darren selalu menyiksanya, Ayah." Reno tidak membalas semua ucapan Darren ia hanya mendengarkan, ia ingin mendengarkan isi hati Darren. Reno sadar dirinya juga sangat bersalah disini, dengan meninggalkan anak-anaknya yang pada saat ini masih berduka adalah kesalahan fatal baginya.
Tetapi apapun itu nasi sudah menjadi bubur, tidak bisa diulang maupun di rubah, semua sudah terjadi.
"Seharusnya Darren menjadi abang yang baik buat adik-adik Darren terutama Dean, tapi nyatanya apa? Darren malah menyiksanya. Darren bukan tempat pulang yang nyaman buat Dean melainkan neraka bagi Dean."
"Semuanya sudah terlambat, Darren menyesal, Ayah. Darren tidak bisa mengulang semuanya, Darren hanya bisa menyesal dan menyesal saat ini," tangis Darren yang saat ini sedang di peluk oleh Reno.
Dean sudah sadar sedaritadi, ia hanya mendengarkan, namun air matanya ikut turun mengenai pipinya.
"Darren, Ayah tahu ini salah, tetapi kamu ga bisa terus-terusan nyalahin diri kamu sendiri. Sekarang bukan waktunya untuk menyesal dan menyalahkan diri sendiri, tapi waktunya kamu memperbaiki diri. Menjadi sosok abang yang dulu, yang selalu menyayangi adik-adiknya," tutur Reno tenang meski ia juga terisak sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dean Devandra (End)
Teen FictionTentang mereka yang membenci karena sedang terselimuti akan kebencian yang disebabkan oleh salah paham. "Bunda ga ada itu karena lo, dan Ayah pergi itu karena lo juga!" Rayyan Arshaka. "Gue benci ketika harus anggap lo sebagai adik gue sekaligus bag...
