NJ-45

15.5K 550 19
                                        

Hari Selasa milik anak kelas XI IPS yang mencakup beberapa mata pelajaran berbobot, juga melelahkan seperti ekonomi, geografi, matematika wajib dan masih banyak lainnya akhirnya bisa Aisley lewati hingga bel pulang berbunyi nyaring.

Hari ini juga terlewati begitu mudah karena tidak ada manusia menyebalkan seperti Darka yang mengganggunya waktunya.

Sepertinya Darka sudah menyerah setelah ia membuang bekal yang sepertinya dibuat oleh Darka sendiri kemarin?

Ya, semoga saja memang Darka menyerah secepat itu.

"Ley, mau pulang bareng kita berdua nggak?" tawar Daisha yang disampingnya sudah ada Tiffany juga.

Aisley menggeleng pelan tak enak, lalu berkata, "Nggak dulu deh, Sha. Aku disuruh pulang bareng Kak Zeven. Lain kali boleh deh, kita cari waktu yang pas sekalian nongkrong dimana gitu?"

"Boleh tuh!" sahut Tiffany yang menyetujui pendapat Aisley.

Mau tak mau Daisha pun terpaksa ikut menyetujui pendapat Aisley juga. Sejujurnya, ia khawatir pada kondisi Aisley yang dipaksa tinggal dirumah keluarga Hayes. Meski Aisley bilang, mereka memperlakukan Aisley baik asalkan Aisley menjaga hati sang Mom, tapi tetap saja kejadian buruk itu bisa terjadi kapan saja. Bagaimana kalau tiba Tuan Mack tiba-tiba mengamuk tanpa sebab dan melukai Aisley? Atau malah sang Mom, Seraphine yang kembali hilang kendali?!

Wajarkan kalau ia mengkhawatirkan kondisi Aisley, sahabat yang keluarganya sudah hampir tak waras semua?

"Oke terserah lo, tapi kalau ada apa-apa langsung hubungi gue atau Tiff ya, Ley?" pinta Daisha kala langkah ketiganya sudah tiba di area parkiran sekolah. "Misalnya mereka main tangan ataupun lo ada di kondisi yang bikin lo makin tertekan."

"Iyaaa, Daishaku yang protektif." Aisley sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan sosok yang hangat seperti Daisha di dunia fiksi ini.

"Eh--si Darka kok nggak gangguin lo hari ini ya, Ley?" tanya Tiffany tiba-tiba.

Meski pertanyaan itu sangatlah merupakan sesuatu yang tidak ingin ia bahas, tapi Aisley juga bersyukur memiliki sahabat seperti Tiffany di dunia fiksi ini. Aisley sangat paham kalau Tiffany sedang berusaha mengalihkan topik pembicaraan yang sebelumnya karena terlalu berat untuk dibahas. Sayangnya, Tiffany memilih topik baru yang tidak seru.

Daisha sontak langsung memukul bahu Tiffany dengan gerakan yang santai namun penuh tenaga. Bahkan, Tiffany sedikit terjungkal kesamping karena kuatnya pukulan Daisha.

"Lo lupa apa gimana sih?! Darka kan dari pagi tidur doang di kelas, trus pas istirahat pindah tempat tidur ke UKS doang sampe bel pulang sekolah!"

"Ah iya, gue inget! Mukanya juga kelihatan agak pucet tadi pas gue nggak sengaja liat ke bangkunya," timpal Tiffany yang pada akhirnya mengingat beberapa potongan ingatannya hari ini.

Aisley memang satu-satunya manusia yang diam diantara mereka bertiga, tapi sebenarnya pikiran dan hatinya sudah berisik tanpa bisa dicegah.

Darka kenapa?

Dia sakit apa?

Apa dia sakit hati karena perlakuanku kemarin?

Tapi bukannya itu terlalu berlebihan kalau dia jatuh sakit karena perlakuanku kemarin?!

Apa dia udah baik-baik aja sekarang?

Rasa khawatir yang cukup membingungkan tiba-tiba merayap di hatinya dan menggerogoti pikirannya kala mendengar kabar Darka.

Apa mungkin ini perasaan Aisley asli yang benar-benar tertinggal?

Tapi kenapa bisa masih bisa tertinggal?

new journey!! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang