Setelah berusaha meyakinkan ke Tante Ruby bahwa dirinya baik-baik saja, Aisley juga meminta Tante dan Om nya untuk fokus ke depan dan jangan menoleh kearahnya dulu. Untungnya tanpa bertanya lebih, keduanya mau mematuhi permintaannya.
Harusnya aku nggak boleh panik karena udah pasti banget aku bukan anak mereka. Lagian aku bukan dari dunia ini, batin Aisley yang terus meyakinkan dirinya sendiri.
Walau wajah Aisley masih pucat dan tangannya masih sedikit bergetar, tapi kini Aisley sudah lebih tenang karena ia berhasil meyakinkan dirinya sendiri. Keyakinan yang tangguh tentu akan mengalahkan semua ketakutan yang tak pasti, itulah yang ia percayai.
Tapi saat mobil yang ia kendarai melaju perlahan menuju arah yang sangat ia hafal dan berakhir menghentikan lajunya didepan rumah kecil bercat coklat yang familiar dimatanya,
keyakinan yang baru saja ia banggakan itu runtuh seketika.
Karena rumah kecil bercat coklat itu jelas-jelas tempat tinggalnya dulu, sebagai Anggita Magnolia bersama kedua orangtuanya, Bapak dan Ibunya.
Dan saat hidup sebagai Gita dulu, ia merupakan anak tunggal. Jadi, sudah pasti kalau mobil ini berhenti didepan rumahnya itu berarti Gita adalah anak mereka yang hilang bukan?
Tapi bagaimana bisa? Dan bapak ibunya tentu bukan pencuri bayi seperti apa yang dikatakan Tante Ruby tempo hari!
Siapa tahu mobil ini hanya berhenti untuk bertanya alamat yang sebenarnya bukan? Iya mungkin saja! Dan semoga memang bukan Gita lah yang merupakan putri mereka. Meski begitu Aisley tak bisa untuk tidak panik. Karena bagaimana pun wajahnya saat menjadi Gita dulu benar-benar mirip dengan wajahnya Tante Ruby.
"Ayo kita turun, nak Aisley!" ajak Om Isamu yang membuat Aisley kembali mendapat kesadarannya.
Ia mungkin terlalu ribut dengan otak dan perasaannya hingga tak menyadari kini di mobil hanya tersisa dirinya dan Om Isamu saja. Saat melihat keadaan sekitar melalui jendela mobil, ia mendapati Tante Ruby yang sudah berada diluar mobil sedang tersenyum lebar.
"Ah-- maaf karena aku kebanyakan ngelamun, Om," ucap Aisley yang merasa tak enak dan kini ia sedang dibantu Om Isamu untuk turun dari mobil.
Saat keduanya sudah sama-sama berada diluar mobil, Om Isamu berkata, "Tidak masalah. Dan kalau ada yang sedang memberatkan pikiranmu tolong lupakan sejenak ya. Semuanya akan baik-baik saja, nak Aisley. Setelah dari sini Om juga akan segera mengurus kasus Mack agar hidupmu jauh lebih tenang. Kamu boleh percayakan semuanya pada Om!"
"Iya, Om. Sebelumnya terimakasih dan maaf kalau aku sedikit mengacuhkan momen berharga Om dan Tante hari ini. Harusnya aku nggak usah ikut--" Kalimat yang belum selesai itu langsung dipotong oleh Isamu.
"Ngomong apa kamu?! Jangan pernah berpikiran kalau kamu ngrepotin Om dan Tante. Itu sama sekali nggak bener, nak Aisley!"
"Iya, maaf lagi Om!"
Percakapan keduanya selesai disitu. Dan kini mereka berempat sedang melangkah bersama menuju pintu rumah kecil bercat coklat itu. Berempat karena si sopir tengah berjaga di dekat mobil, sedangkan si bodyguard yang Om Isamu bawa mengikuti langkah mereka bertiga.
Walau bodyguard yang Om Isamu bawa sudah berkenan untuk membuka paksa pintu rumah tersebut, tapi Om Isamu menggelengkan kepalanya pertanda tak setuju.
Akhirnya jalan damai lah yang mereka ambil.
Layaknya tamu pada umumnya dan tanpa ada maksud tertentu Om Isamu mengetuk pintu rumah itu beberapa kali.
Tok... tok...tok...
Tok...tok...tok...
"Permisi, kami ingin berkunjung Tuan!" teriak Om Isamu dengan lantang.
Om Isamu sudah mengetuk pintu rumah itu beberapa kali juga meneriaki pemilik rumah, namun nihil. Sama sekali tidak ada sahutan dari dalam rumah. Pun pintu tersebut tak kunjung dibukakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
new journey!! [END]
Romance-Typo bertebaran -Belum revisi [Transmigrasi story] Anggita Magnolia kini hidup di tubuh orang lain. Lebih tepatnya ia sudah meninggal dan jiwanya masuk ke dalam sebuah novel online yang sempat ia kritik sebelum tidur. Ia masuk ke tubuh si figuran...
![new journey!! [END]](https://img.wattpad.com/cover/359766642-64-k110986.jpg)