Dua seorang kaka adik layaknya candramawa hitam bercampur putih sulit untuk disatukan menjadi satu warna karena sebuah perbedaan... mencari Rahasia untuk menemukan kebenaran, mereka berharap menjadi Sembagi arutala yang berarti cita cita dan rembula...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
☆
“Kok lama ya mereka?” celetuk Galaxy yang sedang berberes barang.
“Halah, si Cakra pasti bikin lama” jawab Sagara.
“Tapi ini sampe 3 jam, kaga mungkin lah beli bahan doang sampe makan waktu gini”
“Iya, juga sih..”
“Zev, lo udah hubungi si Kaisar sama Cakra belom?” Tanya Deandra, yang ditanyai sedari tadi sudah sibuk menelfon Kaisar.
“Ga ada jawaban..”
“Si Cakra malah ga aktif nih anak”
Mendengar hal itu semuanya yang ada di situ terdiam…seperti ada sesuatu yang janggal.
“Zev, mending kita susul aja dah merek-” ucapan Galaxy terpotong kala mendengar suara gebrakan meja.
itu ulah Zevan..
“Zev, kenapa?” tanya Sagara melihat raut emosi wajah Zevan.
Tanpa basa basi, Zevan berdiri dari kursinya dan mulai turun ke bawah semua anggota inti Zarvior jelas saja kebingungan dengan tingkah Zevan tapi mereka mulai mengikuti Zevan dari belakang. Semua anggota Zarvior sudah keluar dari cafe dan mulai mengendarai motor mereka masing-masing.
Semua anggota dari Vanostra sudah berkumpul di titik tujuan mereka, tapi sepertinya jalan ini begitu sepi.
“Lo yakin? sepi gini dah” celetuk Athar.
“Bener di sini” jawab Keandra, semua anggota Vanostra terlihat waspada karena di tempat ini terlihat seperti ada kegaduhan yang baru saja terjadi.
“Lah ini bukannya si Cakra?” celetuk Marverino.
“Hah? gausah bercanda” jawab Nathaniel.
“Kagak anjir, coba kesini dah lo pada” sambung Marverino, semuanya pun mulai menghampiri Marverino. Terlihat jelas dari raut wajah mereka terkejut, ngeri, dan..kebingungan.
“Iya…ini Cakra..” jelas Zegara, cowok itu perlahan berlutut dan menepuk-nepuk pipi merah Cakra.
“Cakra…bangun..”
“Badannya dingin, sialan..” gumam Zegara.
Semuanya memilih diam menunggu Cakra sadar, dan akhirnya..
“Kalian…”
“Pelan-pelan jangan buru-buru..” jelas Shankara, Zegara membantu Cakra untuk duduk dan bersandar.
“Ada yang bawa minum kagak?” Tanya Athar, salah satu anggota Vanostra memberi botol minuman ke Athar.
“Nih minum pelan-pelan aja, atur nafas lo dulu” sambungnya, Cakra mengangguk dan perlahan mulai meminum air itu lalu menetralkan nafasnya yang tersengal-sengal.