27

1.2K 120 23
                                        

Haiii lama Hiatus semoga masih ingat cerita ini and Happy New Year semoga panjang umur kalian semua dan keberkahan selalu melimpah untuk keluarga kalian semua😭🙏

Haiii lama Hiatus semoga masih ingat cerita ini and Happy New Year semoga panjang umur kalian semua dan keberkahan selalu melimpah untuk keluarga kalian semua😭🙏

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Leon terkekeh kecil sembari menggeleng. Menatap Prasasti tak percaya. Tangannya bergetar perlahan menyentuh jemari lembut Prasasti. Bulir air mata yang tak dapat dibendung lagi.

"Apa kamu sangat tersiksa bersamaku? Apa terlalu dalam luka yang kutorehkan?" Tanya Leon dengan lirih. Ia tahu tak hanya membuat Prasasti menderita bahkan lebih dari itu. Pelecehan, penghinaan, penindasan, penghianatan bahkan jika diingat Leon merasa malu dengan dirinya sendiri. Kaisar macam apa yang begitu buruk pada istrinya sendiri.

"Hey meskipun terdengar ini sangat kurang ajar. Tapi bisakah aku mendapatkan kesempatan kedua? Tolong balas semua perbuatanku padamu-" Ucap Leon masih membujuk Prasasti. Mengenyahkan harga dirinya sebagai penguasa negeri dan bersimpuh bagaikan pengemis dihadapan Prasasti.

"Baiklah, aku memberikanmu kesempatan menjadi ayah yang baik untuk anak kita. Aku sudah memaafkan semuanya dan ingin melupakan segalanya. Jadi dengan memberikan luka yang sama apakah kau berfikir aku akan merasa lebih baik? Hanya sampai aku melahirkan. Aku memberikanmu waktu sampai anak ini lahir." Putus Prasasti membuat Leon berucap syukur.

"Ya, aku akan menjadi suami dan ayah yang terbaik di dunia ini." Ucap Leon dengan bersemangat.

Prasasti menatap Leon dalam diam. Menarik nafasnya dalam-dalam. Setelah semua ini, ternyata mentalnya sangatlah kuat. Padahal ini bukanlah dunianya namun bertahan sampai akhir tanpa hilang akal membuat Prasasti lega. Ternyata kisah pelintas dimensi tidaklah seindah bayangannya. Tidaklah selalu berakhir bahagia. Nyatanya Prasasti ingin menyudahi dan sialnya ia tidak tahu kapan ia bisa keluar dari dimensi ini. Tidak ada misi yang jelas sehingga semuanya nampak abu-abu.

"Ayo kamu harus banyak beristirahat." Ucap Leon dengan lembut membantu Prasasti menuju kamar mereka.

"Eum Yang Mulia." Panggil Prasasti menghentikan langkah Leon.

"Bisakah kita mengganti panggilan itu Asti? Aku ingin menghapus sekat diantara kita. Aku ingin memperbaikinya dari sini." Ucap Leon menatap Prasasti dengan dalam.

Perempuan itu mengangguk dan mengikuti langkah Leon. Apa setelah semua sikap lembut itu ia luluh? Tidak. Rasanya hambar bahkan hampir muak. Ia bisa memaafkan Leon namun menatap wajah itu, semua perasaan kesal terutama harga dirinya yang sudah lebur hancur namun pria itu bisa mengulaskan senyumnya seakan memperbaiki semuanya seperti memperbaiki mainan. Mainan saja jika sudah tak berbentuk dibuang dengan mudah oleh tuannya. Lalu bodohnya Leon ingin memperbaikinya?

Prasasti hanya terdiam sembari memperlihatkan segala tindakan Leon padanya. Tenaga hari ini sudah diambang batasnya. Leon dalam diam memperhatikan paras damai istrinya yang tertidur lelap. Merapikan surai rambutnya dan mengulaskan senyum. Prasasti sudah kembali padanya. Ia tidak akan membiarkan Prasasti lepas lagi. Semakin menyadari besarnya cinta yang tumbuh membuat Leon semakin serakah. Mengapa ia bodoh telah menyia-nyiakan Prasasti selama ini? Yah, setidaknya semua belum terlambat.

180Degrees [RETURN AGAIN]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang