•kisah dari bunda claretaa

303 28 3
                                        

semua para murid SMA Garuda Bangsa berbondong-bondong ke pintu gerbang sebab bel sekolah sudah berbunyi, begitu juga jenny dan wili yang kini tidak perduli dengan keadaan lea yang terlihat sangat miris, bahkan penampilan dari gadis itu sekarang tampak acak-acakan, mulai dari baju, rambut, sampai wajah yang kotor ulah para murid yang memoleskan lumpur ke wajah gadis itu.

"tolong, itu bukan gue..!" tangis lea yang terduduk di atas tanah.

"lea, bangun lea." ucap claretaa mencoba mendekati adiknya

"jangan deket-deket gue! ini semua karena lo, lo pasti mau ngetawain gue kan? pasti lo puas banget ngelihat gue tersiksa kaya gini iyakan?!" bentak lea mencoba memukul kakaknya, tapi untung saja argeo segera menarik tubuh claretaa agar menjauh dari lea.

"Cla, gak usah di ladenin. lo gak perlu bantu dia, toh dia memang pantes dapet ganjaran." ucap argeo memandang sinis kepada lea yang masih terkapar

"pergi kalian semua! gue benci kalian semua!" usir lea kepada empat orang remaja yang masih berdiri didekatnya.

"lea, lo jangan gitu. kita pulang ya?" ucap claretaa yang merasa kasihan pada lea, bagaimana pun lea masih berstatus adiknya.

"lo budek apa gimana?! gue bilang pergi! ajak temen-temen lo! biarin gue sendiri disini!" usir lea sekali lagi

"biarin lea sendiri disini, kita aja yang pulang ya?" ucap argeo memegang kedua bahu claretaa

"tapi kasihan lea ar.."

"lo denger tadi'kan? lea gak mau kita ada disini." argeo berusaha meyakinkan claretaa.

"ngapain masih disini? ayok kita pergi, katanya tadi mau kerumah gue." ajak aza yang juga sudah bosan ada ditempat itu.

"yang dibilang argeo bener mending kita pulang sekarang biarin lea ada waktu untuk sendiri dulu, masih ada fakta yang belum kita tau. ini juga waktunya pas nunus patroli, gue lagi capek mau lari-larian." jelas rayen yang berharap claretaa mengerti.

"lea, kita pulang ya? kalo ada perlu apa-apa lo bisa nomor ini-" berniat memberi nomor yang ada di ponsel aza yang ia pinjam.

"itu nomor privasi. yang boleh save dan tau nomor itu cuma argeo, rayen, dan gue. selama handphone itu belum milik lo sepenuhnya." ujar aza memotong ucapan claretaa ke lea. "lagi pula gue yakin dia gak akan telepon lo, mungkin yang bakal di telepon nya adalah segenk dugem club nya." sambung aza sambil tersenyum mengejek ke arah lea.

"BACOT LO! PERGI SANA! ATAU KALIAN GUE BUNUH!" ancam lea.

"coba aja kalau bisa, udah deh lama-lama gila kita ngeladenin ni bocah." gerutu aza langsung melangkah ke arah motornya yang terparkir disusul yang lain meninggalkan lea yang masih duduk tak berdaya di tanah itu.
_

sesuai apa yang mereka bicarakan tadi saat di basecamp, kini mereka mengikuti pergerakan motor aza yang kata gadis itu ia akan membawa ketiga temannya ini kerumahnya. rayen kini terlihat sangat antusias, entahlah ia seperti merasakan salah tingkah. padahal hanya kerumah aza, bukan kerumah presiden.
tempat tinggal gadis itu ternyata lumayan jauh dari yang mereka kira, mereka harus menempuh perjalanan lumayan lama akibat jauhnya rumah aza, mungkin ini sebabnya gadis itu masuk ke sekolah hampir terlambat di setiap harinya.

ketiga motor itu terhenti di sebuah gerbang berwarna hitam yang menjulang tinggi, terlihat dua satpam yang tengah menjaga itu agak sedikit terkejut ketika melihat aza membawa teman-temannya.

"apa ini teman-teman nona aza?" ucap salah satu maid yang berjaga dirumah besar nan mewah tersebut.

"iya, tidak usah dijelaskan saya sudah tau konsekuensinya, anda tidak perlu takut." ujar aza mengubah gaya bahasa nya menjadi bahasa yang baku. "boleh saya tau dimana mommy sekarang?"

Perfect love (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang