chapter 10

8 3 0
                                    

Abigail: Ketika sampai di atap, segera lah memasang tali yang biasa untuk mu panjat tebing. Lalu, hubungi pemadam kebakaran katakan pada mereka bahwa mall terjadi kebakaran dan bilang bahwa kau berada di atap dan tidak bisa turun.

Nadi menghembuskan nafasnya, bagaimana bisa dia memerintahkan tanpa cepat-cepat datang menolongnya apalagi sekarang kata Abigail mall terbakar?! Ada-ada saja ulah si Abigail ini ya Tuhan.

Tanpa basa basi karena Nadi sudah tepat di atas atap dengan pintu atap yang dikuncinya sebab perintah Abigail, sekarang pun dirinya lakukan perintah Abigail. Dengan cepat meraba-raba isi dalam tasnya, setelah menemukan tali Nadi pun segera memasangnya di besi yang berada di pinggiran atap. Ketika melihat talinya tak cukup panjang untuk sampai dibawah ia pun mendesah sebal.

"Aku tahu isi pikiran mu Abigail, tapi aku salah membawa tali!" Ringisnya menyadari kebodohannya.

Masih dalam keadaan emosi meluap, Nadi mengeluarkan ponselnya lalu menelpon pemadam kebakaran.

"Joe, ini aku. Bisakah kau datang ke mall yang berada dipusat kota Swiss. Di sini sedang terjadi kebakaran dan aku sedang di atap mall jadi tidak bisa turun, pintu atap juga terkunci otomatis." Beritahunya pada seorang pemadam kebakaran bernama Joe, yang berasal dari Indonesia sama seperti Nadi.

"Benarkah? Aku tidak pernah menyangka kalau mall terbesar di Swiss terbakar. Apakah kamu baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja, sepertinya apinya belum marak sampai ke atas. Jadi, cepatlah menjemput ku."

"Aku dan rekanku segara kesana. Berlindung lah jika kamu takut."

"Baik, terimakasih." Bibirnya mengulas senyum kemudian sambungan dimatikan kedua pihak.

Tubuhnya merosot ke lantai. Menjulurkan kakinya lurus ke depan, satu kata untuk hari ini adalah Lelah. Sungguh, hari ini melelahkan. Dari melarikan diri dari Ardega, berlari-larian dari lantai satu menuju lantai 7 bersama anak buah Ardega, kini... Luna pun entah ke mana. Apakah dia tahu bahwa sekarang dirinya sedang menjadi buronan kekasih mesumnya itu?

Ya Tuhan... Mengapa hidupnya jadi seperti ini. Entah salahkah, entah juga benar intinya Nadi menjadi sasaran empuk bagi Ardega.

"Hei Nadi keluar! Jangan beraninya kamu bersembunyi dari kami!"

Nadi menghembuskan nafasnya dengan berat. "Mereka dibayar berapa ya untuk menghancurkan seseorang? Mereka benar-benar dikuasai uang," desisnya hanya duduk menatap pintu yang dibaliknya ada banyak pria berotot besar dan kepala mulus licin, alias botak.

Manik matanya terus menatap ke depan, menunggu pintu itu dirusak oleh kedatangan Abigail. Sambil berpikir bagaimana semudah mereka mendapatkan uang daripada harus lelah bekerja dari pagi hingga malam jika bisa memegang uang milyaran saat diperintahkan saja.

Tidak menunggu waktu yang lama, seseorang berhasil membobol pintu yang tadinya Nadi kunci secara otomatis.

Mata Nadi membelalak serta meringis melihat Abigail berhasil mencapai lantai atas dengan keadaan babak belur. Tak heran juga, lawan Abigail bukanlah bertubuh kecil melainkan 2 kali lebih besar darinya. "Lama sekali kamu-" belum selesai protes Abigail menariknya ke pinggiran atap.

"Mau apa?!" Pekik Nadi.

"Melompat," sahutnya melihat ke bawah gedung, jauh dari atas terlihat pemadam kebakaran sudah datang.

"Buat apa melompat? Aku sudah memasang tali, ya... Walaupun kependekan."

"Kurang cerdas."

Nadi memutar bola matanya malas, Abigail mulai mencerca dirinya yang kehilangan akal mulai dari sekarang.

CRIMINAL LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang