chapter 11

11 2 0
                                    

Jakarta, 23.50 Wib

Hujan turun perlahan-lahan, menorehkan irama lembut di atas atap rumah dan daun-daun yang mulai memberat. Langit kelabu bergulung seperti kanvas yang dilukis dengan nuansa muram, sementara aroma tanah yang basah menguar, mengisi udara dengan kesan keabadian. Setiap tetesnya jatuh seolah membawa cerita, menghantarkan pesan-pesan sunyi dari langit kepada bumi.

Di kejauhan, suara gemericik air yang mengalir ke selokan menyatu dengan dentingan halus hujan di kaca jendela, menciptakan simfoni yang hanya bisa dipahami oleh jiwa-jiwa yang sedang merindu. Jalanan mulai tergenang tipis, memantulkan bayangan lampu jalan yang berkilauan seperti bintang yang jatuh ke bumi. Orang-orang berlarian, melindungi tubuh mereka dari basah, meskipun tak sedikit yang berdiri terdiam, membiarkan hujan meresap hingga ke hati mereka.

Kesedihan menyelubungi dirinya seperti kabut tebal yang enggan pergi, menghimpit dada dengan beban yang tak kasat mata. Matanya kosong, seolah mencari sesuatu yang hilang di ruang yang tak berbatas. Kata-kata tersangkut di tenggorokan, menggumpal menjadi bisu yang menyesakkan.

Di sudut ruangan, Nadi duduk memeluk lutut, tubuhnya menggigil meskipun udara tidak sedingin diluar sebab bantuan penghangat di dalam kamarnya. Ada air mata yang tak kunjung jatuh, tertahan oleh rasa sakit yang terlalu dalam untuk dilukiskan. Hatinya seperti kaca yang pecah berkeping-keping, setiap pecahan kecilnya melukai lebih dalam saat ia mencoba merangkainya kembali.

Kesunyian menjadi temannya yang setia, menggema dalam kehampaan yang sulit dijelaskan. Waktu berjalan, tetapi rasanya seperti terhenti, meninggalkan dirinya terjebak dalam pusaran kenangan yang pahit. Ia ingin berteriak, tetapi hanya bisikan lirih yang keluar, seakan dunia pun terlalu keras untuk mendengarnya. Kesedihan itu bukan lagi sekadar rasa-ia telah menjadi bagian dari dirinya, sesuatu yang tidak bisa dihindari, hanya bisa diterima, meskipun dengan hati yang terus-menerus terluka.

Sudah lebih dari seminggu kepulangannya dari Swiss Nadi tetap enggan keluar menyapa udara atau manusia, ia lebih memilih di dalam kamarnya bersama kesunyian itu. Hatinya menjadi rapuh, tidak ada lagi kebahagiaan atau semangat hidup di dalam dirinya.

Ketukan di pintu menghentikan kesunyian malam, diikuti suara derit engsel saat pintu perlahan terbuka. Cahaya lembut dari lampu kota menyelinap ke dalam kamarnya, sedikit menerangi wajah seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu Nadi yang berdiri di ambang pintu. Wajahnya tampak letih serta di penuhi luka yang mengering, rambutnya kusut bagai trauma, dan mantel panjangnya basah oleh hujan yang masih turun dengan deras di luar.

Beliau baru kembali dari
Apotek setelah membeli obat untuknya.

Wanita itu menghampiri Nadi. Menyentuh keningnya yang masih meninggalkan jejak hangat, demamnya sudah mereda.

"Nadi, di minum obatnya." Ia hanya menatap pil di telapak tangannya yang barusan di taruh oleh sang ibu. Ibu menatapnya iba, menyedihkan ya hidupnya? Tanpa ingin dikasihani, karena ia bukanlah pengemis. Tapi memang itulah pandangan orang terhadapnya.

Ibu duduk di depannya, masih dengan tatapan iba beliau menarik tangannya untuk digenggam erat. Hanya ibu yang Nadi miliki, walaupun beliau selalu sibuk tapi ibu tetaplah ibu yang baik.

Air matanya mengalir kesekian kalinya. Setelah kejadian itu Nadi mudah menangis karena kecewa dan sakit hati.

"Maafkan Luna, dia melakukan itu pasti karena terpaksa." Kata ibu yang selalu berpikir positif. Ibu terlalu baik sampai ia dikecewakan pun beliau tetap membela yang salah. Bukan berarti ibu tidak sayang pada Nadi, hanya saja ibu memang selalu baik kepada siapapun, dia tidak ingin menyalahkan orang secara sepihak.

Sudah banyak Nadi ceritakan kepada ibu mengenai Luna dan Ardega, dari banyaknya cerita ibu tidak menyimpulkan sendiri. Beliau pun terlihat masih trauma atas kejadian yang terjadi padanya saat Nadi berada di Swiss. Ardega benar-benar menyekap ibu tapi tidak melukai ibu. Ibu bilang Ardega baik, dia melakukan itu agar Nadi pulang ke Indonesia dan melupakan Swiss serta Luna.

CRIMINAL LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang