Hari kelulusan tiba, dan Nadi berdiri di antara teman-temannya dengan toga kebanggaan terpasang di tubuhnya. Hari yang selama ini ia nantikan akhirnya datang. Dengan gelar sarjana hukum di tangannya, ia merasa seperti baru saja membuka pintu menuju dunia yang lebih besar.
Di antara tepuk tangan dan sorakan keluarga serta sahabat, Nadi melihat ibunya tersenyum bangga dari kejauhan. Ia tahu betapa ibunya telah bekerja keras untuk mendukungnya hingga titik ini. Setelah prosesi selesai, ibunya segera menghampiri dan memeluknya erat.
"Kamu berhasil, Nak," ucap sang ibu dengan suara penuh haru.
Nadi tersenyum. "Terima kasih, Bu. Untuk semuanya."
Setelah acara kelulusan, ia dan beberapa teman dekatnya merayakan momen ini dengan makan bersama di sebuah restoran kecil yang sering mereka kunjungi sejak awal kuliah. Percakapan di meja penuh dengan nostalgia—tentang tugas-tugas berat, dosen yang killer, dan momen-momen sulit yang kini terasa lucu saat dikenang.
Namun, di balik kebahagiaan ini, Nadi tahu ada pertanyaan besar yang menunggu untuk dijawab. Masa kuliah telah berakhir, dan sekarang ia harus menentukan langkah berikutnya. Apakah ia akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi? Magang di firma hukum ternama? Atau justru memilih jalan yang lebih menantang?
"Apa kalian sudah ada rencana menikah?" Sontak semua tanpa terkecuali Nadi terbatuk ketika menikmati kopinya.
Semua orang di meja segera menoleh ke arah sumber pertanyaan. Rupanya, itu berasal dari Ananta, salah satu teman mereka yang dikenal blak-blakan dan kerap melontarkan pertanyaan tanpa tedeng aling-aling.
"Astaga, Ananta, pertanyaanmu sungguh tanpa batas, ya?" keluh Serafina sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
Raka tertawa kecil sembari menepuk punggung Nadi yang masih terbatuk. "Jujur, aku juga terkejut. Kita sedang membahas rencana pekerjaan, tiba-tiba pembicaraan beralih ke pernikahan."
Ananta hanya mengangkat bahu dengan santai. "Ya, soalnya kita sudah lulus. Sebentar lagi pasti akan mendapat pertanyaan ini di rumah. Aku hanya mendahului saja."
Keluhan serentak terdengar dari seluruh meja. "Jangan diingatkan!"
Nadi akhirnya berhasil mengatur napas dan meletakkan cangkir kopinya di atas meja. "Serius, Ananta? Aku saja masih bingung akan bekerja di mana, apalagi memikirkan pernikahan."
"Siapa tahu ada yang sudah memiliki rencana," ujar Ananta, sembari mengedarkan pandangan ke seluruh meja. "Misalnya, Raka. Apakah kamu sudah memiliki calon?"
Raka tertawa sambil mengangkat kedua tangannya. "Gaji saja belum ada, Ananta. Mengajak makan di restoran mahal pun masih perlu dipertimbangkan, apalagi menikah."
Percakapan pun berlanjut dengan cerita masing-masing mengenai bagaimana keluarga mereka mulai melemparkan kode-kode tentang pernikahan. Ada yang menanggapinya dengan santai, ada yang mulai resah karena terus-menerus ditanya oleh orang tua, dan ada pula yang, seperti Nadi, sama sekali belum ingin memikirkan hal tersebut.
Namun, di tengah tawa dan candaan yang mengisi ruangan, Nadi tidak bisa mengabaikan satu kenyataan—hidupnya kini telah memasuki babak baru. Setelah ini, akan ada lebih banyak pertanyaan yang datang, bukan hanya mengenai karier, tetapi juga tentang masa depannya secara keseluruhan.
Dan cepat atau lambat, ia harus mulai mencari jawabannya.
Di sisi lain, pandangan Nadi teralihkan. Matanya menangkap sosok yang duduk sendirian di sudut restoran, jauh dari keramaian. Abigail.
Pria itu tampak begitu tenang, seakan tak terganggu oleh riuh percakapan dan tawa yang memenuhi ruangan. Di depannya ada secangkir teh yang uapnya masih mengepul tipis, sementara jemarinya dengan santai membalik halaman demi halaman buku yang ia baca.

KAMU SEDANG MEMBACA
CRIMINAL LOVE
General FictionSETELAH BACA WAJIB VOTE SERTA FOLLOW‼️ Bedakan mencintai tulus dari hati dan mencintai hanya karena nafsu. Akibat dari perasaan yang keras dan susah membedakannya, akhirnya jatuh ke dalam jurang manusia tak berotak.