Mereka tiba di markas satu jam kemudian. Bangunan itu tersembunyi di bawah kedok perusahaan logistik biasa, tetapi di dalamnya, ruangan penuh dengan layar monitor, peta, dan dokumen investigasi.
Rendra sudah menunggu mereka dengan ekspresi serius. "Kami menemukan sesuatu di reruntuhan apartemen Reza," katanya tanpa basa-basi. Ia meletakkan sebuah tablet di atas meja, menampilkan gambar dari lokasi kejadian.
Nadi mendekat dan melihatnya dengan seksama. Foto-foto menunjukkan sisa-sisa ledakan, tetapi ada satu hal yang membuatnya merinding-sebuah simbol yang digambar di lantai dengan warna merah.
Simbol itu bukan sekadar coretan biasa. Itu adalah lambang organisasi bawah tanah yang pernah disebut dalam penyelidikan sebelumnya. Lambang yang berhubungan erat dengan Ardega.
"Jadi, ini bukan hanya tentang Reza," gumam Nadi. "Dia bukan satu-satunya yang terlibat."
Abigail menyilangkan tangan di dadanya. "Kami juga menemukan ini."
Ia meletakkan sebuah benda di meja-sebuah kalung dengan liontin kecil berbentuk kunci. Nadi menatapnya dengan dahi berkerut.
"Kami menemukannya di bawah puing-puing. Dan berdasarkan data, kalung ini terdaftar atas nama seseorang..."
Rendra mengetuk layar tablet, menampilkan sebuah profil.
Nadi membelalakkan mata.
"Ini..."
Nama yang tertera di sana membuat napasnya tercekat.
Asmara Nadiloka.
Itu adalah namanya sendiri.
Jantungnya berdegup kencang. Bagaimana bisa kalung yang terdaftar atas namanya ditemukan di reruntuhan apartemen Reza?
"Aku tidak pernah punya kalung ini," ucapnya pelan, nyaris berbisik.
Abigail menatapnya tajam. "Tapi seseorang ingin kita menemukannya. Dan itu berarti hanya ada satu kemungkinan..."
Nadi menelan ludah. "Reza menjadikanku bagian dari permainan ini sejak awal."
Keheningan menyelimuti ruangan. Kini, semuanya semakin jelas-mereka tidak hanya memburu Reza. Mereka juga sedang diburu.
Suasana ruangan terasa semakin berat. Nadi menatap kalung itu tanpa berkedip. Pikirannya berputar, mencoba mencari celah yang masuk akal dalam situasi yang sama sekali tidak masuk akal.
"Aku tidak pernah memiliki ini," ulangnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada orang lain.
Abigail mengambil kalung itu, membolak-baliknya di antara jari-jarinya. "Kalau begitu, ada dua kemungkinan. Seseorang ingin menghubungkanmu dengan Reza-atau Reza memang telah mengincarmu jauh sebelum kita menyadarinya."
Rendra mengetukkan jarinya ke meja. "Kita perlu menyelidiki ini lebih dalam. Ada kemungkinan besar Reza bekerja sama dengan Ardega, dan jika benar, maka ada sesuatu tentang Nadi yang mereka incar."
"Atau sesuatu yang aku miliki," koreksi Nadi. Ia mencoba mengendalikan emosi yang mulai berkecamuk. "Tapi aku tidak tahu apa."
Abigail meletakkan kalung itu kembali ke meja. "Kita harus mencari tahu. Mulai dari masa lalumu. Mungkin ada sesuatu yang selama ini kamu anggap sepele, tetapi sebenarnya memiliki arti besar bagi mereka."
Nadi menghela napas. "Itu akan sulit. Aku tidak ingat pernah terlibat dengan orang-orang seperti mereka. Aku hanya menjalani hidup biasa sebelum ini."
Rendra mengangguk. "Mungkin begitu. Tapi orang-orang seperti Ardega dan Reza tidak melakukan sesuatu tanpa alasan. Jika mereka mengincarmu, itu berarti kamu memiliki sesuatu yang mereka butuhkan. Entah itu informasi, barang, atau bahkan sekadar koneksi."

KAMU SEDANG MEMBACA
CRIMINAL LOVE
General FictionSETELAH BACA WAJIB VOTE SERTA FOLLOW‼️ Bedakan mencintai tulus dari hati dan mencintai hanya karena nafsu. Akibat dari perasaan yang keras dan susah membedakannya, akhirnya jatuh ke dalam jurang manusia tak berotak.