"Pada dasarnya racun manusia, adalah manusia itu sendiri. Mereka terlalu tamak akan 'kesenangan' yang bersifat sementara di dunia. Dan akhirnya hanya membuat mereka terus terlena. Yah, karena memang pada dasarnya...." Putra mahkota menjeda ucapannya dan menatap lurus Rhea. "Manusia adalah makhluk paling egois."
Rhea diam.
Hanya terus memperhatikan gerak-gerik pria di depannya yang susah merusak beberapa barang.
"Menurutku...." Rhea membuka suara setelah hening beberapa saat.
"Manusia tidak akan mudah untuk berubah. Mau kau coba ribuan kali pun, Manusia tidak akan pernah berubah. Dia akan terus melakukan hal yang sama berulang-ulang. Bisa dikatakan, mereka akan terus jatuh di lubang yang sama?"
"Bukankah seharusnya mereka di berikan kesempatan untuk berubah? Tidak semua manusia seperti yang kau bilang. Lagipula, bukankah kau juga manusia?". Brian menyeringai menaik turunkan alisnya.
Rhea mendengus.
"Sayangnya iya. Aku adalah termasuk dari makhluk egois itu. Tapi ada yang membedakan aku dengan mereka."
"Yaitu?"
"Aku tidak memiliki emosi dan simpati."
"Kau akan merasakan emosi tersebut bila tiba waktunya. Berbicara tentang pada waktunya, aku ingin berterima kasih padamu yang sudah membakar keluarga itu." Brian mengetuk buku usang di ujung meja.
"Dengan senang hati. Jika kau butuh bantuan untuk membakar habis 'kastil'-mu itu, atau bahkan dirimu sendiri, aku akan dengan senang hati melakukannya." Rhea menyeringai.
Brian tertawa kecil.
Hening.
Rhea menjetikkan jarinya. Kepulan hitam membawa kembali barang-barang yang di rusak Brian pada tempatnya dan utuh tanpa ada lecet sedikit pun.
"Oh, aku ingin bertanya sesuatu" Brian menepuk meja pelan.
Rhea menaikkan alisnya.
"Kebetulan aku tidak ingin menjawabnya"
Brian menghirukan ucapan Rhea. "Kenapa kau bisa menjadi anggota sekte sesat itu?"
"Sekte sesat?"
Brian mengangguk kecil. "Dark night atau apapun itu"
Rhea memutar bola matanya.
"Kau memiliki potensi, namun kau menggunakannya ke jalan yang salah."
"Memangnya darimana kau mengetahui dimana itu jalan yang benar dan jalan yang salah? Semua jalan memiliki tujuannya masing-masing. Dan kau" Rhea menunjuk Brian dengan jari telunjuknya. "Adalah orang asing yang tidak ada di jalan maupun Tujuanku." Desis Rhea tajam.
Brian tersenyum sinis. "Aku bisa membawamu dengan cepat menuju tujuanmu".
Rhea menatap merendahkan.
"Orang tuamu. Kau tidak tau siapa orang tua mu bukan?"
"Sayangnya aku tahu-"
"'-tapi kau tak pernah melihatnya " Brian menyeringai.
"Jadi, apa urusanmu kesini?" Rhea mengalihkan topik pembicaraan.
"Hanya ingin berkunjung" Brian menaikkan bahunya acuh.
"Jika begitu-" Rhea menunjuk pintu. "Pintu keluar di sebelah sana."
"Baiklah, baiklah. Aku kemari ingin menawarkan sesuatu." Brian mengeluarkan Ruby Merah dari sakunya. "Bantu aku menuju tujuanku. Maka aku akan memberikan berlian ini untukmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark Knight : Rhea
FantasyNamanya Rhea Zanovya. Gadis berwajah suram dan datar. Namun, ternyata Rhea bukan milik dunia yang ia tinggali selama ini. Gadis itu adalah milik dunia pararel yang tidak akan pernah ia bayangkan. Dunia pararel penuh dengan sihir, misteri dan keku...
