"Akh!!! Persetanan dengan semuanya!!!"
Rhea berbalik kembali ke Kerajaan Utara. Pedangnya ia acungkan setinggi mungkin. Butiran salju menumpuk di atas kepalanya.
"Sekarang atau tidak sama sekali" bisik Rhea dingin. Ia berjalan pelan menuju pintu masuk. Kedua penjaga yang sebelumnya melihat Rhea, kebingungan.
Sebelum keduanya membuka mulut untuk bicara, Rhea menebas leher mereka dengan sekali tebasan. Gadis itu menendang pintu aula dengan kuat, sehingga membuat atensi para bangsawan teralihkan. Alunan melodi musik berhenti.
Aula tersebut sunyi.
Para bangsawan itu mulai berpikir. "Siapa gerangan yang beraninya datang dengan penuh darah?" Atau mungkin, "Siapa tamu tak di undang ini??"
Para bangsawan itu menatap Rhea ingin tahu.
Rhea memasukkan pedangnya ke sarung. Manik hijau itu menyapu sekitar.
"Siapa bajingan yang bernama Raja Utara atau siapa pun itu"
Ruangan aula mulai ricuh. Ribuan pasang mata itu menatap Pria yang duduk di singgasana lantai atas.
Pria yang menduduki singgasana itu menatap Rhea waspada. Manik coklat dan hijau itu bertemu.
Menatap satu sama lain, tak kalah dingin dengan salju di luar sana.
"Darah lebih kental dari air rupanya." Suara tenang terdengar tak asing di telinga Rhea.
Langkah kaki menggema.
Lelaki berambut abu-abu itu tertawa kecil, lalu mendekat kearah Rhea. Pakaian hitam-abu membalut indah tubuh jangkungnya. Dan, senyumnya masih sama.
"Halo Rhea, lama tak bertemu. Aku tak menyangka kau bertemu dengannya lebih cepat dari dugaanku". Dia, Vieer.
Rhea mengangkat sebelah alisnya. Pedangnya yang tersimpan di pinggang gadis itu, ia lepaskan. Bilah tajam pedang itu mengarah ke leher Vieer. "Aku tidak menyuruhmu berbicara" desis gadis itu dingin.
Vieer meneguk ludah.
Seruan tertahan dari bangsawan memekakkan telinga Rhea.
"Diam" bisik Rhea pelan, namun sangat terdengar jelas oleh semua orang.
"Apa yang kau cari Nak?" Pria yang duduk di singgasana itu menuruni tangga menuju Rhea. Langkahnya tenang dan berirama. Rahang yang tegas, alis tebal dan perawakan yang sangat tegas dan kokoh itu menatap Rhea ketika ia berdiri tepat di depan gadis itu.
Rhea sedikit menaikkan dagunya untuk menatap Raja Utara itu. Gadis itu mendecih sinis. Ia melempar asal pedangnya di karpet merah.
"Menurutmu apa yang saya cari ya?" Rhea memiringkan kepalanya dan tersenyum sinis. Rhea berjinjit kecil. Mulutnya ia dekatkan dengan telinga Raja Utara itu. "Ayah" bisiknya pelan. "Aku mencarimu " Rhea tersenyum dingin. Raut wajahnya datar tanpa ekspresi apapun.
Raja Utara itu menatap sejenak Rhea yang sudah mundur selangkah darinya. Pria itu berbalik menatap para bangsawan.
"Pesta di bubarkan" suara dingin itu mengalun tegas.
Para bangsawan mulai berhamburan pergi. Sembari bertanya tanya dalam hati.
Kecuali Vieer tentunya. Lelaki itu ingin sekali melihat interaksi ayah-anak yang sudah lama tak bertemu.
"Ikuti aku" Raja Utara menuntun Rhea dan Vieer ke lantai atas.
Arsitektur bangunan itu terlihat kuno namun tetap berwibawa. Sepanjang lorong hanyalah dinding polos tanpa ornamen apapun. Tak ada lukisan ataupun vas. Mengingatkan Rhea akan Rumah sakit di Bumi, namun versi yang lebih indah dan tak suram.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark Knight : Rhea
FantasyNamanya Rhea Zanovya. Gadis berwajah suram dan datar. Namun, ternyata Rhea bukan milik dunia yang ia tinggali selama ini. Gadis itu adalah milik dunia pararel yang tidak akan pernah ia bayangkan. Dunia pararel penuh dengan sihir, misteri dan keku...
