Zavian berlari mengejar Fiona hingga akhirnya berhasil meraih pergelangan tangan gadis itu.
"Zav, lepas!" tangis Fiona pecah, mencoba sekuat tenaga melepaskan cengkeraman Zavian.
"Lo salah paham," ujar Zavian, suaranya terdengar mendesak. Ia menarik Fiona lebih dekat, mencoba menjelaskan.
"Salah paham apa? Semuanya udah jelas! Kamu pacaran sama Lyra!" seru Fiona dengan nada penuh kemarahan.
"Kita duduk di sana, gue jelasin semuanya," balas Zavian, tetap tenang. Ia menarik tangan Fiona dengan lembut, mengarahkannya ke tempat yang lebih nyaman untuk berbicara.
Keduanya duduk berdampingan, dengan Zavian yang sedikit condong ke arah Fiona.
"Gue jelasin," ucap Zavian, memulai dengan serius.
"Gue pernah denger keinginan lo," tambahnya sambil melirik Fiona.
Fiona menatap Zavian, matanya penuh kebingungan sekaligus penasaran.
"Keinginan lo, berharap cowok yang lo suka ngungkapin perasaannya lewat surat, kan? That's childish, Fio, but I did that childish thing. Because I love you, Fi," ungkap Zavian.
Fiona terdiam, tubuhnya membeku mendengar ungkapan Zavian yang terdengar begitu tulus. Untuk pertama kalinya, ia melihat tatapan Zavian yang sejujur itu, seolah-olah seluruh dinding yang biasanya menyelubungi pemuda itu runtuh di hadapannya.
"Tap—"
"Gue jelasin," potong Zavian tegas, menghentikan Fiona sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya.
Zavian menarik napas panjang, lalu mulai menjelaskan tanpa melewatkan apa pun.
"Zav," lirih Fiona setelah Zavian menjelaskan kesalahpahaman yang selama ini terjadi.
Gadis itu langsung memeluk Zavian erat, seakan melampiaskan semua rasa kesalnya. "Kamu pengecut!" serunya dengan suara gemetar. Ingin rasanya ia meraup wajah Zavian karena gemas.
Zavian hanya menghela napas, tanpa membela diri. "Gue tau," jawabnya singkat.
"Kalau aku gak mergokin kalian, dan kamu gak didesak sama temen-temen kamu, kamu pasti tetap akan sama Lyra, kan?" Fiona melontarkan pertanyaan penuh kekecewaan, matanya mulai berkaca-kaca.
Zavian perlahan melepaskan pelukan Fiona, menatapnya dengan ekspresi tenang. "Maybe," jawabnya jujur tanpa ragu.
Fiona mendengus kesal, air matanya tumpah lagi. "Ihhhhh, Zav!" serunya sambil menangis.
Zavian mengusap pelan bahunya, berusaha menenangkan. "Jangan mikirin itu lagi. Buktinya sekarang lo udah tau, kan? Kalau gue emang cinta sama lo," katanya dengan nada lembut.
Fiona mengangguk pelan, lalu kembali memeluk Zavian erat. Ia masih tak percaya laki-laki yang selama ini ia sukai ternyata memiliki perasaan yang sama.
Zavian mengusap punggung Fiona dengan lembut, mencoba menenangkan gemuruh emosi yang tampak dari raut wajahnya. "Fi," panggil Zavian pelan.
"Hm?" gumam Fiona, masih menyembunyikan wajahnya di dada Zavian.
"Lo bakal nerima gue apa adanya, kan?" tanya Zavian, suaranya terdengar ragu, seolah pertanyaan itu terlalu berat untuk dilontarkan.
Fiona mendongak dengan tatapan kesal. "Kenapa nanya gitu sih? Kamu pikir aku gak serius sama perjuangan aku selama ini?" sergahnya, merasa Zavian meremehkan semua usahanya untuk dekat dengan pria itu.
Zavian terdiam sejenak sebelum menundukkan kepalanya. "Gue sakit," gumamnya lirih, hampir tak terdengar.
'Sampai tubuh gue sering dikendaliin sama orang lain,' tambahnya dalam hati, menahan kata-kata yang tak sanggup ia ungkapkan.
Fiona memandang wajah Zavian yang tampak sedih.
"Kamu sakit?" tanya Fiona, suaranya sarat dengan kekhawatiran. Wajahnya langsung berubah serius, menatap Zavian dengan cemas.
Zavian mengangguk pelan, menghindari tatapan Fiona.
"Waktu itu, gue bukan liburan kayak yang gue bilang ke semua orang," Zavian terdiam sejenak, menarik napas panjang sebelum melanjutkan, "Gue koma. Sisanya gue habisin buat terapi." Kata-katanya keluar dengan nada datar, tapi jelas ada luka dalam di balik pengakuannya.
Fiona tertegun, matanya berkaca-kaca. Ia tak pernah menduga pria di depannya telah melewati hal seberat itu tanpa pernah terlihat rapuh.
"Gue gak sembuh, malah makin parah," ucap Zavian lirih, menatap kosong ke arah lain. "Bahkan terkadang... tubuh gue dikendaliin sama orang lain. Gue suka gak sadar waktu ngelakuin sesuatu. Contohnya... gue bisa deket sama Lyra."
Fiona membeku. Kata-kata Zavian seperti petir yang menyambar di siang bolong. Ia tak tahu harus berkata apa, hanya bisa menatap pria itu dengan mata yang mulai basah.
"Zav..." isaknya akhirnya pecah. Air mata mengalir deras, dadanya terasa sesak mendengar betapa berat yang Zavian tanggung.
Hubungan antara Zavian, Fiona, dan Lyra masih berada dalam situasi yang tidak pasti. Banyak hal yang belum terselesaikan, membuat mereka terjebak dalam ketidakjelasan.
Zavian merasa perlu meminta pengertian dari Fiona. Ia menyadari bahwa sebelum menyelesaikan hubungannya dengan siapa pun, ia harus terlebih dahulu memulihkan dirinya sendiri. Ada masalah dalam tubuhnya yang belum ia pahami, dan itu menjadi prioritas utamanya.
Zavian baru sadar bahwa ada jiwa lain yang mengendalikan tubuhnya.
_______
Selamat hari senin.
Sebelum melangkah lebih jauh. Coba tuliskan hal-hal yang kurang jelas diBAB mana?
Kalau mau bilang cerita ini gak masuk akal, emang iya. Karena aku udah kasih tau dari awal cerita ini emang ga masuk akal.
Aku cuma memenuhi hasrat aku yang tiba-tiba pengen nulis beginian.
Mau pake Visual?
KAMU SEDANG MEMBACA
JADI COWO
FantasyBia tidak menyangka jika hidupnya akan sekonyol ini. Masuk dunia novel dan menjadi laki-laki? Bia menghela napasnya kasar dengan menatap kearah bawah. "Jadi panjang," lirihnya merasa frustasi. ______ HANYA CERITA FANTASI YANG GAK MUNGKIN PUN JADI...
