"Satu fakta menyakitkan, kamu sibuk nangisin dia di sini, sedangkan dia disana inget sama kamu aja enggak."
-Author
Matahari, salah satu dari sekian banyak ciptaan tuhan yang memiliki peran penting untuk semua makhluk di bumi. Matahari menjadi sumber penerangan utama untuk kehidupan makhluk hidup di bumi, menjadi salah satu sarana yang membantu proses fotosintesis tumbuhan yang menjadi sumber makanan hewan, lihat lah bagaimana matahari melakukan itu semua secara suka rela, bukankah itu menjadi salah satu bukti anugerah terindah dari tuhan? Matahari salah satu benda langit yang selalu menjalankan tugasnya dengan baik untuk menerangi bumi beserta isinya.
Seperti di minggu siang ini, matahari terlihat sedang menjalankan salah satu tugasnya, yaitu menerangi setiap sudut ibu kota. Cahaya nya yang amat terang itu berhasil membuat seluruh penjuru ibu kota bersinar terang karenanya. Tetapi hal itu juga yang membuat suhu udara menjadi sangat panas, sehingga membuat beberapa orang memilih untuk berdiam diri di rumah untuk menghindari cuaca yang panas. Namun, tidak dengan tiga orang pemuda yang saat ini sedang asyik tertawa di pinggir danau seraya memegang joran pancing di tangan nya.
Tiga orang pemuda itu yang tak lain adalah Langit, Yoga, dan Bagas. Panasnya matahari saat ini, tidak membuat mereka menyudahi kegiatan memancing itu.
"Lo cari cacing dimana dah Lang?" Tanya Yoga pada Langit yang sedang memantau pergerakan ikan-ikan di danau itu.
"Kenapa emang?" Bukan nya menjawab, Langit justru balik bertanya.
"Jelek nih kayaknya, masa dari tadi kita mancing enggak ada satu pun ikan yang ke pancing," jawab Yoga.
Langit yang tadinya sibuk mengamati ikan-ikan itu pun menoleh pada Yoga. "Enak aja, itu cacing limited edition asal lo tau."
"Emang lo dapet dari mana?" tanya Bagas.
"Dari tanah belakang rumah gue," jawab Langit.
"Itu mah cacing biasa anjir lah," ujar Bagas.
"Eitsss jangan salah bro, ini cacing bukan sembarang cacing. Ini cacing udah di jampi-jampi sama Pak Dadang," tutur Langit.
"Hah Pak Dadang? Pak Dadang guru SMA?" Tanya Bagas dengan wajah kaget nya.
"Iya lah siapa lagi. Kemarin dia kan juara 1 lomba mancing se-kecematan," ungkap Langit.
Yoga menggelengkan kepala nya takjub. "Anjay, keren juga tuh Pak Dadang."
"Makanya tadi waktu gue ketemu dia di jalan, gue minta dia doa in nih cacing," ucap Langit.
"Emang kalo nih cacing di doa in Pak Dadang, kita bisa dapet ikan banyak gitu? Tanya Yoga tidak yakin.
"Ya enggak juga sih," jawab Langit santai.
"MONYET." Umpat Yoga, ingin rasanya ia mendorong Langit ke danau sekarang juga, biarlah sahabatnya itu menjadi santapan ikan-ikan di danau, Yoga Ikhlas.
Bagas hanya bisa menggelengkan kepalanya heran. "Stres," cetusnya.
Langit yang melihat wajah kesal dari kedua sahabatnya, tidak bisa menahan tawanya. "Ya lagian lo berdua gak jelas, mancing gak dapet-dapet malah nyalahin cacing, itu mah lo nya aja yang gak becus mancingnya," tutur Langit. "Harus banyak belajar sama gue lo berdua," lanjutnya.
Yoga memutar bola matanya malas. "Alah lo aja belum dapet anjir, pake sok-sok an mau ngajarin segala."
"Sabar bangsat sabar, memancing itu melatih kesabaran, jadi ayo teman-teman tolong di perluas lagi sabarnya." Jelas Langit yang sudah mulai emosi, tetapi berusaha untuk tetap sabar menghadapi teman-teman yang kesabaran nya setipis tisu itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
TENTANG LANGIT
Teen FictionAuretta Capella, si gadis cantik dan pintar serta kepribadian nya yang hangat membuat banyak orang menyukainya. Satu hal yang semua orang tau tentang Auretta, yaa Auretta sangat menyukai langit. Entah apa yang ada di pikirannya tentang langit, yang...
