SEVENTEEN

403 40 0
                                        

Setelah perjalanan panjang yang dipenuhi ketegangan, mereka akhirnya tiba di markas Right Arm. Namun, alih-alih sambutan hangat, mereka justru hampir menjadi sasaran tembakan. Beberapa anggota kelompok yang berjaga di luar langsung mengangkat senjata, bersiap menembak kendaraan mereka.

"Berhenti! Jangan tembak!" teriak Marcus, menghentikan kendaraan secara mendadak.

Thomas dan yang lainnya menahan napas saat beberapa orang bersenjata mendekat. Namun, di antara mereka, seseorang dari Kelompok B mengenali wajah Aris.

"Tunggu! Aku kenal dia!" suara itu berasal dari Harriet. Ia melangkah maju, matanya membulat saat melihat Aris. "Mereka bukan musuh!" Harriet langsung memeluk Aris begitupun gadis pirang yang bernama sonya.

Dalam sekejap, ketegangan di udara mencair. Para penjaga menurunkan senjata mereka, dan pintu gerbang terbuka perlahan. Kendaraan mereka akhirnya bisa masuk ke dalam markas.

Begitu mesin dimatikan, semua orang bergegas turun, merasa lega akhirnya sampai di tempat yang relatif aman. Mina berdiri sejenak, mengamati sekitar. Markas Right Arm jauh lebih besar dari yang ia bayangkan—serangkaian bangunan sederhana berdiri di antara tenda-tenda besar, dengan beberapa orang berlalu-lalang membawa perlengkapan tempur.

Saat ia menoleh, matanya bertemu dengan Newt yang tampak kelelahan. Namun, meskipun tubuhnya jelas kehabisan energi, tatapan pemuda itu masih penuh kewaspadaan. Mina menarik napas dalam dan mendekatinya.

"Kita butuh bicara," katanya pelan.

Newt mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. Mereka berjalan menjauh dari yang lain, mencari tempat yang lebih sepi.

Mina ragu sejenak sebelum akhirnya berbicara. "Ada sesuatu yang harus kau tahu, Newt."

Newt menatapnya, alisnya sedikit berkerut. "Apa itu?"

Mina menggigit bibirnya sebelum akhirnya menghela napas panjang. "Lizzy... adikmu. Dia masih hidup."

Newt tampak membeku. Matanya menatap Mina tanpa berkedip, seolah ia tidak yakin apakah ia baru saja mendengar dengan benar.

"Apa?" suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.

"Dia ada di sini, di Right Arm," lanjut Mina dengan suara lebih tenang. "Dia sekarang dikenal sebagai Sonya."

Newt terdiam cukup lama. Wajahnya sulit ditebak, seolah ia sedang berjuang memahami kata-kata Mina. Kemudian, perlahan, matanya melembut, dan ia tertawa kecil—bukan tawa bahagia, melainkan tawa yang dipenuhi kelegaan dan keheranan.

"Sonya..." ia mengulang nama itu seakan mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

"Kau tahu, Newt, saat kita masih anak-anak, kau selalu berusaha menemuinya. Kau mengendap-endap masuk ke Grup B hanya untuk bisa bermain bersamanya, melanggar aturan tanpa peduli akan konsekuensinya. Aku masih ingat bagaimana kau terus-menerus memanggilnya Lizzy, meskipun WICKED bersikeras agar kita menyebutnya Sonya. Kau menolak, selalu menolak, seakan dengan mempertahankan nama itu, kau bisa melindungi sesuatu yang masih tersisa dari masa lalu kita. Karena setiap nama yang mereka paksa kita gunakan—setiap identitas yang bukan pemberian orang tua kita—itu bukan milik kita. Itu milik WICKED."

Newt terdiam, matanya berkabut, seolah tenggelam dalam kenangan yang sudah lama ia pendam. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Aku tidak ingat," gumamnya lirih, suaranya serak oleh emosi. Ia menarik napas dalam, tapi itu tak cukup untuk meredam gemetar halus di tangannya. "Namun aku yakin aku tak pernah suka cara mereka mengambil semuanya dari kita, bahkan nama kita sendiri." Matanya bertemu dengan mata mina, penuh dengan sesuatu yang sulit diungkapkan—kemarahan, kehilangan, atau mungkin keduanya. "Lizzy... Sonya... Dia pasti masih ingat, kan?"

✓𝑻𝑯𝑬 𝑸𝑼𝑰𝑬𝑻 𝑮𝑰𝑹𝑳 - 𝑵𝑬𝑾𝑻 [𝑻𝑯𝑬 𝑴𝑨𝒁𝑬 𝑹𝑼𝑵𝑵𝑬𝑹]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang