TWENTY-TWO

667 53 3
                                        

Angin laut bertiup lembut, membawa aroma asin yang menenangkan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Angin laut bertiup lembut, membawa aroma asin yang menenangkan. Di kejauhan, ombak bergulung tenang, menyapu pasir putih yang membentang luas. Cahaya senja melukis langit dengan warna oranye yang indah, menciptakan pemandangan yang begitu damai—berbeda jauh dari neraka yang pernah mereka lalui.

Safe Haven benar-benar seperti namanya. Tempat ini adalah satu-satunya titik di dunia yang belum tersentuh oleh virus Flare, sebuah pulau kecil yang kini menjadi rumah bagi mereka yang selamat.

Di sebuah pondok kecil yang menghadap lautan, Mina duduk di teras, membiarkan angin memainkan rambutnya. Di tangannya, ada sebuah buku lusuh yang pernah ia selamatkan dari reruntuhan kota.

Pintu di belakangnya berderit, dan langkah kaki yang sudah ia kenal menghampirinya.

"Kau masih membaca buku itu?" Newt bertanya dengan nada geli, sebelum menjatuhkan diri di kursi di sebelahnya.

Mina tersenyum kecil. "Aku suka membacanya lagi dan lagi. Rasanya mengingatkanku bahwa kita berhasil keluar dari semua itu."

Newt mengangguk pelan, matanya menerawang ke arah laut. Luka-luka lama di tubuhnya sudah hampir sembuh, meskipun bekasnya masih ada—seperti pengingat abadi tentang semua yang telah mereka lewati. Tapi yang paling penting, ia masih hidup.

"Tidak pernah terbayang aku bisa hidup di tempat seperti ini," gumamnya, suaranya sedikit serak.

Mina menoleh, mengamati wajahnya yang diterpa sinar matahari senja. "Kau menyesal?"

Newt mengangkat alis, lalu menggeleng. "Tidak. Aku hanya... kadang merasa ini seperti mimpi. Setelah semua yang terjadi, kita akhirnya bisa hidup dengan damai."

Mina tersenyum, lalu menggenggam tangannya erat. "Ini bukan mimpi, Newt. Kita masih di sini. Kita masih bersama."

Newt menatap tangan mereka yang saling bertaut, lalu tersenyum lembut. "Kau benar."

Mereka duduk dalam keheningan nyaman, menikmati suara ombak yang berdesir. Jauh di belakang, Thomas dan yang lain sedang membangun lebih banyak tempat tinggal untuk para penyintas baru. Gally, yang tetap bersikap sinis seperti biasa, malah ikut membantu mengumpulkan kayu. Jorge dan Brenda sibuk dengan persediaan makanan. Mereka semua telah menemukan tujuan baru. Frypan, Fred, Winston, Jack, Alec, Chucck..... dan banyak rekan satu gladernya yang tampak sibuk bercanda dan bekerja,

Newt menoleh ke Mina, menatapnya dalam-dalam. "Kau ingat saat aku bilang aku ingin melihat dunia yang lebih baik?"

Mina mengangguk. "Ya."

Newt tersenyum kecil. "Aku rasa, kita sudah menemukannya."

Mina terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Yeah. Dan kita akan hidup di dalamnya. Bersama."

Newt menghela napas lega, seolah beban bertahun-tahun akhirnya terangkat dari dadanya. Ia menatap laut lepas, membiarkan angin membawa ketenangan yang selama ini tak pernah ia rasakan.

Hari-hari kelam telah berlalu.

Sekarang, yang ada hanyalah masa depan.

Mina menatap Newt, memperhatikan setiap garis wajahnya yang diterpa cahaya senja. Mata hijaunya yang dulu penuh penderitaan kini terlihat lebih lembut, lebih damai. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang terasa seperti selamanya, mereka bisa benar-benar bernapas tanpa rasa takut.

Newt tersenyum kecil, jemarinya dengan lembut menyentuh pipi Mina. "Terima kasih, Mina," bisiknya.

Mina mengerjap, sedikit terkejut. "Untuk apa?"

"Untuk tetap di sini. Untuk tidak menyerah padaku, bahkan saat aku hampir menyerah pada diriku sendiri."

Newt melompat dari atas Maze, itulah alasan kakinya pincang dan Mina tidak akan membiarkan pria itu kembali ke masa itu.

Mata Mina melembut. "Aku akan selalu ada untukmu, Newt."

Newt menatapnya dalam-dalam, lalu tanpa ragu, ia mendekat. Mina merasakan napasnya yang hangat saat jarak di antara mereka menghilang. Detik berikutnya, bibirnya menyentuh bibir Mina dalam ciuman yang lembut namun penuh perasaan.

Ciuman itu bukan sekadar ungkapan cinta, tetapi juga tanda—tanda bahwa mereka telah bertahan, bahwa mereka telah menemukan satu sama lain di tengah kehancuran, dan bahwa mereka tidak akan pernah melepaskan satu sama lain lagi.

Mina membalas ciumannya dengan penuh rasa, jari-jarinya perlahan menyusuri rambut pirang Newt. Waktu seolah berhenti saat mereka tenggelam dalam kehangatan satu sama lain.

Ketika mereka akhirnya berpisah, Newt menempelkan dahinya ke dahi Mina, matanya masih terpejam. "Aku mencintaimu."

Mina tersenyum, jantungnya berdebar kencang. "Aku juga mencintaimu, Newt."

Mereka tersenyum satu sama lain, menikmati ketenangan yang kini menjadi milik mereka.

Di tengah kehancuran umat manusia, rasanya masih ada harapan masa depan akan indah.

.....

End.

1/4/2025

🎉 Kamu telah selesai membaca ✓𝑻𝑯𝑬 𝑸𝑼𝑰𝑬𝑻 𝑮𝑰𝑹𝑳 - 𝑵𝑬𝑾𝑻 [𝑻𝑯𝑬 𝑴𝑨𝒁𝑬 𝑹𝑼𝑵𝑵𝑬𝑹] 🎉
✓𝑻𝑯𝑬 𝑸𝑼𝑰𝑬𝑻 𝑮𝑰𝑹𝑳 - 𝑵𝑬𝑾𝑻 [𝑻𝑯𝑬 𝑴𝑨𝒁𝑬 𝑹𝑼𝑵𝑵𝑬𝑹]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang