13. Mencari kebenaran

262 126 24
                                        

Annyeong👋

Jarang banget up nih ya, kalian masih setia kan membaca cerita ini?🤗

vote dan Komennya jangan lupa‼️

Happy reading 🥀

o0o

"Setiap yang datang pasti akan pergi, tugasmu hanya perlu menunggu. menunggu ketidakpastian."

- Langit Biru.

o0o

13. Mencari kebenaran.

Arga hanya mematung , seketika ia merasa bersalah sekaligus marah terhadap situasi yang sangat sulit di tebak hari ini.

"Om, Aluna sudah sadar." ucap Azurra mencoba menengahi pertengkaran.

Aluna yang masih mencengkram erat kepalanya, pusing beserta sakit yang menyerang membuat Aluna merintih kesakitan. "Kenapa kepala gue makin sakit!"

BRAKK

Seketika tubuh ramping Aluna ambruk ke lantai, kemudian gadis itu meremas kepalanya kuat.

"Aawww..."

"Alunaa..."

Langit yang mendengar barang jatuh serta teriakan seseorang dari dalam ruangan yang di huni Aluna, Langit kemudian bergegas memasuki ruangan itu.

"Na, apa yang terjadi?" tutur Langit.

Aluna hanya terdiam tanpa bersuara sedikitpun, kemudian gadis itu mendongakan kepalanya sampai bertemu dengan netra elang milik Langit yang sedang menunjukan rasa khawatirnya.

"Don't worry, gue cuma---"

Langit tiba-tiba menggendong Aluna ala bridal style, nafas teratur Langit menerpa wajah putih Aluna. seketika Aluna merasa terhipnotis, sedetik kemudian Aluna tersadar dari lamunannya.

"Eh.. lo ngapain, turunin gue."

Langit hanya tersenyum tipis, Kemudian cowok itu menurunkan tubuh ramping Aluna ke atas brankar rumah sakit secara perlahan.

"Kenapa, hm?"

"Anjay, dapat tutor dari si bos nih. bisa kali gue terapin di sekolah." ucap Alfian yang duduk anteng bersama Alvaro di sofa yang sudah di sediakan.

"Otak lo isi nya cewek mulu ya. mantap, Al. gue dukung." tutur Alvaro.

"Lo muji atau ngeledek sh?." ucap Alfian menatap jengah ke arah Alvaro.

Sagara hanya mengusap dadanya sabar. "Jangan brisik ini rumah sakit." ucap Sagara memutar bola matanya malas.

"Dok, periksa anak saya sekarang." tutur Arga yang baru memasuki ruangan inap Aluna, lalu Dokter Lila memeriksa tubuh Aluna.

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Aluna baik-baik saja. kemudian masih ada efek nyeri atau pusing sebab Aluna sempat terkena pukulan benda tumpul di bagian kepalanya" ucap Dokter Lila.

"Nanti saya bikinkan resep obat untuk Aluna"

"Baik Dok, terima kasih"

"Baik saya permisi." ucap Dokter Lila kemudian melangkahkan kakinya pergi.

Arga kemudian menghela nafas panjang, Arga bersyukur sebab anak semata wayangnya baik-baik saja.

"Mulai hari ini Ana ngga boleh keluyuran malam-malam lagi." ucap Arga tegas.

Garis LukaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang