[ 3 ]

33 4 1
                                        

HAPPY READING!

**********

" Buahahahahahahahahha, lu olang tak bisa jaga dili maa.." ledek Chaca dengan tawa renyahnya berbicara dengan nama khas orang cina. Tak lupa gaya mata yang ia sipit sipitkan.

Plak! " Apaansih Cha! Gak lucu!"

" Buat owe lucu maa.." Chaca semakin hanyut dalam tawanya. Sambil sesekali menyuap sepotong martabak special rasa keju yang ia bawakan untuk Nabila.

" Jevan yang cina aja gak gitu amat ngomongnya , Cha." Nabila beranjak untuk mencuci tangan.

" Biar lebih dapet, Bil vibess nyaa.." Chaca menaikkan alisnya menggoda Nabila.

" Gak laku vibes begitu sama aku Cha, kecuali tadi kamu bareng Sheila, baru masuk akal." Nabila kembali ke sofa, " ke taman aja yuk, Cha."

" Lah ngapa sih Bil ? Gue kan tamu, sahabat lo lagi, gak boleh emang di kamar ini, hm ?"

" Bukan gitu Cha, kalo ini kamar aku sih gak masalah. Ini kamar Jevan." Nabila menarik lengan Chaca.

" Nggak ih aneh lu, kenapa ? Lu takut gue ngeliat koh Jevan masuk terus dia kepincut ? Iya ?"

" Aelah Cha, kalo kepincut mah kepincut aja gak masalah, aku anterin sekalian deh gak papa. Ikhlas lahir bathin!" Seru Nabila.

" Pyuh! Sok banget lu, spek Koh Jevan mau lo ikhlasin, ntar nyesel, cemas ko deck."

" Banyak banget sih kata kata gaulmu Cha, pusing aku."

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Saat ini, Nabila tengah bergulat dengan kasur kesayangannya, dirumah Roy. Akhirnya setelah sekian lama ia tak menginjakkan kakinya di kamar dan rumah itu, rasanyaa... Plong sekali.

Jujur saja, rumahnya ini memang minimalis tapi jauh lebih membuatnya nyaman dibanding rumah keluarga Viejay yang sekelas mansion gedongan seperti itu.

Alasan mengapa ia ada disana hari ini, karena ia harus kembali ke kampus untuk menyelesaikan skripsinya. Sebenarnya Jevan bisa saja bolak balik Bandung Jogja untuk mengantar dan menjemputnya, namun kerasnya  kepala gadis itu dan sifat bodo amatnya Jevan, akhirnya ia kembali kerumah tercintanya.

" Nabilaa, cepetan Papa udah siap nih." Seru Roy yang sudah mengibas kibaskan blazzer nya di depan pintu kamar Nabila.

Ceklek.

Muncullah gadis cantiknya dengan kulot highwaist dan blouse serta hijab pashmina yang senada. Berbeda, jelas berbeda, Roy menatap Nabila dari atas sampai bawah, pasalnya, saat dirumah keluarga Viejay putrinya itu yan begitu memerhatikan penampilannya, padahal anak itu aslinya sangat detail akan penampilan. Dan sekarang, perubahannya sangat drastis, anak itu kembali modis dan kelihatan lebih menarik.

" Papa nangkep sesuatu yang terselubung." Roy melipat kedua tangannya di dada.

Nabila memerhatikan penampilannya," apasih Pa ? Kan biasa tuh Nabil begini, apa yang aneh dan terselubung ?"

" Emmm.. yasudalah, ayo berangkat, udah telat kan kamu ?" Roy merangkul putrinya lalu mereka berjalan bersama menuruni tangga.

" Pah, nanti gak usah jemput ya, Nabil mau ke mall dulu sama Chacha Agit." Ucap Nabila sembari membuka pintu mobil.

Chinese DescentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang