[ 16 ]

12 1 0
                                        

*******
" Lo udah nelpon om Charles ?"

Jevan menggeleng, ia menundukkan wajahnya kala itu. sudah ada lebih dari dua jam ia duduk disana, bersama Akbar dan Dion.

Dion menepuk pundaknya sembari memberikan sebotol air mineral, " minum dulu, Je. lo pasti syok."

Jevan menerimanya lalu segera meminumnya, " menurut lo pada, apa yang buat dia kepikiran nyampe ke tempat itu ?"

Akbar mengedikkan bahunya, " dunia sesempit itu emang."

" Gue juga ngga abis pikir, berarti tuhan emang nakdirin kalian bedua buat sama sama, Je."sahut Dion.

" Ekhem! gue mau cari makanan nih, ada yang mau nitip ?" ujar Akbar sembari beranjak, namun sadar tak ada jawaban, ia pun memilih untuk melangkah langsung.

Jevan melirik arlojinya, sudah pukul 3 dini hari dan dokter beserta para perawat tak kunjung keluar.

Ceklek!

Srettt!!!!

Jevan kontan berdiri kala melihat pintu UGD terbuka, disana terlihat beberapa perawat dan dokter tengah mendorong sebuah brankar yang ditumpangi oleh Nabilah yang tak sadarkan diri. ia terpejam dan memakai alat bantu pernafasan.

" Dok, tolong pindahkan dia ke ruang VVIP." Pinta Jevan pada dokter lalu dengan cepat di angguki, sementara Dion, ia mengikut langkah Jevan.

..............

" Kalian berdua, siapa yang mau bawa  motor gua ?"

" Gue!"

" Gue!!"

Akbar dan Dion saling tatap, seolah memperebutkan sesuatu. Akbar memicingkan matanya seakan memberi kode pada Dion.

" Woi!"

" Gue aja, Je!" Pinta Akbar.

" Nggak Je! gue aja, gue yang pantes. lo kan tau, gue yang sering bawa moge lo. ntar kalo sama sebelah, bisa bisa tuh motor jadi-"

" Nggak usah ngadi ngadi! lo kata gue ndeso!" umpat Akbar.

" Uda uda!! lo pada udah kayak rebutan warisan aja, gue cuma nitipin bukan ngasih." Ujar Jevan menengahi. " Biar gue yang mutusin. Yon, lo aja yang bawa motor gue."

" Yeayh!!! azeek!!! gemott Mardion siap meluncuurr!!" Seru Dion

" Ah gaasik lo, Je! ngapa mesti dia sih! tadi lo udah ngasih dia, gantian laah!" gerutu Akbar mengacak rambutnya secara kasar. sementara Dion, ia malah menggerakkan dua jari kelingking dan jempolnya secara bersamaan.

" Alaah udah udah! Kek begini aja pake diributin. Yon, ntar lu isi tuh bensin sama servis sekalian, dah lama juga gua nggak servis." Pesan Jevan.

" Bewwww!!! yahahahah!! goplak deh lo! makan tuh gemot!" Pekik Akbar yang diakhiri dengan gela tawanya.

Sementara Dion, senyum sumringahnya pun menjadi palsu, tiba tiba ia meringkuh, " yah, yauda deh Bar, sama lo aja, ikhlas deh gua. tiba tiba nyokap ngajak arisan nih."

" Alaah, gegaya alasan mak lo segala, gada gada! tadi lo kekeuh batt pen tuh motor, yahahahah, selamaat." Sahut Akbar.

" Udah ah, Yon, pokoknya udah gua percayain sama lo, ya." ujar Jevan sembari menepuk pundak Dion. " Udah ah sana balik! gua mau ngurusin bini gua dulu."

" Yeuuu! dasar!"

Akbar merangkul pundak Dion sembari menaikkan dua alisnya, " gimana gimana ? "

" Berak lu! bagi dua gua nggak mau tau!" sahut Dion. " Gaji gua sebulan juga nggak bakal cukup buat ngisi bensin sama nyervis motornya, ah elah! apes bett dah idup gua ah."

Chinese DescentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang