[ 13 ]

14 2 0
                                        

*********
Pagi ini, ba'da subuh Nabilah sudah bangun memasak sarapan dan hidangan untuk Jevan yang masih pergi gym dan jogging, itu memang sudah menjadi kebiasaan lelaki itu. semasa di Amerika pun ia terbiasa olahraga pagi sebelum bekerja.

Nabilah sudah mulai terbiasa dengan perannya sebagai istri, ia pun sudah mulai mengikhlaskan kepergian Almarhum Roy. ia bangkit, dan memilih melanjutkan hidup sedemikian rupa.

Jevan cina nggak laku
[ Tolong buatin pudding ya, Bil.]

Pesan itu hanya dibaca olehnya, setelahnya ia melihat situs internet, makanan apa saja yang bisa dibuat pudding untuk orang selesai olahraga. Ia menswipe situs sampai buliran bawah.

" Telu rebus dua butir, susu sapi, oatmil sama madu." Nabilah mencatat semua makanan yang ia baca di situs lalu menyiapkan di sebuah piring. " Udah ya, Jee ... awas aja protes!" Nabilah mengambil handphone nya lalu bergegas ke lantai atas untuk mandi.

**

Di room gym, Jevan tengah duduk istirahat sembari meneguk sebotol air mineralnya. ia menatap layar handphone yang dimana disana menunjukkan tampilan layar cctv di kamar, sesekali ia tersenyum melihat tingkah Nabilah yang sedang bersolek di depan kaca meja rias, rasa lega tertanam dihatinya melihat keceriaan gadis itu kembali.

Sisi Nabilah yang belum pernah ia lihat sama sekali, kini terpampang jelas di cctv. Gadis itu tampak cantik dengan dress hijau pastel bergambar coqquet dengan rambut yang di curly.

Fyi: Nabilah masih kusebut gadis karena dia memang masih " gadis " sampai saat ini ya gess

Jevan beranjak lalu menghampiri Akbar, rekannya di kantor. ia meletakkan sebuah kartu ATM berwarna biru berlist emas diatas meja tempat Akbar sarapan.

" Nih, buat bayar. gue cabut dulu. "

" Woee! bca prioritas banget nih!"sahut Akbar sumringah.
" Janlup nanti malem ya, Je."

" Amann."

Jevan berjalan menuruni tangga sembari memakai kausnya, saat itu, ia melangkah begitu cepat hingga sampai di parkiran dan segera melajukan mobilnya.

**

Sementara itu, Nabilah yang tengah bersantai di halaman belakang rumah sembari sesekali bersenandung ria dengan handphone nya, ia tiba tiba teringat dengan Almarhum Roy. rasanya, jika sepi seperti ini, kehampaan di dalam hatinya sangatlah terasa.

Demi memutus kehampaan, ia memilih untuk menelpon Sheila dan berbincang sejenak.

" Hallo?"

" Kenapaaa, Bilaa ? baru juga tadi telpon, eh udah kangen aja lu ye ?"

" Aku kesepian, Shei. Jevan lagi olahraga, dan aku ..."

" Udalah, Bil. lo sedih berlarut larut juga Almarhum bokap juga bakalan ikutan sedih, mending sekarang lo do'a yang bagus, terus minta supaya ditempatin ke tempat yang sebaik baiknya."

" Hikss ..."

" Tuhkaan, nangis. yauda deh, khusus hari ini, gue dengerin lo nangis n curhat baee."

Obrolan mengalir, Nabilah pun menumpahkan seluruh keluh kesahnya pada Sheila. memang, kesendirian terkadang memang sangat tidak cocok untuk orang yang sedang bersedih, terutama posisi Nabilah sekarang. bayang bayang ayahnya masih sangat melekat.

**

" Selamat pagi, koh." Satu persatu, pelayan yang berbaris di lorong mansion utama menyapa kehadiran Jevan. kontan lelaki murah senyum itu pun menganggukkan kepalanya dan mengucap. " Selamat pagi."

Sampailah ia ruang tamu utama, dimana disana sangatlah luas dan ada banyak sofa yang berjejer. terlihat hening, namun pada dasarnya ada banyak aktivitas.

Dari jauh, tercium bau lezatnya masakan.

" Ayo pukulannya di tingkatkan lagi!"

Jevan menoleh kala mendengar suara beberapa pukulan dan arahan dari pelatih bela diri di halaman samping. ya, di pagi hari seperti ini, sudah menjadi rutinitas keluarga Viejay untuk melakukan pelatihan bela diri bersama ayah mereka sendiri yaitu Charles. sejak kecil, dari mulai Devan hingga Sheivan mereka sudah dilatih keras untuk menguasai teknik teknik dan cara bela diri.

Saat itu, Viejay tengah melatih Theo dan Ziva, anaknya Devan sembari ditemani oleh kedua orang tuanya yang menonton sembari meneguk segelas teh.

" Mama dimana ?" Tanya Jevan sembari duduk di sebelah Devan.

" Udah ke resto." Sahut Devan. ia melirik sekilas penampilan adiknya yang tampak berkeringat. " Lo nge-gym, trus istri lo ?"

" Aman."

" Jangan main aman aman aja, Je. istrimu lagi rapuh, nggak bisa sembarangan." timpal Laura, istri Devan. wanita bermata sipit khas chinese berambut blonde dan kulit putih itu memperingati Jevan.

" Dia lagi mencoba berdamai, kak. Gue juga udah ngajak tapi dianya nggak mau." sahut Jevan.

Perbincangan mengalir begitu saja, hingga tak terasa, matahari mulai menampakkan wujudnya, pelatihan pun selesai dan Laura membawa dua anaknya untuk beristirahat dan mandi. tinggal-lah tiga orang lelaki tampan itu berkumpul di halaman samping rumah.

" Rencana kapan wisuda istrimu, Je ?" Tanya Viejay, sembari melepas sabuk pinggangnya.

" Besok, pa. kalian dateng, ya." sahut Jevan. " Semua." Lanjutnya.

Viejay mengangguk, " kita atur semua, apapun yang membuat dia bahagia. usahakan itu, Jevan. dia cuman punya kamu, dan kita sekarang. terlebih kamu, dia paling butuh peranmu. jadi awas aja! jangan sampai kecewakan Almarhum sahabatku di surga sana."

" Iya pa, pasti."

" Trus lo kesini ngapain ?" Tanya Devan.

" Tadinya sih mau ketemu mama sekaligus ngampil motor." Sahut Jevan.

" Motor ? Buat apaan ? jangan bilang lo mau ..." ujar Devan.

Jevan tersenyum smirk. " Nggak usah terlalu serius, cuma buat have fun."

" Je, nggak usah main main." Peringat Devan.

" Ah terserah lah. yang penting gue udah peringatin." Ujar Devan sembari menatap punggung Viejay yang perlahan menghilang dari pandangan.

**

To Be Continue

Kira kira, Jevan mau ngapain yaa ...

Chinese DescentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang