*******
" Tolongin aku nyari Chaca, Jee ..."
" Karna dia lo bisa tau tempat itu ?"
Nabilah mengangguk. " Sebenernya bukan aku, tapi Sheila ... ah iya! Sheila! astagfirullah! hpku ?!"
Jevan terlihat menghela napas sembari menggelengkan kepalanya. sungguh, dunia begitu menakdirkan mereka untuk bersama, dimanapun bertemu. Namun tak bisa Jevan pungkiri, dirinya sendiri pun tak mampu berucap jujur kepada Nabilah.
Jevan meraih sebuah paper bag berlogo Ibox disebelahnya, lalu memberikan itu kepada Nabilah. " Hp lo ancur. nggak inget ? abis ketiban pohon ?"
" Ah iya! sayang banget! isinyaa ... pantes Sheila pasti sibuk cari akuu ..." ringis Nabilah sembari menepuk jidatnya.
" Dia pingsan waktu ngeliat lo terkapar." Sahut Jevan. " Nih, ambil. mayan loh, hp baru."
Nabilah perlahan menerima pemberian Jevan, sembari dengan pikiran yang berkecamuk.
" Udah, istirahat aja. masalah Chaca, balik rumah sakit kita bicarain lagi." Ujar Jevan.
" Nggak bisa!"
" Loh, kok nggak bisa ?"
" Ini masalah nyawa orang, Je! aku mah udah sembuh, cuman agak nyerih aja. lagian aku mau wisuda Je, ya allah ..." Pinta Nabilah. " Lagian wisuda kuu ...." Nabilah menundukkan wajahnya.
Jevan mengelus pucuk kepala Nabilah, perlahan gadis itu mulai terisak. " Sabar ya, Bil. maafin gue, nggak bisa jagain elo. lo belum sembuh, terpaksa gue harus bilang kalo lo ..."
Nabilah menggelengkan kepalanya, " empat tahun, Jee ..... untuk inii ...."
" Iya iya gue ngerti. siapa juga yang nggak nunggu masa ini. semua orang juga pasti sedih. ntar gue yang pergi ke kampus buat ngewakilin elo ngambil ijazah, tadi gue udah konfirm ke pihak kampus." Jelas Jevan, namun disaat itu pun tangis Nabilah semakin terisak.
" Huaa ... ayaah, maafin putrimu ini yaaa ... karna ulahnya sendiri jadi kaya ginii... toga ? pemindahan topi ? foto ? aaaaa!!! semuanya musnah!" Nabilah memekik.
Jevan tergerak memeluk tubuh gadis itu, tak ada penolakan. Ia mengerti perasaan Nabilah saat ini. " Nanti kalau udah sembuh, diulangin aja lagi. sewa pg, terserah lo mau make up kaya gimana, lakuin apa yang mau lo lakuin hari ini."
Nabilah tak bergeming, ia menunduk sembari air matanya terus menetes.
" Hari sial gaada di kalender, Bil, ngga ada yang juga." Ujar Jevan sembari mengusap pucuk kepala Nabilah. " Ntar gue suruh mama sama ci Jesslyn kesini nemenin elo."
Nabilah mendongak, lalu menggeleng keras. " Nggak! aku ngga mau! aku maluu, aku takut ..."
Jevan terkekeh kecil, " what ? takut ? ternyata lo ada takutnya juga."
" Udalah ngapain takut, mereka ngga gigit." sambungnya.
" Ya bukan gitu, Je. kita ngga cukup akrab. apalagi aku ketemu baru sekali doang. aduhh, nggak kebayang. kalo mau makan gimana ? ke kamar mandi ? kalo pengen matcha gimana ? aduhh nggak kebayang, Je .." Nabilah meringis sembari menggelengkan kepala.
" Ya kenalan. lagian gue pergi ngga sampe setahun kalik. kaya mau ditinggal kemana aja." Sahur Jevan. " Mereka itu juga keluargamu, mama terutama."
Nabilah menghela napas pasrah. lalu mengangguk pelan.
" Nah gitu dong. bini gue harus pinter." sambungnya.
" Tapi jangan lama lama ya."
" Iya iya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Chinese Descent
Teen Fiction................................................................. WARNING‼️ PASTIKAN MEMBACA BARU MENILAI‼️ NO PLAGIAT PLAGIAT CLUB
