**********
Pemakaman selesai, seluruh tamu pun berpulangan, hanya tersisa beberapa tetangga dan tentunya keluarga Viejay, pasalnya, Roy adalah seorang anak tunggal yatim piatu yang merintis usaha sendiri, Jogja adalah kota perantauannya, hingga akhirnya ia bertemu seorang gadis yang ia nikahi yaitu mamanya Nabilah.
Roy bertemu dengan Viejay saat ia masih merintis usaha buku sekolah di swalayan, saat itu Viejay yang baru saja tiba di Indonesia meminta arah pada seorang lelaki yang ia temui di swalayan berjualan luntang lantung. Tak ada satu pun kabar dari keluarga dan kerabat Roy, Viejay sudah menurunkan semua orang orangnya untuk mencari keluarganya di kota asalnya.
Jevan masuk kedalam rumah bersamaan dengan Devan, ia baru saja menguburkan baju terakhir milik Roy di belakang rumah. Terasa sudah bau amis darah dari tubuhnya.
" Nabilah dimana, Mah ?" Tanya Jevan sembari menatap kearah kamar Nabilah.
" Nabilah di kamarnya. kamu mandi dulu, baru ketemu dia, ya nak ? sudah sudah, sana mandi dulu." Ujar Yuna menatap lekat putranya yang baru saja tiba itu.
Jevan mengindahkan ucapan ibunya, ia mengambil bajunya yang berada di mobil lalu bergegas mandi di kamar tamu. Ia mengguyur sekujur tubuhnya dengan air dingin, tubuhnya terperanjat ke lantai, masih sangat melekat di benaknya saat saat terakhir mertuanya itu.
" La... Laulaa ... Wala.. kuwwata.. illa billaa.."
Itulah ucapan terakhir yang diucapkan Roy saat ingin pergi untuk selama lamanya, ditemani oleh Jevan di sampingnya. Ya, ketika mendengar kabar kecelakaan, Jevan langsung bergegas meninggalkan kantor dan pergi ke TKP, ia pula yang menyaksikan betapa mengenaskannya kondisi mobil Roy yang terlindas truk saat itu.
Namun tujuannya sekarang adalah Nabilah, memeluknya dan memberi kehangatan untuknya. Jevan menyegerakan aktivitas, lalu merendam bajunya yang kotor itu.
Jevan keluar dengan kaus oblong dan celana pendeknya, ia datang menghampiri Yuna yang sedang berbincang dengan tetangga terdekat mengenai tahlilan nanti malam. Melihat adanya Jevan, Yuna langsung beranjak menghampiri putranya itu.
" Sudah tenang, kamu ?" Yuna mengelus kepala putranya itu dan diangguki oleh Jevan. " Yasudah, sana, temui Nabilah, dia butuh kamu, kalian belum ketemu, bukan ?"
Jevan mengangguk, " dia udah makan, mah ?"
" Belum, ini Mamah lagi masakin buat makanan kita, tadi juga Mamah udah anterin dia makanan ringan untuk mengganjal perut. yang terpenting sekarang kamu temui dia."
" Tapi Mah dia harus makan."
" Temui dulu, nanti sekiranya sudah aman, kamu atau Mamah akan antarkan makanan untuknya."
Jevan mengangguki ucapan Yuna dan bergegas ke lantai atas untuk menemui Nabilah.
Ceklek.
" Paa ... Maafin Bila yaa.. " suaranya terdengar sangat lirih dan serak, gadis itu melemas diatas kasurnya dengan keadaan yang sangat memprihatinkan.
Jevan menutup pintu dan berjalan kearahnya, mendengar adanya kedatangan seseorang Nabilah menoleh. dan saat itu juga tangisnya memuncak saat melihat siapa yang datang, tangannya terulur ingin memeluk Jevan, segera pun lelaki itu datang memeluk tubuhnya, mengelus punggungnya dan mencium keningnya.
" Jee ... Pa..paa.." lirih Nabilah menyembunyikan wajahnya kedalam dada Jevan, tangis pun pecah, seakan akan menumpahkan seluruh kesedihannya pada lelaki itu. Jevan pun ikut menangis, ia terus mengelus punggung gadis itu dengan lembut dan memberi kehangatan.
" Kamu sayang sama papa tapi tuhan lebih sayang sama papa, makanya diambil. Sudah ... Ikhlaskan, kalau papa tau kamu kayak gini, dia pasti akan sedih.."
KAMU SEDANG MEMBACA
Chinese Descent
Teen Fiction................................................................. WARNING‼️ PASTIKAN MEMBACA BARU MENILAI‼️ NO PLAGIAT PLAGIAT CLUB
