HAPPY READING!
**********
" Iya Shei, aku udah gak ngerti lagi mau gimana." Nabila menggigit kukunya sembari menelepon Sheila.
" .........."
" Aku ngeliat juga di daerah perut, bahu, sama dadanya banyak luka bekas sayatan gitu. Di baju yang sering dia gantung juga ada, kayak luka yang udah lama tapi susah diilangin."
"........."
" Niatnya aku mau nyembunyiin dulu dari dia."
" ......."
" Yaudah Shei, makasih udah dengerin aku hari ini."
Nabila menutup panggilannya, ia meletakkan Handphone di atas nakas sembari beranjak dari kasur. Cukup lama ia berbincang dengan Sheila, selain bertanya tentang keadaan di Indonesia, Nabila juga mendapat kabar tentang skripsinya.
Dekan sudah mengarahkan untuk sebaiknya Nabila menyelesaikan skripsinya dari jarak jauh seperti ini. Kendalanya satu, ia tak membawa laptopnya. Tamat sudalah riwayat skripsinya itu.
Nabila keluar kamar, tak ada siapapun, sedari pagi Jevan pergi, ia bilang ingin ke kantor, tetapi ini sudah sore Jevan belum kembali juga. Masalahnya, Nabila tak tau mau melakukan apa jika tak ada lelaki itu.
Nabila menatap secabik kertas medis yang tentu sudah ia buka sepulang dari Rumah Sakit tadi. Bibir bawahnya bergetar kala tangannya kembali tergerak membuka kertas tersebut. Disana, terpampang jelas hasil tes keperawanannya. Ada sedikit rasa bahagia di hatinya ketika melihat bahwa disana dinyatakan dirinya 100% virgin.
Aneh, itulah yang ia rasakan. Namun tetap bersyukur karena tidak menjadi korban kebejatan dua orang lelaki bengal itu. " Ternyata Jevan masih yakin sama aku." Ucapnya sembari melipat kembali kertas tersebut.
Tiba tiba, muncul suara familyar dari perutnya.
Kryukk kryukkk!!
Nabila beranjak membuka kulkas, hanya ada selada, beberapa potong roti berisikan topping hazelnut dan banyak telur di tatakan. ia melirik sekilas roti yang ada disana. namun ada beberapa butir telur.
**
Jevan meneguk caramel machiatonya, ia menstabilkan emosinya saat itu, sembari sesekali menghela nafas dengan tarikan yang sempurna. Nabila bukan dianggap sebagai bebannya, bukan pula sebagai pikulan deritanya. tetapi gadis itu ialah tanggung jawabnya.
Waktunya disana tinggal beberapa hari lagi, karena urusannya sudah hampir rampung. selebihnya, ia sudah harus meninggalkan semuanya disana, yang pastinya di handle oleh Mahesa dan Dimas.
Ia beranjak dan mengambil kunci mobilnya, ini sudah pukul 5 sore dan ia baru saja menyelesaikan urusannya di beberapa usaha usaha kecil bersama dua temannya. sebelum sampai di apartemen ia mampir ke sebuah apotek untuk membeli obat oles luka Nabila dan mengisi p3k yang sudah mulai berkurang.
.......
Ceklek.
Ketika masuk, suasana hening, namun yang membuatnya sedikit tercengang adalah keadaan apartemen yang rapi dan bersih serta wangi, sepertinya cleaning service baru saja membersihkan tempat itu. Jevan belok ke dapur untuk mencuci tangan dan ke kamar untuk cuci kaki.
Ia memasuki ruang tamu, tubuhnya mematung kala melihat Nabila terlelap di atas sofa dengan beberapa makanan terletak di atas meja, dengan segera ia mendekat dan menggendong Nabila ala bridal style ke kamar. ia melepas ikat rambut pada gadis itu lalu memasangkan kaus kaki dan membalut setengah tubuh gadis itu dengan selimut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chinese Descent
Novela Juvenil................................................................. WARNING‼️ PASTIKAN MEMBACA BARU MENILAI‼️ NO PLAGIAT PLAGIAT CLUB
