HAPPY READING!
*********
Buntut dari kejadian naas yang menimpa Nabila dan Chaca dua hari yang lalu meninggalkan bekas yang sangat sakit dalam diri Nabila baik fisik maupun emosional. Setelah ditemukan pihak polisi dan beberapa orang yang berada di sekitar tempat terkutuk itu, ternyata dua orang laki laki disana adalah pengedar narkoba terbesar di kota Bandung. Dan sudah menjadi buronan polisi sejak lama.
Pihak kejaksaan pun sudah menentukan hukuman yang setimpal akibat perbuatan biadab yang dilakukan di tempat terlarang yaitu diskotik ilegal yang di datangi oleh Nabila dan Chaca.
Nabila masih bungkam akan kejadian itu, trauma, pasti ada. Saat ini ia tengah berada di rumah keluarga Viejay. Bersama beberapa menantu lainnya dan terutamanya support dari sang ibu mertua. Kedua belah pihak keluarga sudah sepakat bahwa Nabila akan menyusul Jevan ke Amerika demi menjaga keselamatan gadis itu. Untuk itu ia akan ikut Jevan membereskan urusan urusannya di Amerika.
Dua jam setelah mendapat kabar akan hal yang menimpa Nabila, Jevan memberitahu akan menjemput dan membawa Nabila di Bandara ketika sudah sampai nanti, pasalnya, bukan ia tak berniat menjemput ke Indonesia, namun karena tiket pesawat tak bisa dipesan se mendadak itu, alhasil hanya hal tersebutlah yang bisa ia lakukan. Yang terpenting Nabila ada bersamanya, karena memang tanggung jawabnya.
Seluruh barang barang sudah disiapkan, hanya tinggal menunggu flight dua jam kedepan. Saat sudah hendak memasuki mobil, Nabila menoleh kearah Roy yang berdiri mengamatinya dengan wajah penuh kekecewaan. Ia pun berlari ke arah sang ayah dengan tak sanggup membendung air matanya.
" Papaah.. maafin Nabil, Papa kecewa ya sama Nabil ? Maaf Paah, Nabil gak dengerin omongan Papa. Paa, Nabil nyesel udah ngelakuin ini semua paah. Maafin Nabil Paah." Nabila hanyut kedalam pelukan hangat Roy yang dimana ia juga tak sanggup menahan tangisnya.
Perlahan tangannya terangkat untuk mengusap ujung kepala putrinya, " sudah. Berangkatlah, Jevan pasti udah nungguin. Papa harap, kamu gak berbuat sesuatu lagi disana. Jaga dirimu baik baik, ikuti apa kata Jevan, dia suamimu." Roy dengan perlahan melepas pelukan antara ia dan putrinya.
" PAPAA, MAAFIN NABIL!" Nabila melambaikan tangannya sembari mobil perlahan berjalan.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Di tempat yang sudah dilalu lalangi banyaknya orang itu, Nabila berjalan ditemani dengan Yuna dan Devan yang mengantarkannya ke Bandara hingga take off nanti. Sembari menunggu boarding, Yuna terus menyemangati Nabila dengan beberapa wejangan wejangan khas ibu dan anak.
" Kamu jangan takut ya sayang, Mama udah minta Jevan buat stay di Bandara. Jadi waktu kamu landing nanti, dia udah ada disana." Yuna mencium kening Nabila lalu mengusap punggung gadis itu dengan gerakan naik turun.
Kehangatan yang diberikan Yuna sangat dirasakan oleh Nabila, terlebih sudah 16 tahun ia tak merasakan rasanya kasih seorang ibu karena mamanya yang sudah lama meninggal.
Tak terasa sudah saatnya para penumpang memasuki pesawat, disaat itu juga tangisnya pecah, ia memeluk Yuna dan mencium punggung tangan wanita itu dan tak lupa berpamitan dengan abang iparnya.
Satu langkah ia jalani dengan membawa koper berwarna abu abu mudanya. Rasa sesak di dada begitu menyayat, setiap langkah demi langkah yang ia jalani begitu sangat menyakitkan. Entah apa yang sudah direncanakan Tuhan untuknya.
Sembari memilin ujung hijabnya, ia merasakan hawa dingin melekat di telapak tangannya. Sesaat kemudian menatap setiap inci luka luka lebam yang berada di tubuhnya akibat kejadian menyakitkan kala itu.
" Hiks.. tolong sudahi semua ini Ya Allah..."
Nabila melihat jendela yang hanya memperlihatkan awan putih saja. Rasanya, sudah lama sekali ia tak melihat pemandangan itu. Walau saat ini tujuannya karena menghindar dari masalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chinese Descent
Novela Juvenil................................................................. WARNING‼️ PASTIKAN MEMBACA BARU MENILAI‼️ NO PLAGIAT PLAGIAT CLUB
