[ 5 ]

26 3 0
                                        

HAPPY READING !

******
Pukul 2 dini hari, Jevan memasuki kamarnya untuk mengambil bantal dan selimut untuknya tidur. Niatnya teralihkan dengan yang sedang tidur pulas di kasurnya itu, bak sang pemilik kamar dan pemilik dunia. Ia menggelengkan kepala saat mendapati seluruh barang barang di kamar itu sudah acak acakan.

Sepertinya kamarnya itu sedang dihuni oleh monster. Tak begairah dengan kondisi kamarnya, Jevan pun memutuskan untuk keluar dan sebelum itu mengambil charger di atas nakas sebelah kasur. Pandangannya teralihkan dengan keadaan luka lebam di lengan dan pergelangan tangan Nabila.

Sialan

Sejak kecil, Jevan sangat membenci apapun miliknya tergores apalagi itu adalah perbuatan orang. Sekalipun memang harus, dialah orangnya.

Perasaan perih dan rugi se rugi ruginya, itulah yang ia rasakan saat ini. " Lo pinter, sangking pinternya sampe gak tau arah." Jevan membenahi posisi tidur Nabila yang malang melintang.

Perlahan ia membereskan barang barang di kamar terutama kasur, di lanjut membuka hijab Nabila lalu mengambil kotak p3k. Dengan ketelatenannya, Jevan mengobati luka luka di area tangan dan kepala Nabila, tak lupa membersihkan wajah gadis itu dengan tisu.

Di tutup dengan mematikan lampu dan menghidupkan AC, Jevan meninggalkan tumbler berisikan air putih hangat di atas nakas, lalu pergi.

*****
Jevan memasuki sebuah tempat billiard tak jauh dari apartement. Disana sudah ada satu temannya, Mahesa. Orang asli Indo yang sudah menjadi teman Jevan sejak SMP, sampai pada akhirnya mereka pun sama sama melanjutkan study di New York. Tidak tidak, tadinya Mahesa di Barcelona, namun karena pemasukannya lebih banyak di Ney York, jadilah ia ikut bersama dua sahabatnya itu.

" Woi, je. Baru muncul lo ?" Mahesa melambaikan tangannya saat Jevan sudah tiba dengan meneguk kopi kemasannya.

Jevan melihat sekitar, begitu banyaknya orang di tempat itu, ia tak mendapati Dimas. " Tuh anak mana ?"

" Biasalaah..." Sahut Mahesa sembari memunjukkan bahasa isyarat pada Jevan. Yang dimaksud biasalah adalah kebiasaan Dimas yang suka bermain jalang. Sudah tak asing lagi jika lelaki itu suka seperti itu.

" Lo abis darimana ?" Mahesa mengikuti langkah Jevan yang sedang mengambil tongkat billiard.

" Apart," Jevan menatap lurus pada poros yang ingin ia mainkan.

" Owh. Lo abis ngurusin... " Mahesa menggantung ucapannya, " Your Wife."

Jevan mengangguk. Memang sahabatnya itu mengetahui tentang problematik yang sedang di alami oleh Nabila saat ini.

" Kenapa gak lo bawa kesini ?"

" Buat apaan ?"

" Yaelah, kenalin ke kita kita dong."

" Dia terlalu problematik buat ketemu si begundal. Next time aja."

" Se limited edition itu ?"

Jevan mengangguk, " maybe." Setelahnya ia mengedikkan bahu.

Mahesa merogoh sakunya lalu mengeluarkan rokok dari sana, " tapi Je, setelah dipikir pikir, your wife ciri cirinya kayak gak asing."

" Emang gua pernah nyebutin ciri cirinya ama lo ?" Alisnya terangkat satu. Ia masih asik dengan billiard nya.

" Yaa dari cara lo ngetread dia gimana dan ciri spesifiknya aja sih. Dan gua ngerasa dia gak asing." Mahesa beralih mengambil segelas minuman. " Emang gua ngetread dia gimana ?"

" Yaa... Sekelas elo yang kayak gini mau nerima cewek asing buat jadi istri lo. Berarti tuh cewek special." Kata Mahesa seraya berjalan menuju meja billiard.

Chinese DescentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang