[ 15 ]

14 2 0
                                        

*********
" Ck! mobilmu sebenernya yang mana sih, Je ?!" gerutu Nabilah kala kewalahan melihat begitu banyaknya mobil di parkiran mall.

Bim! Bim!

Tanpa menghiraukan ucapan Nabilah, Jevan hanya berjalan menuju mobilnya sembari menekan remot yang mengakibatkan mobilnya berbunyi. lantas Nabilah langsung mengikuti langkah Jevan, tanpa berucap apapun, pasalnya ia sudah kelelahan dan tak begitu menyadari bahwa adanya kelainan terhadap kendaraan yang dimiliki suaminya itu.

Sepanjang perjalanan, tak ada pembicaraan sama sekali, malahan Nabilah mulai melemas karena kehabisan energi setelah berkeliling mall sedari tadi. hingga akhirnya dia tertidur.

Jevan melirik sekilas, lalu menghentikan mobilnya ke pinggir sebuah trotoar dan membenahi posisi tidur Nabilah lalu mengusap kening gadis itu.

" Sayang banget, malem ini, gue belum terlalu siap nunjukin sisi lain dari hidup gue. semoga aja, suatu saat nanti, bisa. gue akan tunggu, sampe lo jadi milik gue seutuhnya, bukan cuma sekedar status aja." batin Jevan sembari tersenyum tipis, sangat tipis hingga nyaris tak terlihat.

**

Malam hari, ba'da isya, Nabilah kini tengah dilanda gunda gulana, ia bingung, Sheila sudah mengabarinya akan menjemputnya setelah ini, namun ia bingung bagaimana caranya ia pergi dan izin kepada Jevan. jika ia jujur, pastilah Jevan tidak akan mengizinkannya, dan kemungkinan lain adalah, Jevan akan ikut, dan ia tidak ingin hal itu terjadi.

Jevan masuk, ia mengernyit melihat keadaan Nabilah yang mondar mandir di balkon sembari memegangi handphone nya.

" Lo ngapain ?" tanyanya.
" tumben diluar, biasanyaa ..."

Nabilah menoleh, sepersekian detik kemudian ia mengernyit melihat penampilan Jevan. ia tampak berbeda, outfitnya serba hitam, tidak seperti seorang pria dewasa pada umumnya, ia memakai celana jeans berwarna hitam, kaus oblong yang senada serta jaket kulit hitam dan topi hitam pula.

" Kamu mau kemana ? kok ..."
" kayak tukang pukul." lanjutnya sembari menutup lisan.

Jevan tersenyum miring, " kenapa ? terpesona ? baru tau gue ganteng ?"

" idih, kayak tukang pukul aku bilang juga!" sambar Nabilah.

" Gue ada urusan bentar, lo disini aja, kalo ada apa apa cepetan telpon gue, pintu rumah kunci aja siapa tau ntar ketiduran, jangan tidur larut malem, gue udah goofood in makanan dibawah terserah mau apapun ada. inget! kalau ada yang dateng mau siapapun itu nggak usah dibukain. ngerti ?" pesan Jevan sembari meraih arlojinya dan memasangkannya di pergelangan tangan kirinya.

Nabilah mengernyit, ia merasa Jevan berbeda hari ini, dan sepertinya lelaki itu akan pergi lama. tega sekali. tetapi, dibalik itu ia merasa lega, karena jika Jevan pergi, ia akan memiliki kesempatan untuk pergi mencari Chaca bersama Sheila malam ini, dan pastinya ia akan pulang sebelum Jevan pulang.

" Kamu, perginya lama ?" tanya Nabilah.

Jevan terdiam, " kenapa ?"

" E-enggak, cuma nanya ajaa ..."

" Kalo takut, biar gue bat-"

" Eh nggak!! kamu jadi pergi aja, aku fine kok! beneran! dulu juga sering ditinggalin sama papa kok."

" Ooh, okeh."

Chinese DescentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang