[ 9 ]

19 3 1
                                        

********
" Iya Shei, aku nggak nyangka banget papa bisa se arogan itu."

" ........."

" Spontan banget itu Shei aku meluk dia, dan waangiii banget."

" ......."

"  Ya nggak lah, kamu mah aneh ih."

" ........"

" Besok deh kayanya bisa, Shei."

Nabilah menutup telponnya dengan Sheila, saat itu ia tengah berkutat di dapur sedari subuh tadi, karena dua orang lelaki itu tengah jogging pagi sehabis subuh tadi, cepat cepat ia melakukan semua perkerjaannya itu dengan ditemani oleh Sheila lewat telpon.

Ini sudah beberapa minggu menjelang seminar dan bab terakhir skripsinya belum rampung. planningnya hari ini adalah dirumah saja mengurus skripsi setelah itu ia mengurus semua berkas untuk wisudanya.

Tumis tahu, oseng kentang balado, dan tumis genjer kacang hijau sudah selesai ia hidangkan, ia menatap lekat semua menu makanan di atas meja makan, senyuman terukir di bibirnya membayangkan betapa senang Roy memakan masakan putrinya itu, terlebih semua menu itu adalah menu kesukaan Roy.

Nabilah melepas apron lalu bergegas ke kamar untuk berbenah diri, ini sudah setengah delapan pagi, ia ingin membereskan barang barangnya untuk dibawa kerumah baru. ya, ia perlahan mulai menerima semua kenyataan itu, mau memilih tinggal disana pun untuk apa ? Untuk memandangi wajah dingin Roy setiap pagi ?

" Bawa seperlunya aja deh, sebagian bajuku juga ada di koper belum dikeluarin. yang paling penting aja." Ujar Nabilah kala memasukkan Laptop, berkas berkas, CV, beberapa skincare dan bodycare, dan tak lupa foto almarhumah ibunya.

" Habis ini kamu ada agenda apa, Je ?" tanya Roy kala mereka sudah sampai di ambang pintu.

" Mau cek progress pengembangan sistem kantor, Pa, sekalian meeting sama kolega."

Roy tersenyum bangga pada menantunya itu, " ini, ini yang bikin papa mantap dengan kamu, Jevan, mau se capek apapun kamu, kamu tetap siap siaga, dan ... sabar sabar ngadepin Nabilah, ya."

Jevan tersenyum, " aku hanya berusaha semampuku aja, Pa."

Jevan dan Roy berjalan berdampingan masuk kedalam rumah, Jevan mengarah ke wastafel dekat kamar mandi untuk mencuci tangan dan membasuh wajah, sedangkan Roy meneguk segelas air putih.

Ia melihat sudah banyak hidangan sarapan diatas meja makan. " Mari sarapan, Je. Ratu  elisabeth itu sudah masak ternyata, kamu harus makan masakan dia."

Jevan terkekeh kecil dan mengangguk, ia menarik kursi yang berada di hadapan Roy dan mereka makan bersama. memang, masakan Nabilah memang enak, ini fun fact yang baru ia tau.

Tidak ada percakapan antara mereka, hanya ada suara piring dan sendok yang berkutat. setelah sarapan, mereka berpisah ke kamar masing masing, Jevan masuk ke kaamr Nabilah, sedangkan Roy masuk ke kamarnya.

Ceklek.

Jevan masuk dan menutup pintu, kamar itu ternyata tengah diputarkan sebuah musik dan cahaya penerangan sudah masuk dari balkon, pintu balkon telah dibuka. wangi semerbak body serum sang pemilik pun menyebar ke seluruh kamar. tampak Nabilah keluar dari wardrobe dengan pakaian rapih, sweeter dan rok berwarna pink soft dan pashmina yang senada.

" Je, aku ikut kamu pulang." Ujar Nabilah kala berjalan menuju tas ransel berisikan barang barang pentingnya dan beberapa baju.

Jevan mengernyit, " gue gapapa kalo lo masih mau tinggal disini, gue nggak maksa lo tinggal sama gue dirumah baru."

Chinese DescentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang